<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dari Untung, Widodo Makmur (WMPP) Rugi Rp3 Miliar di Semester I-2022</title><description>PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP) mencatat rugi bersih sebesar Rp3,016 miliar atau memburuk pada semester I-2022.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/08/29/278/2656587/dari-untung-widodo-makmur-wmpp-rugi-rp3-miliar-di-semester-i-2022</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/08/29/278/2656587/dari-untung-widodo-makmur-wmpp-rugi-rp3-miliar-di-semester-i-2022"/><item><title>Dari Untung, Widodo Makmur (WMPP) Rugi Rp3 Miliar di Semester I-2022</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/08/29/278/2656587/dari-untung-widodo-makmur-wmpp-rugi-rp3-miliar-di-semester-i-2022</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/08/29/278/2656587/dari-untung-widodo-makmur-wmpp-rugi-rp3-miliar-di-semester-i-2022</guid><pubDate>Senin 29 Agustus 2022 12:51 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Harian Neraca</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/08/29/278/2656587/dari-untung-widodo-makmur-wmpp-rugi-rp3-miliar-di-semester-i-2022-irJBaCkyZH.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi saham. (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/08/29/278/2656587/dari-untung-widodo-makmur-wmpp-rugi-rp3-miliar-di-semester-i-2022-irJBaCkyZH.JPG</image><title>Ilustrasi saham. (Foto: Freepik)</title></images><description>JAKARTA - PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP) mencatat rugi bersih sebesar Rp3,016 miliar atau memburuk pada semester I-2022, dibandingkan semester I- 2021 yang membukukan laba bersih sebesar Rp100,25 miliar.

Dikutip Harian Neraca, perseroan harus mencatatkan rugi per saham dasar Rp0,1, sedangkan di akhir Juni 2021 masih menorehkan laba per saham dasar Rp9,55.

Adapun perseroan juga mencatatkan penjualan merosot 19,62% menjadi Rp2,175 triliun karena penjualan sapi turun 48,5% menjadi Rp435,51 miliar. Disebutkan, penjualan daging dan daging olahan merosot 20,7% menjadi Rp282,4 miliar. Lalu, penjualan beras menyusut 33,03% menjadi Rp75,596 miliar. Kemudian penjualan karkas tumbuh 0,7% menjadi Rp1,218 triliun.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Proses Buyback Saham BRI (BBRI) Rp3 Triliun hingga Agustus 2023
Kemudian, penjualan kulit naik 159% menjadi Rp32,076 miliar. Walau perseroan dapat menekan beban pokok penjualan sedalam 18,7% menjadi Rp1,886 triliun, tapi laba kotor tetap melorot 19,74% menjadi Rp309,41 miliar.

Kian tertekan, beban umum dan administrasi membengkak 13% menjadi Rp139,18 miliar.
Lalu, beban lain-lain naik 38,04% menjadi Rp127, 21 miliar. Dampaknya, laba sebelum pajak penghasilan amblas 74,3% yang tersisa Rp42,608 miliar. Sementara itu, utang bank jangka pendek bertambah 50,9% dibanding akhir tahun 2021 menjadi Rp830,41 miliar. Dampaknya, kewajiban membengkak 14,96 persen menjadi Rp3,725 triliun. Sehingga aset tumbuh 8,8% menjadi Rp6,156 triliun.

Untuk tahun ini, perseroan menargetkan pendapatan sebesar Rp 7,1 triliun. Target pendapatan ini tumbuh 14% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 6,23 triliun. Selain itu, perseroan akan meningkatkan kapasitas produksi.

CEO Widodo Makmur Perkasa, Tumiyana mengatakan perseroan sebetulnya sudah memiliki perencanaan jangka panjang untuk memastikan kesiapan produksi hingga tahun 2025, namun baru tahun 2022 WMPP sudah mengalami shortage food. Oleh karena itu, disampaikannya, apa yang akan dilakukan perseroan adalah membangun fasilitas untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Dia juga memastikan belanja modal atau capex telah disiapkan sekitar Rp1,2 triliun untuk tahun ini.

Hingga tahun 2025, dengan asumsi rata-rata capex dialokasikan Rp1,2 triliun per tahun maka diproyeksikan produksi dapat terus meningkat.</description><content:encoded>JAKARTA - PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP) mencatat rugi bersih sebesar Rp3,016 miliar atau memburuk pada semester I-2022, dibandingkan semester I- 2021 yang membukukan laba bersih sebesar Rp100,25 miliar.

Dikutip Harian Neraca, perseroan harus mencatatkan rugi per saham dasar Rp0,1, sedangkan di akhir Juni 2021 masih menorehkan laba per saham dasar Rp9,55.

Adapun perseroan juga mencatatkan penjualan merosot 19,62% menjadi Rp2,175 triliun karena penjualan sapi turun 48,5% menjadi Rp435,51 miliar. Disebutkan, penjualan daging dan daging olahan merosot 20,7% menjadi Rp282,4 miliar. Lalu, penjualan beras menyusut 33,03% menjadi Rp75,596 miliar. Kemudian penjualan karkas tumbuh 0,7% menjadi Rp1,218 triliun.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Proses Buyback Saham BRI (BBRI) Rp3 Triliun hingga Agustus 2023
Kemudian, penjualan kulit naik 159% menjadi Rp32,076 miliar. Walau perseroan dapat menekan beban pokok penjualan sedalam 18,7% menjadi Rp1,886 triliun, tapi laba kotor tetap melorot 19,74% menjadi Rp309,41 miliar.

Kian tertekan, beban umum dan administrasi membengkak 13% menjadi Rp139,18 miliar.
Lalu, beban lain-lain naik 38,04% menjadi Rp127, 21 miliar. Dampaknya, laba sebelum pajak penghasilan amblas 74,3% yang tersisa Rp42,608 miliar. Sementara itu, utang bank jangka pendek bertambah 50,9% dibanding akhir tahun 2021 menjadi Rp830,41 miliar. Dampaknya, kewajiban membengkak 14,96 persen menjadi Rp3,725 triliun. Sehingga aset tumbuh 8,8% menjadi Rp6,156 triliun.

Untuk tahun ini, perseroan menargetkan pendapatan sebesar Rp 7,1 triliun. Target pendapatan ini tumbuh 14% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 6,23 triliun. Selain itu, perseroan akan meningkatkan kapasitas produksi.

CEO Widodo Makmur Perkasa, Tumiyana mengatakan perseroan sebetulnya sudah memiliki perencanaan jangka panjang untuk memastikan kesiapan produksi hingga tahun 2025, namun baru tahun 2022 WMPP sudah mengalami shortage food. Oleh karena itu, disampaikannya, apa yang akan dilakukan perseroan adalah membangun fasilitas untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Dia juga memastikan belanja modal atau capex telah disiapkan sekitar Rp1,2 triliun untuk tahun ini.

Hingga tahun 2025, dengan asumsi rata-rata capex dialokasikan Rp1,2 triliun per tahun maka diproyeksikan produksi dapat terus meningkat.</content:encoded></item></channel></rss>
