<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Minyak Dunia Naik 1% Lebih Jelang Pertemuan OPEC</title><description>Harga minyak mentah menguat pada perdagangan Senin (5/9/2022).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/05/320/2660875/harga-minyak-dunia-naik-1-lebih-jelang-pertemuan-opec</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/09/05/320/2660875/harga-minyak-dunia-naik-1-lebih-jelang-pertemuan-opec"/><item><title>Harga Minyak Dunia Naik 1% Lebih Jelang Pertemuan OPEC</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/05/320/2660875/harga-minyak-dunia-naik-1-lebih-jelang-pertemuan-opec</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/09/05/320/2660875/harga-minyak-dunia-naik-1-lebih-jelang-pertemuan-opec</guid><pubDate>Senin 05 September 2022 10:06 WIB</pubDate><dc:creator>Dinar Fitra Maghiszha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/09/05/320/2660875/harga-minyak-dunia-naik-1-lebih-jelang-pertemuan-opec-og79DrngOh.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Minyak dunia. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/09/05/320/2660875/harga-minyak-dunia-naik-1-lebih-jelang-pertemuan-opec-og79DrngOh.JPG</image><title>Minyak dunia. (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Senin (5/9/2022), menjelang pertemuan produsen organisasi pengekspor minyak bumi (OPEC) hari ini di tengah kemungkinan kebijakan pemotongan produksi.
Data perdagangan hingga pukul 10.02 WIB menunjukkan minyak Brent di Intercontinental Exchange (ICE) untuk kontrak November menguat 1,43% menjadi USD94,35 per barel.
Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange (NYMEX) untuk pengiriman Oktober tumbuh 1,47% sebesar USD88,14 per barel.
Sebelumnya, kedua benchmark harga minyak telah tertekan dalam tiga bulan terakhir berturut-turut, setelah sempat melonjak ke level tertingginya pada bulan Maret lalu.
Hal itu terjadi menyusul kekhawatiran bahwa kenaikan suku bunga dan pembatasan mobilitas di sejumlah wilayah China, dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global sekaligus membatasi permintaan.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Harga Minyak Turun tapi BBM Naik, Begini Penjelasan Sri Mulyani
Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, dijadwalkan akan bertemu untuk memutuskan apakah mereka akan menaikkan tingkat produksi atau justru memangkasnya untuk menaikkan harga.&quot;Sementara ini kami memperkirakan OPEC akan mempertahankan produksi saat ini atau tidak berubah,&quot; kata analis ANZ dalam sebuah catatan, dilansir Reuters.
Sementara itu, Rusia dikabarkan tidak mendukung kebijakan pengurangan produksi minyak saat ini, sedangkan OPEC+ kemungkinan tetap akan menjaga produksinya di level stabil.
Sementara itu, pasar juga tengah menanti hasil dari negosiasi untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dengan negara-negara Barat.
Jika disepakati, maka hal ini dapat memungkinkan Teheran untuk meningkatkan ekspor minyak dan meningkatkan pasokan global.</description><content:encoded>JAKARTA - Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Senin (5/9/2022), menjelang pertemuan produsen organisasi pengekspor minyak bumi (OPEC) hari ini di tengah kemungkinan kebijakan pemotongan produksi.
Data perdagangan hingga pukul 10.02 WIB menunjukkan minyak Brent di Intercontinental Exchange (ICE) untuk kontrak November menguat 1,43% menjadi USD94,35 per barel.
Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange (NYMEX) untuk pengiriman Oktober tumbuh 1,47% sebesar USD88,14 per barel.
Sebelumnya, kedua benchmark harga minyak telah tertekan dalam tiga bulan terakhir berturut-turut, setelah sempat melonjak ke level tertingginya pada bulan Maret lalu.
Hal itu terjadi menyusul kekhawatiran bahwa kenaikan suku bunga dan pembatasan mobilitas di sejumlah wilayah China, dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global sekaligus membatasi permintaan.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Harga Minyak Turun tapi BBM Naik, Begini Penjelasan Sri Mulyani
Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, dijadwalkan akan bertemu untuk memutuskan apakah mereka akan menaikkan tingkat produksi atau justru memangkasnya untuk menaikkan harga.&quot;Sementara ini kami memperkirakan OPEC akan mempertahankan produksi saat ini atau tidak berubah,&quot; kata analis ANZ dalam sebuah catatan, dilansir Reuters.
Sementara itu, Rusia dikabarkan tidak mendukung kebijakan pengurangan produksi minyak saat ini, sedangkan OPEC+ kemungkinan tetap akan menjaga produksinya di level stabil.
Sementara itu, pasar juga tengah menanti hasil dari negosiasi untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dengan negara-negara Barat.
Jika disepakati, maka hal ini dapat memungkinkan Teheran untuk meningkatkan ekspor minyak dan meningkatkan pasokan global.</content:encoded></item></channel></rss>
