<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ngeri! Sri Mulyani Sebut Resesi Global Bikin Harga Minyak Dunia Meroket</title><description>Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani memprediksi resesi global akan mengerek harga minyak dunia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/07/320/2662642/ngeri-sri-mulyani-sebut-resesi-global-bikin-harga-minyak-dunia-meroket</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/09/07/320/2662642/ngeri-sri-mulyani-sebut-resesi-global-bikin-harga-minyak-dunia-meroket"/><item><title>Ngeri! Sri Mulyani Sebut Resesi Global Bikin Harga Minyak Dunia Meroket</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/07/320/2662642/ngeri-sri-mulyani-sebut-resesi-global-bikin-harga-minyak-dunia-meroket</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/09/07/320/2662642/ngeri-sri-mulyani-sebut-resesi-global-bikin-harga-minyak-dunia-meroket</guid><pubDate>Rabu 07 September 2022 13:41 WIB</pubDate><dc:creator>Shelma Rachmahyanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/09/07/320/2662642/ngeri-sri-mulyani-sebut-resesi-global-bikin-harga-minyak-dunia-meroket-tj3TvgGcCM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Resesi Global picu kenaikan harga minyak dunia (Foto: Facebook)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/09/07/320/2662642/ngeri-sri-mulyani-sebut-resesi-global-bikin-harga-minyak-dunia-meroket-tj3TvgGcCM.jpg</image><title>Resesi Global picu kenaikan harga minyak dunia (Foto: Facebook)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani memprediksi resesi global akan mengerek harga minyak dunia. Sri Mulyani mengatakan potensi resesi global akan memengaruhi harga minyak dan komoditas lainnya pada 2023.
&quot;Amerika dan Eropa jelas akan menghadapi potensi resesi yang sangat tinggi, mengapa? Karena inflasi mereka sangat tinggi, 40 tahun tertinggi dan saat ini direspons dengan kenaikan suku bunga acuan dan pengetatan likuiditas,&quot; kata Sri dilansir dari Antara di Jakarta, Rabu (7/9/2022).
BACA JUGA:Sempat Cegah Harga BBM Naik, Sri Mulyani: Kalau Perlu Naikkan Anggaran Subsidi 3 Kali Lipat

Pada awalnya, bank-bank sentral di Amerika dan Eropa masih menganggap inflasi tersebut bersifat temporer karena disrupsi akibat pandemi COVID-19. Namun, saat perang Rusia dan Ukraina mulai muncul, minyak bahkan kini dijadikan alat untuk salah satu instrumen perang.
BACA JUGA:Ketika Sri Mulyani Tantang 100 Ekonom Hitung Subsidi BBM di 2023

Maka dari itu, Sri Mulyani melihat jika berbagai negara maju masuk ke dalam jurang resesi, maka permintaan terhadap minyak menjadi turun dan tekanan kenaikan harga minyak diharapkan ikut menurun, sehingga tak lagi mencapai di atas USD100 per barel.
Saat ini, harga minyak mulai menurun menjadi dalam kisaran USD94 per barel, setelah sempat melambung di level USD126 per barel.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOS8wNy8xLzE1MjkyNS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Selain potensi resesi, Sri Mulyani menyebutkan faktor lainnya yang  akan memengaruhi harga minyak dan komoditas dunia adalah seberapa lama  perang Rusia dan Ukraina berlangsung.
&quot;Selama terjadi perang, berarti akan terus ada disrupsi suplai karena  Rusia itu diembargo. Kemarin kita juga mendengar bahwa Amerika Serikat  akan mencoba membuat price gap untuk minyak Rusia yang sekarang sudah  diadopsi negara-negara G7,&quot; tuturnya.
Maka dari itu, Bendahara Negara tersebut menilai harga minyak dunia  masih akan tidak pasti ke depannya dengan berbagai faktor tersebut dan  tentunya akan memengaruhi APBN.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani memprediksi resesi global akan mengerek harga minyak dunia. Sri Mulyani mengatakan potensi resesi global akan memengaruhi harga minyak dan komoditas lainnya pada 2023.
&quot;Amerika dan Eropa jelas akan menghadapi potensi resesi yang sangat tinggi, mengapa? Karena inflasi mereka sangat tinggi, 40 tahun tertinggi dan saat ini direspons dengan kenaikan suku bunga acuan dan pengetatan likuiditas,&quot; kata Sri dilansir dari Antara di Jakarta, Rabu (7/9/2022).
BACA JUGA:Sempat Cegah Harga BBM Naik, Sri Mulyani: Kalau Perlu Naikkan Anggaran Subsidi 3 Kali Lipat

Pada awalnya, bank-bank sentral di Amerika dan Eropa masih menganggap inflasi tersebut bersifat temporer karena disrupsi akibat pandemi COVID-19. Namun, saat perang Rusia dan Ukraina mulai muncul, minyak bahkan kini dijadikan alat untuk salah satu instrumen perang.
BACA JUGA:Ketika Sri Mulyani Tantang 100 Ekonom Hitung Subsidi BBM di 2023

Maka dari itu, Sri Mulyani melihat jika berbagai negara maju masuk ke dalam jurang resesi, maka permintaan terhadap minyak menjadi turun dan tekanan kenaikan harga minyak diharapkan ikut menurun, sehingga tak lagi mencapai di atas USD100 per barel.
Saat ini, harga minyak mulai menurun menjadi dalam kisaran USD94 per barel, setelah sempat melambung di level USD126 per barel.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOS8wNy8xLzE1MjkyNS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Selain potensi resesi, Sri Mulyani menyebutkan faktor lainnya yang  akan memengaruhi harga minyak dan komoditas dunia adalah seberapa lama  perang Rusia dan Ukraina berlangsung.
&quot;Selama terjadi perang, berarti akan terus ada disrupsi suplai karena  Rusia itu diembargo. Kemarin kita juga mendengar bahwa Amerika Serikat  akan mencoba membuat price gap untuk minyak Rusia yang sekarang sudah  diadopsi negara-negara G7,&quot; tuturnya.
Maka dari itu, Bendahara Negara tersebut menilai harga minyak dunia  masih akan tidak pasti ke depannya dengan berbagai faktor tersebut dan  tentunya akan memengaruhi APBN.</content:encoded></item></channel></rss>
