<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kebijakan Extra Effort Menko Airlangga untuk Pengendalian Inflasi</title><description>Menko Airlangga merekomendasi berbagai aksi Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/03/320/2660280/kebijakan-extra-effort-menko-airlangga-untuk-pengendalian-inflasi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/09/03/320/2660280/kebijakan-extra-effort-menko-airlangga-untuk-pengendalian-inflasi"/><item><title>Kebijakan Extra Effort Menko Airlangga untuk Pengendalian Inflasi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/03/320/2660280/kebijakan-extra-effort-menko-airlangga-untuk-pengendalian-inflasi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/09/03/320/2660280/kebijakan-extra-effort-menko-airlangga-untuk-pengendalian-inflasi</guid><pubDate>Sabtu 03 September 2022 20:53 WIB</pubDate><dc:creator>Shelma Rachmahyanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/09/03/320/2660280/kebijakan-extra-effort-menko-airlangga-untuk-pengendalian-inflasi-f7rleq0tLC.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kebijakan pengendalian inflasi (Foto: Halomoney)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/09/03/320/2660280/kebijakan-extra-effort-menko-airlangga-untuk-pengendalian-inflasi-f7rleq0tLC.jpg</image><title>Kebijakan pengendalian inflasi (Foto: Halomoney)</title></images><description>JAKARTA - Menko Perekonomian Airlangga Hartarto merekomendasi berbagai aksi Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam rangka extra effort stabilisasi harga dan ketahanan pangan. Kebijakan ini sesuai arahan Presiden Joko Widodo untuk menjaga stabilitas harga dan inflasi 2022.
Kebijakan tersebut dinilai bisa meredam risiko kenaikan inflasi ke depannya. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, pemerintah perlu cepat mengimplementasikan berbagai rekomendasi tadi. Pasalnya dengan kenaikan beberapa harga pangan impor, pemerintah perlu memperkuat rantai pasok untuk pangan dalam negeri.
BACA JUGA:Harga Pertalite dan Pertamax Naik, Inflasi Diproyeksi Meroket Jadi 7,5%

&quot;Kita tidak punya banyak waktu, karena beberapa komoditas pangan impor harganya masih mahal, jadi solusinya adalah penguatan pasokan dan tata niaga pangan lokal,&quot; kata dia, Sabtu (3/9/2022).
Rekomendasi tersebut yakni perluasan Kerjasama Antar Daerah (KAD) terutama untuk daerah surplus/defisit dalam menjaga ketersediaan supply komoditas, pelaksanaan operasi pasar dalam memastikan keterjangkauan harga dengan melibatkan berbagai stakeholders, pemberian subsidi ongkos angkut bersumber dari APBN sebagai dukungan memperlancar distribusi.
BACA JUGA:Jaga Inflasi Pangan, Gubernur BI: Ayo Guyub Rukun Lindungi Rakyat dari Kenaikan Harga

&quot;Semakin pendek rantai distribusi akan semakin efektif pengawasan barangnya. Untuk program pemerintah yang sudah dan akan berjalan seperti pemberian subsidi ongkos angkut, neraca komoditas perlu didukung tapi dengan akselerasi yang lebih cepat,&quot; jelas Bhima.
Untuk diketahui, Airlangga juga merekomendasikan percepatan implementasi program tanam pangan pekarangan untuk mengantisipasi tingginya permintaan di akhir tahun, serta penyusunan Neraca Komoditas Pangan Strategis untuk sepuluh komoditas strategis di wilayah masing-masing.Selain itu, direkomendasikan juga penguatan sarana-prasarana untuk  produk hasil pertanian dibantu oleh Badan Pangan Nasional, antara lain  penyimpanan dengan cold storage, terutama di daerah sentra produksi.  Kemudian, penggunaan belanja tidak terduga pada APBD masing-masing untuk  pengendalian inflasi sesuai dengan edaran Menteri Dalam Negeri.
Lalu, pemerintah meminta mengoptimalkan Dana Alokasi Khusus (DAK)  Fisik untuk tematik ketahanan pangan dan Dana Transfer Umum (DTU).  Rekomendasi selanjutnya yakni terkait upaya meredam harga pangan dan  penguatan sinergi TPIP-TPID melalui Gerakan Nasional Pengendalian  Inflasi Pangan (GNPIP) untuk mempercepat stabilisasi harga.
Di luar program tadi, Bhima juga menyarankan agar pemerintah menambah  alokasi subsidi pupuk untuk mendorong produksi pangan. Kenaikan subsidi  pupuk ini juga diharapkan bisa mengurangi biaya produksi karena harga  pupuk nonsubsidi yang tergolong masih relatif lebih tinggi.
&quot;Sejauh ini harga pupuk nonsubsidi terlampau jauh dibanding pupuk  subsidi, sementara pasokan pupuk subsidi terlalu kecil. Padahal pupuk  merupakan variabel penting yang menentukan input biaya produksi pangan.  Idealnya dana subsidi pupuk ditambah 30%-40% dari alokasi yang ada di  APBN 2022,&quot; pungkas dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Menko Perekonomian Airlangga Hartarto merekomendasi berbagai aksi Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam rangka extra effort stabilisasi harga dan ketahanan pangan. Kebijakan ini sesuai arahan Presiden Joko Widodo untuk menjaga stabilitas harga dan inflasi 2022.
Kebijakan tersebut dinilai bisa meredam risiko kenaikan inflasi ke depannya. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, pemerintah perlu cepat mengimplementasikan berbagai rekomendasi tadi. Pasalnya dengan kenaikan beberapa harga pangan impor, pemerintah perlu memperkuat rantai pasok untuk pangan dalam negeri.
BACA JUGA:Harga Pertalite dan Pertamax Naik, Inflasi Diproyeksi Meroket Jadi 7,5%

