<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gubernur BI Ungkap Alasan Masih Terbatasnya Aliran Modal Asing ke RI</title><description>Perry Warjiyo menyatakan bahwa perekonomian global berisiko tumbuh lebih rendah dari prakiraan sebelumnya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/08/23/320/2652959/gubernur-bi-ungkap-alasan-masih-terbatasnya-aliran-modal-asing-ke-ri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/08/23/320/2652959/gubernur-bi-ungkap-alasan-masih-terbatasnya-aliran-modal-asing-ke-ri"/><item><title>Gubernur BI Ungkap Alasan Masih Terbatasnya Aliran Modal Asing ke RI</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/08/23/320/2652959/gubernur-bi-ungkap-alasan-masih-terbatasnya-aliran-modal-asing-ke-ri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/08/23/320/2652959/gubernur-bi-ungkap-alasan-masih-terbatasnya-aliran-modal-asing-ke-ri</guid><pubDate>Selasa 23 Agustus 2022 16:07 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/08/23/320/2652959/gubernur-bi-ungkap-alasan-masih-terbatasnya-aliran-modal-asing-ke-ri-dHbzRRtaYf.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bank Indonesia (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/08/23/320/2652959/gubernur-bi-ungkap-alasan-masih-terbatasnya-aliran-modal-asing-ke-ri-dHbzRRtaYf.jpg</image><title>Bank Indonesia (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan bahwa perekonomian global berisiko tumbuh lebih rendah dari prakiraan sebelumnya, disertai dengan peningkatan risiko stagflasi dan masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan.
Pertumbuhan ekonomi berbagai negara, seperti Amerika Serikat (AS) dan China, berisiko lebih rendah dari proyeksi sebelumnya, disertai dengan meningkatnya risiko stagflasi di berbagai negara dan bahkan resesi di sejumlah negara maju sebagai dampak dari pengetatan kebijakan moneter yang agresif.
BACA JUGA:Akhirnya! BI Naikkan Suku Bunga Jadi 3,75%

&quot;Berbagai indikator di Juli 2022 mengindikasikan berlangsungnya perlambatan konsumsi dan kinerja manufaktur di AS, Eropa, dan China,&quot; ungkap Perry di Jakarta, Selasa(23/8/2022).
Sementara itu, tekanan inflasi global masih tinggi seiring dengan ketegangan geopolitik dan kebijakan proteksionisme yang masih berlangsung, serta perbaikan gangguan rantai pasokan yang masih terbatas. Volume perdagangan dunia juga diprakirakan lebih rendah dari prakiraan seiring dengan perlambatan ekonomi global.
BACA JUGA:Rupiah Melemah 4,2% tapi Lebih Perkasa dari Rupee hingga Baht

Sejalan dengan perkembangan tersebut, ketidakpastian pasar keuangan global tetap tinggi, di tengah masih berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter di berbagai negara, termasuk AS meskipun tidak seagresif dari prakiraan awal.&quot;Hal ini mengakibatkan masih terbatasnya aliran modal asing dan menekan nilai tukar di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia,&quot; tandas Perry.</description><content:encoded>JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan bahwa perekonomian global berisiko tumbuh lebih rendah dari prakiraan sebelumnya, disertai dengan peningkatan risiko stagflasi dan masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan.
Pertumbuhan ekonomi berbagai negara, seperti Amerika Serikat (AS) dan China, berisiko lebih rendah dari proyeksi sebelumnya, disertai dengan meningkatnya risiko stagflasi di berbagai negara dan bahkan resesi di sejumlah negara maju sebagai dampak dari pengetatan kebijakan moneter yang agresif.
BACA JUGA:Akhirnya! BI Naikkan Suku Bunga Jadi 3,75%

&quot;Berbagai indikator di Juli 2022 mengindikasikan berlangsungnya perlambatan konsumsi dan kinerja manufaktur di AS, Eropa, dan China,&quot; ungkap Perry di Jakarta, Selasa(23/8/2022).
Sementara itu, tekanan inflasi global masih tinggi seiring dengan ketegangan geopolitik dan kebijakan proteksionisme yang masih berlangsung, serta perbaikan gangguan rantai pasokan yang masih terbatas. Volume perdagangan dunia juga diprakirakan lebih rendah dari prakiraan seiring dengan perlambatan ekonomi global.
BACA JUGA:Rupiah Melemah 4,2% tapi Lebih Perkasa dari Rupee hingga Baht

Sejalan dengan perkembangan tersebut, ketidakpastian pasar keuangan global tetap tinggi, di tengah masih berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter di berbagai negara, termasuk AS meskipun tidak seagresif dari prakiraan awal.&quot;Hal ini mengakibatkan masih terbatasnya aliran modal asing dan menekan nilai tukar di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia,&quot; tandas Perry.</content:encoded></item></channel></rss>
