<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Anggota DPR: Saat Minyak Dunia Turun Kok Harga BBM Enggak Turun Pak?</title><description>Anggota Komisi VI DPR RI Rieke Diah Pitaloka keberatan jika harga BBM subsidi dinaikkan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/08/25/320/2654174/anggota-dpr-saat-minyak-dunia-turun-kok-harga-bbm-enggak-turun-pak</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/08/25/320/2654174/anggota-dpr-saat-minyak-dunia-turun-kok-harga-bbm-enggak-turun-pak"/><item><title>Anggota DPR: Saat Minyak Dunia Turun Kok Harga BBM Enggak Turun Pak?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/08/25/320/2654174/anggota-dpr-saat-minyak-dunia-turun-kok-harga-bbm-enggak-turun-pak</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/08/25/320/2654174/anggota-dpr-saat-minyak-dunia-turun-kok-harga-bbm-enggak-turun-pak</guid><pubDate>Kamis 25 Agustus 2022 11:29 WIB</pubDate><dc:creator>Rizky Fauzan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/08/25/320/2654174/anggota-dpr-saat-minyak-dunia-turun-kok-harga-bbm-enggak-turun-pak-hSr7AWD0rC.jpg" expression="full" type="image/jpeg">DPR pertanyakan harga BBM tidak turun saat harga minyak dunia turun (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/08/25/320/2654174/anggota-dpr-saat-minyak-dunia-turun-kok-harga-bbm-enggak-turun-pak-hSr7AWD0rC.jpg</image><title>DPR pertanyakan harga BBM tidak turun saat harga minyak dunia turun (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR RI Rieke Diah Pitaloka keberatan jika harga BBM subsidi dinaikkan. Dia mempertanyakan alasan pemerintah membuka peluang kenaikan harga BBM karena tingginya harga acuan minyak dunia.
&quot;Alasannya dari tahun ke tahun sama saja, karena minyak dunia naik. Tapi ketika harga minyak dunia turun, kok harga BBM enggak turun ya, Pak?&quot; kata Rieke dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi VI DPR bersama Menteri BUMN di Senayan, Jakarta, ditulis Kamis (25/8/2022).
BACA JUGA:Banyak Oknum Selewengkan BBM Subsidi, BPH Migas Bakal Tindak Tegas!

Dia meminta penjelasan kepada Menteri BUMN Erick Thohir terkait perhitungan kenaikan harga BBM dan utang-utang pemerintah kepada PT Pertamina (Persero) serta PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk subsidi dan kompensasi energi.
Di sisi lain, dia juga mendorong Kementerian BUMN untuk membuka data siapa saja penerima BBM bersubsidi tersebut.
BACA JUGA:Penyaluran BBM Subsidi Pakai Data Orang Miskin, Menteri ESDM: Tepat Sasaran