&quot;Kita tidak punya banyak waktu, karena beberapa komoditas pangan impor harganya masih mahal, jadi solusinya adalah penguatan pasokan dan tata niaga pangan lokal,&quot; kata dia, Sabtu (3/9/2022).
Rekomendasi tersebut yakni perluasan Kerjasama Antar Daerah (KAD) terutama untuk daerah surplus/defisit dalam menjaga ketersediaan supply komoditas, pelaksanaan operasi pasar dalam memastikan keterjangkauan harga dengan melibatkan berbagai stakeholders, pemberian subsidi ongkos angkut bersumber dari APBN sebagai dukungan memperlancar distribusi.
BACA JUGA:Jaga Inflasi Pangan, Gubernur BI: Ayo Guyub Rukun Lindungi Rakyat dari Kenaikan Harga

&quot;Semakin pendek rantai distribusi akan semakin efektif pengawasan barangnya. Untuk program pemerintah yang sudah dan akan berjalan seperti pemberian subsidi ongkos angkut, neraca komoditas perlu didukung tapi dengan akselerasi yang lebih cepat,&quot; jelas Bhima.
Untuk diketahui, Airlangga juga merekomendasikan percepatan implementasi program tanam pangan pekarangan untuk mengantisipasi tingginya permintaan di akhir tahun, serta penyusunan Neraca Komoditas Pangan Strategis untuk sepuluh komoditas strategis di wilayah masing-masing.Selain itu, direkomendasikan juga penguatan sarana-prasarana untuk  produk hasil pertanian dibantu oleh Badan Pangan Nasional, antara lain  penyimpanan dengan cold storage, terutama di daerah sentra produksi.  Kemudian, penggunaan belanja tidak terduga pada APBD masing-masing untuk  pengendalian inflasi sesuai dengan edaran Menteri Dalam Negeri.
Lalu, pemerintah meminta mengoptimalkan Dana Alokasi Khusus (DAK)  Fisik untuk tematik ketahanan pangan dan Dana Transfer Umum (DTU).  Rekomendasi selanjutnya yakni terkait upaya meredam harga pangan dan  penguatan sinergi TPIP-TPID melalui Gerakan Nasional Pengendalian  Inflasi Pangan (GNPIP) untuk mempercepat stabilisasi harga.
Di luar program tadi, Bhima juga menyarankan agar pemerintah menambah  alokasi subsidi pupuk untuk mendorong produksi pangan. Kenaikan subsidi  pupuk ini juga diharapkan bisa mengurangi biaya produksi karena harga  pupuk nonsubsidi yang tergolong masih relatif lebih tinggi.
&quot;Sejauh ini harga pupuk nonsubsidi terlampau jauh dibanding pupuk  subsidi, sementara pasokan pupuk subsidi terlalu kecil. Padahal pupuk  merupakan variabel penting yang menentukan input biaya produksi pangan.  Idealnya dana subsidi pupuk ditambah 30%-40% dari alokasi yang ada di  APBN 2022,&quot; pungkas dia.</content:encoded></item></channel></rss>
