<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Jokowi Galau soal Lockdown: Saat Itu Saya Semedi, Apa Benar Harus Melakukan Itu?</title><description>Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku sempat galau dengan kebijakan lockdown saat pandemi melanda Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/07/320/2662467/cerita-jokowi-galau-soal-lockdown-saat-itu-saya-semedi-apa-benar-harus-melakukan-itu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/09/07/320/2662467/cerita-jokowi-galau-soal-lockdown-saat-itu-saya-semedi-apa-benar-harus-melakukan-itu"/><item><title>Cerita Jokowi Galau soal Lockdown: Saat Itu Saya Semedi, Apa Benar Harus Melakukan Itu?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/07/320/2662467/cerita-jokowi-galau-soal-lockdown-saat-itu-saya-semedi-apa-benar-harus-melakukan-itu</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/09/07/320/2662467/cerita-jokowi-galau-soal-lockdown-saat-itu-saya-semedi-apa-benar-harus-melakukan-itu</guid><pubDate>Rabu 07 September 2022 10:56 WIB</pubDate><dc:creator>Shelma Rachmahyanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/09/07/320/2662467/cerita-jokowi-galau-soal-lockdown-saat-itu-saya-semedi-apa-benar-harus-melakukan-itu-x1CE69O5Xc.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Jokowi mengaku sempat galau dengan kebijakan lockdown (Foto: Setpres)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/09/07/320/2662467/cerita-jokowi-galau-soal-lockdown-saat-itu-saya-semedi-apa-benar-harus-melakukan-itu-x1CE69O5Xc.jpg</image><title>Presiden Jokowi mengaku sempat galau dengan kebijakan lockdown (Foto: Setpres)</title></images><description>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku sempat galau dengan kebijakan lockdown saat pandemi melanda Indonesia. Menurutnya pandemi covid-19 membuat perubahan luar biasa pada dunia hingga banyak negara menerapkan kebijakan lockdown.
&quot;Dunia sekarang ini berubah sangat luar biasa, perubahannya sangat luar biasa. Pertama memang diawali pandemi, kita tahu semuanya dan kita beruntung saat itu awal-awal pandemi Indonesia tidak lockdown,&quot; ungkap Presiden dilansir dari Antara, Rabu (7/9/2022).
BACA JUGA:Ekonomi Global Tak Pasti, Jokowi: Butuh Pemikiran Abu Nawas yang Kancil-Kancil Gitu

Presiden menyebut dirinya tidak bisa memperkirakan kalau pemerintah memutuskan untuk &quot;lockdown&quot; saat awal pandemi.
&quot;Ekonomi kita akan seperti apa? Berakibat sosial politik seperti apa? Karena awal-awal (pandemi) hampir mungkin 70 negara semua melakukan lockdown, di kabinet sendiri 80% minta lockdown, survei rakyat minta 80% lockdown, tapi saat itu saya semedi, saya endapkan betul apa benar harus melakukan itu?&quot; cerita Presiden.
BACA JUGA:Jokowi Minta Ibu Kota Baru Jadi Proyek Strategis Nasional