Politikus PDIP itu menyarankan pemerintah untuk lebih dulu memperbaiki data penerima BBM bersubsidi sebelum mengambil kebijakan tentang bahan bakar. Ia mengatakan seharusnya pemerintah berfokus menyalurkan BBM bersubsidi kepada penerima yang tepat sasaran alih-alih langsung menaikkan harga bensin.
&quot;Jadi data penerima subsidi harus akurat dan tepat sasaran. Ketika data subsidi BBM belum transparan disampaikan dan subsidi BBM dari APBN naik terus, saya menolak kenaikan harga BBM,&quot; ucap Rieke.Sebagaimana diketahui, Pemerintah masih menggodok opsi kebijakan  untuk mengatasi persoalan BBM karena naiknya harga minyak dunia dan  tingginya konsumsi bahan bakar. Alokasi volume subsidi BBM jenis  Pertalite dan Solar diperkirakan membengkak dari 23 juta kiloliter  menjadi 29 juta kiloliter sampai akhir tahun.
Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya  menjelaskan, dalam berbagai kesempatan, Presiden Joko Widodo alias  Jokowi meminta Kemenkeu menghitung kecukupan anggaran subsidi energi,  terutama untuk Pertalite dan Solar. Hasil kalkulasi menunjukkan anggaran  subsidi berpotensi bertambah Rp198 triliun dari Rp502 triliun menjadi  hampir Rp700 triliun.
&quot;Nambah, kalau kita tidak menaikkan (harga) BBM, kalau tidak  dilakukan apa-apa, tidak ada pembatasan, tidak ada apa-apa, maka  (subsidi energi) Rp502 triliun enggak akan cukup,&quot; kata Sri Mulyani.
Selain mengerek harga BBM, sejatinya pemerintah memiliki opsi  lainnya. Opsi kedua adalah membatasi konsumsi Pertalite dan opsi ketiga  menambah anggaran. Namun, Sri Mulyani mengatakan jika opsi terakhir  dipilih, kebijakan tersebut akan berisiko terhadap ketahanan fiskal.</description><content:encoded>JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR RI Rieke Diah Pitaloka keberatan jika harga BBM subsidi dinaikkan. Dia mempertanyakan alasan pemerintah membuka peluang kenaikan harga BBM karena tingginya harga acuan minyak dunia.
&quot;Alasannya dari tahun ke tahun sama saja, karena minyak dunia naik. Tapi ketika harga minyak dunia turun, kok harga BBM enggak turun ya, Pak?&quot; kata Rieke dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi VI DPR bersama Menteri BUMN di Senayan, Jakarta, ditulis Kamis (25/8/2022).
BACA JUGA:Banyak Oknum Selewengkan BBM Subsidi, BPH Migas Bakal Tindak Tegas!

Dia meminta penjelasan kepada Menteri BUMN Erick Thohir terkait perhitungan kenaikan harga BBM dan utang-utang pemerintah kepada PT Pertamina (Persero) serta PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk subsidi dan kompensasi energi.
Di sisi lain, dia juga mendorong Kementerian BUMN untuk membuka data siapa saja penerima BBM bersubsidi tersebut.
BACA JUGA:Penyaluran BBM Subsidi Pakai Data Orang Miskin, Menteri ESDM: Tepat Sasaran

Politikus PDIP itu menyarankan pemerintah untuk lebih dulu memperbaiki data penerima BBM bersubsidi sebelum mengambil kebijakan tentang bahan bakar. Ia mengatakan seharusnya pemerintah berfokus menyalurkan BBM bersubsidi kepada penerima yang tepat sasaran alih-alih langsung menaikkan harga bensin.
&quot;Jadi data penerima subsidi harus akurat dan tepat sasaran. Ketika data subsidi BBM belum transparan disampaikan dan subsidi BBM dari APBN naik terus, saya menolak kenaikan harga BBM,&quot; ucap Rieke.Sebagaimana diketahui, Pemerintah masih menggodok opsi kebijakan  untuk mengatasi persoalan BBM karena naiknya harga minyak dunia dan  tingginya konsumsi bahan bakar. Alokasi volume subsidi BBM jenis  Pertalite dan Solar diperkirakan membengkak dari 23 juta kiloliter  menjadi 29 juta kiloliter sampai akhir tahun.
Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya  menjelaskan, dalam berbagai kesempatan, Presiden Joko Widodo alias  Jokowi meminta Kemenkeu menghitung kecukupan anggaran subsidi energi,  terutama untuk Pertalite dan Solar. Hasil kalkulasi menunjukkan anggaran  subsidi berpotensi bertambah Rp198 triliun dari Rp502 triliun menjadi  hampir Rp700 triliun.
&quot;Nambah, kalau kita tidak menaikkan (harga) BBM, kalau tidak  dilakukan apa-apa, tidak ada pembatasan, tidak ada apa-apa, maka  (subsidi energi) Rp502 triliun enggak akan cukup,&quot; kata Sri Mulyani.
Selain mengerek harga BBM, sejatinya pemerintah memiliki opsi  lainnya. Opsi kedua adalah membatasi konsumsi Pertalite dan opsi ketiga  menambah anggaran. Namun, Sri Mulyani mengatakan jika opsi terakhir  dipilih, kebijakan tersebut akan berisiko terhadap ketahanan fiskal.</content:encoded></item></channel></rss>
