<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Minyak Landai, Inflasi Korsel Turun Jadi 5,7% di Agustus 2022</title><description>Harga minyak yang melandai memicu penurunan inflasi di Korea Selatan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/02/320/2659440/harga-minyak-landai-inflasi-korsel-turun-jadi-5-7-di-agustus-2022</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/09/02/320/2659440/harga-minyak-landai-inflasi-korsel-turun-jadi-5-7-di-agustus-2022"/><item><title>Harga Minyak Landai, Inflasi Korsel Turun Jadi 5,7% di Agustus 2022</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/02/320/2659440/harga-minyak-landai-inflasi-korsel-turun-jadi-5-7-di-agustus-2022</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/09/02/320/2659440/harga-minyak-landai-inflasi-korsel-turun-jadi-5-7-di-agustus-2022</guid><pubDate>Jum'at 02 September 2022 11:30 WIB</pubDate><dc:creator>Cahya Puteri Abdi Rabbi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/09/02/320/2659440/harga-minyak-landai-inflasi-korsel-turun-jadi-5-7-di-agustus-2022-Fwcqk9tZjH.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Harga minyak picu penurunan inflasi Korsel (Foto:Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/09/02/320/2659440/harga-minyak-landai-inflasi-korsel-turun-jadi-5-7-di-agustus-2022-Fwcqk9tZjH.jpg</image><title>Harga minyak picu penurunan inflasi Korsel (Foto:Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Harga minyak yang melandai memicu penurunan inflasi di Korea Selatan. Inflasi Korea Selatan mengalami pelambatan di bulan Agustus 2022.
Melansir Bloomberg, Jumat (2/8/2022), tingkat inflasi Korsel tercatat sebesar 5,7% pada bulan lalu, turun dari tingkat inflasi pada Juli yang mencapai 6,3%.
BACA JUGA:Menko Airlangga Minta Kepala Daerah Turunkan Inflasi hingga di Bawah 5%

Penurunan yang terjadi lebih rendah dari yang diproyeksikan para ekonom yakni sebesar 6,1%. Adapun, penurunan yang terjadi merupakan yang pertama kalinya sejak akhir 2020.
Melambatnya kenaikan inflasi mengurangi tekanan kepada bank sentral Korsel atau Bank of Korea (BOK) untuk menaikkan tingkat suku bunga.
BACA JUGA:Gelar Rakortas, Menko Airlangga Ungkap Rekomendasi Upaya Pengendalian Inflasi di Daerah

Meski turun, tekanan harga di negeri ginseng tersebut masih signifikan. Hal itu membuat bank sentral masih tetap waspada dan menyiapkan langkah pengendalian inflasi, karena tingkat inflasi masih jauh di bawah target BOK yakni sebesar 2%.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOC8yMi80LzE1MjI1MC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;ldquo;Turunnya inflasi didorong oleh melandainya harga minyak dan  pemotongan pajak bahan bakar. Namun, inflasi tetap tinggi dan pemerintah  akan tetap waspada terhadap tekanan harga,&amp;rdquo; kata Kementerian Keuangan  Korea Selaatan dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Bloomberg.
Tekanan harga di sektor bahan makanan diperkirakan masih akan membuat  tingkat inflasi di Korsel bertahan pada level 5% hingga 6% untuk waktu  yang lama.
Sebagaimana diketahui, pada Juli lalu tingkat inflasi di Korsel  mencapai 6,3%, angka itu merupakan yang tertinggi dalam hampir 24 tahun  terakhir. Demi mengendalikan inflasi, BOK pun menaikkan suku bunga  sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 2,50%.</description><content:encoded>JAKARTA - Harga minyak yang melandai memicu penurunan inflasi di Korea Selatan. Inflasi Korea Selatan mengalami pelambatan di bulan Agustus 2022.
Melansir Bloomberg, Jumat (2/8/2022), tingkat inflasi Korsel tercatat sebesar 5,7% pada bulan lalu, turun dari tingkat inflasi pada Juli yang mencapai 6,3%.
BACA JUGA:Menko Airlangga Minta Kepala Daerah Turunkan Inflasi hingga di Bawah 5%

Penurunan yang terjadi lebih rendah dari yang diproyeksikan para ekonom yakni sebesar 6,1%. Adapun, penurunan yang terjadi merupakan yang pertama kalinya sejak akhir 2020.
Melambatnya kenaikan inflasi mengurangi tekanan kepada bank sentral Korsel atau Bank of Korea (BOK) untuk menaikkan tingkat suku bunga.
BACA JUGA:Gelar Rakortas, Menko Airlangga Ungkap Rekomendasi Upaya Pengendalian Inflasi di Daerah

Meski turun, tekanan harga di negeri ginseng tersebut masih signifikan. Hal itu membuat bank sentral masih tetap waspada dan menyiapkan langkah pengendalian inflasi, karena tingkat inflasi masih jauh di bawah target BOK yakni sebesar 2%.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOC8yMi80LzE1MjI1MC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;ldquo;Turunnya inflasi didorong oleh melandainya harga minyak dan  pemotongan pajak bahan bakar. Namun, inflasi tetap tinggi dan pemerintah  akan tetap waspada terhadap tekanan harga,&amp;rdquo; kata Kementerian Keuangan  Korea Selaatan dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Bloomberg.
Tekanan harga di sektor bahan makanan diperkirakan masih akan membuat  tingkat inflasi di Korsel bertahan pada level 5% hingga 6% untuk waktu  yang lama.
Sebagaimana diketahui, pada Juli lalu tingkat inflasi di Korsel  mencapai 6,3%, angka itu merupakan yang tertinggi dalam hampir 24 tahun  terakhir. Demi mengendalikan inflasi, BOK pun menaikkan suku bunga  sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 2,50%.</content:encoded></item></channel></rss>