Dari hasil perenungannya, Presiden Jokowi memutuskan agar Indonesia tidak melakukan &quot;lockdown&quot;.
&quot;Dan ternyata betul, kalau lockdown mungkin kita bisa minus 17%,&quot; tambah Presiden.
Dari momen pandemi COVID-19, Presiden Jokowi menyebut Indonesia telah belajar menghadapi guncangan dan belajar mengkonsolidasikan kebijakan mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah hingga RT.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOC8wMi80LzE1MTM5Ni8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Ormas bergabung dengan TNI/Polri, semua masyarakat bergerak,  masyarakat melakukan konsolidasi. Hal seperti itu yang harus diteruskan  karena perang, krisis energi, krisis pangan, dan krisis finansial. Ini  yang paling bisa kita lakukan, mengkonsolidasikan dari atas sampai bawah  karena saya meyakini 'landscape' politik dan ekonomi akan berubah dan  bergeser ke arah mana itu yang belum diketahui,&quot; jelas Presiden.
Menurut Presiden Jokowi, saat ini semua negara sedang diuji  kemampuannya untuk menghadapi kondisi geopolitik global yang sedang  tidak jelas dan tidak bisa diperkirakan.
Dia menyebut saat kondisi geopolitik yang tidak pasti seperti  sekarang ini, maka dibutuhkan pemikiran &quot;Abu Nawas&quot; yang cerdik dan  lihai untuk hadapi krisis.
&quot;Saya titip ke ekonom, jangan menggunakan pakem-pakem yang ada,  jangan menggunakan standar yang ada karena saat ini sangat tidak normal  sehingga dibutuhkan pemikiran 'Abu Nawas', yang 'kancil-kancil',&quot; kata  Presiden.
</description><content:encoded>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku sempat galau dengan kebijakan lockdown saat pandemi melanda Indonesia. Menurutnya pandemi covid-19 membuat perubahan luar biasa pada dunia hingga banyak negara menerapkan kebijakan lockdown.
&quot;Dunia sekarang ini berubah sangat luar biasa, perubahannya sangat luar biasa. Pertama memang diawali pandemi, kita tahu semuanya dan kita beruntung saat itu awal-awal pandemi Indonesia tidak lockdown,&quot; ungkap Presiden dilansir dari Antara, Rabu (7/9/2022).
BACA JUGA:Ekonomi Global Tak Pasti, Jokowi: Butuh Pemikiran Abu Nawas yang Kancil-Kancil Gitu

Presiden menyebut dirinya tidak bisa memperkirakan kalau pemerintah memutuskan untuk &quot;lockdown&quot; saat awal pandemi.
&quot;Ekonomi kita akan seperti apa? Berakibat sosial politik seperti apa? Karena awal-awal (pandemi) hampir mungkin 70 negara semua melakukan lockdown, di kabinet sendiri 80% minta lockdown, survei rakyat minta 80% lockdown, tapi saat itu saya semedi, saya endapkan betul apa benar harus melakukan itu?&quot; cerita Presiden.
BACA JUGA:Jokowi Minta Ibu Kota Baru Jadi Proyek Strategis Nasional

Dari hasil perenungannya, Presiden Jokowi memutuskan agar Indonesia tidak melakukan &quot;lockdown&quot;.
&quot;Dan ternyata betul, kalau lockdown mungkin kita bisa minus 17%,&quot; tambah Presiden.
Dari momen pandemi COVID-19, Presiden Jokowi menyebut Indonesia telah belajar menghadapi guncangan dan belajar mengkonsolidasikan kebijakan mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah hingga RT.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOC8wMi80LzE1MTM5Ni8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Ormas bergabung dengan TNI/Polri, semua masyarakat bergerak,  masyarakat melakukan konsolidasi. Hal seperti itu yang harus diteruskan  karena perang, krisis energi, krisis pangan, dan krisis finansial. Ini  yang paling bisa kita lakukan, mengkonsolidasikan dari atas sampai bawah  karena saya meyakini 'landscape' politik dan ekonomi akan berubah dan  bergeser ke arah mana itu yang belum diketahui,&quot; jelas Presiden.
Menurut Presiden Jokowi, saat ini semua negara sedang diuji  kemampuannya untuk menghadapi kondisi geopolitik global yang sedang  tidak jelas dan tidak bisa diperkirakan.
Dia menyebut saat kondisi geopolitik yang tidak pasti seperti  sekarang ini, maka dibutuhkan pemikiran &quot;Abu Nawas&quot; yang cerdik dan  lihai untuk hadapi krisis.
&quot;Saya titip ke ekonom, jangan menggunakan pakem-pakem yang ada,  jangan menggunakan standar yang ada karena saat ini sangat tidak normal  sehingga dibutuhkan pemikiran 'Abu Nawas', yang 'kancil-kancil',&quot; kata  Presiden.
</content:encoded></item></channel></rss>
