<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Limbah Batu Bara Disulap Jadi Pupuk, Bisa Hemat Rp7,4 Miliar/Tahun</title><description>Limbah batu bara bisa disulap dan dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk NPK.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/11/320/2665047/limbah-batu-bara-disulap-jadi-pupuk-bisa-hemat-rp7-4-miliar-tahun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/09/11/320/2665047/limbah-batu-bara-disulap-jadi-pupuk-bisa-hemat-rp7-4-miliar-tahun"/><item><title>Limbah Batu Bara Disulap Jadi Pupuk, Bisa Hemat Rp7,4 Miliar/Tahun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/11/320/2665047/limbah-batu-bara-disulap-jadi-pupuk-bisa-hemat-rp7-4-miliar-tahun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/09/11/320/2665047/limbah-batu-bara-disulap-jadi-pupuk-bisa-hemat-rp7-4-miliar-tahun</guid><pubDate>Minggu 11 September 2022 08:37 WIB</pubDate><dc:creator>Shelma Rachmahyanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/09/11/320/2665047/limbah-batu-bara-disulap-jadi-pupuk-bisa-hemat-rp7-4-miliar-tahun-lvlEogfQ8N.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Limbah batu bara disulap jadi pupuk (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/09/11/320/2665047/limbah-batu-bara-disulap-jadi-pupuk-bisa-hemat-rp7-4-miliar-tahun-lvlEogfQ8N.jpg</image><title>Limbah batu bara disulap jadi pupuk (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Limbah batu bara bisa disulap dan dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk NPK. Hal ini diungkapkan Holding BUMN Pupuk Indonesia dalam konvensi inovasi Pupuk Indonesia Quality Improvement (PIQI) 2022 .
Ketua Gugus Inovasi Operasional (GIO) Fly Ash-Bottom Ash (FABA) dari PT Petrokimia Gresik Verona Amelia mengatakan bahwa tema inovasinya adalah menurunkan biaya pengelolaan limbah batu bara atau FABA dari Rp269 juta per bulan menjadi nol rupiah per bulan.
BACA JUGA:Harga Batu Bara Makin Mahal, Arcandra: Ini Akar Inflasi

Limbah batu bara tersebut juga dimanfaatkan menjadi substitusi filler clay atau bahan baku pupuk NPK di Petrokimia Gresik. Sehingga menurunkan biaya pengelolaan limbah dan pembelian clay dengan total penghematan sebesar Rp7,4 miliar per tahun.
&amp;ldquo;Berawal dari status limbah batu bara, yaitu fly ash dan bottom ash, yang merupakan limbah B3. Namun pada tahun 2021, keluar Peraturan Pemerintah atau PP No. 22 Tahun 2021 yang mengeluarkan FABA dari kategori limbah B3,&amp;rdquo; kata Verona dilansir dari Antara, Minggu (11/9/2022).
BACA JUGA:Produksi Batu Bara RI Tembus 436,82 Juta Ton, Negara Kantongi Rp130 Triliun

Dengan keluarnya regulasi tersebut, Verona bersama sembilan anggota gugus inovasi lainnya melihat peluang penghematan biaya operasional perusahaan dengan melakukan pengelolaan limbah batu bara secara internal. Karena saat berstatus sebagai limbah B3, FABA harus dikelola oleh pihak ketiga dan memakan biaya sebesar Rp269 juta setiap bulannya.
&amp;ldquo;Dengan inovasi ini, kami memanfaatkan FABA menjadi pengganti clay pada pupuk NPK. Kenapa jadi filler? Kami melihat ada karakteristik atau kandungan yang sama antara FABA dengan filler clay yang biasa digunakan pada pupuk NPK,&amp;rdquo; jelas Verona yang juga akrab disapa Vero.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOS8wNi8xLzE1MjkxNy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Setelah dilakukan uji coba, ternyata pemanfaatan FABA menjadi clay  masih dalam batasan Standar Nasional Indonesia (SNI) pupuk NPK. Selain  itu, dilakukan juga uji coba pada tanaman padi. Hasilnya, pupuk NPK  dengan clay dari FABA memiliki kualitas yang sama baiknya dengan pupuk  NPK tanpa FABA.
Dia mengatakan inovasi ini memiliki dampak positif bagi perusahaan  seperti kualitas lingkungan menjadi lebih baik, karena limbah dapat  dimanfaatkan. Kemudian biaya pengelolaan limbah turun 100%, pengiriman  limbah FABA kepada pihak ketiga menurun 52%, nilai risiko gangguan  kesehatan dan keselamatan menurun, kenyamanan bekerja menjadi lebih  baik, serta sejalan dengan PP No. 22 Tahun 2021 terkait pengelolaan  FABA.
&amp;ldquo;Kemudian, paten juga kita dapat. Sudah kita sampaikan juga pada  seminar skala nasional dan internasional, masuk dalam jurnal  internasional, menjadi salah satu dasar pembuatan naskah akademik di  Balitbangtan Kementan, serta telah diadopsi juga oleh teman-teman di  Pusri Palembang,&amp;rdquo; jelas Vero.</description><content:encoded>JAKARTA - Limbah batu bara bisa disulap dan dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk NPK. Hal ini diungkapkan Holding BUMN Pupuk Indonesia dalam konvensi inovasi Pupuk Indonesia Quality Improvement (PIQI) 2022 .
Ketua Gugus Inovasi Operasional (GIO) Fly Ash-Bottom Ash (FABA) dari PT Petrokimia Gresik Verona Amelia mengatakan bahwa tema inovasinya adalah menurunkan biaya pengelolaan limbah batu bara atau FABA dari Rp269 juta per bulan menjadi nol rupiah per bulan.
BACA JUGA:Harga Batu Bara Makin Mahal, Arcandra: Ini Akar Inflasi

Limbah batu bara tersebut juga dimanfaatkan menjadi substitusi filler clay atau bahan baku pupuk NPK di Petrokimia Gresik. Sehingga menurunkan biaya pengelolaan limbah dan pembelian clay dengan total penghematan sebesar Rp7,4 miliar per tahun.
&amp;ldquo;Berawal dari status limbah batu bara, yaitu fly ash dan bottom ash, yang merupakan limbah B3. Namun pada tahun 2021, keluar Peraturan Pemerintah atau PP No. 22 Tahun 2021 yang mengeluarkan FABA dari kategori limbah B3,&amp;rdquo; kata Verona dilansir dari Antara, Minggu (11/9/2022).
BACA JUGA:Produksi Batu Bara RI Tembus 436,82 Juta Ton, Negara Kantongi Rp130 Triliun

Dengan keluarnya regulasi tersebut, Verona bersama sembilan anggota gugus inovasi lainnya melihat peluang penghematan biaya operasional perusahaan dengan melakukan pengelolaan limbah batu bara secara internal. Karena saat berstatus sebagai limbah B3, FABA harus dikelola oleh pihak ketiga dan memakan biaya sebesar Rp269 juta setiap bulannya.
&amp;ldquo;Dengan inovasi ini, kami memanfaatkan FABA menjadi pengganti clay pada pupuk NPK. Kenapa jadi filler? Kami melihat ada karakteristik atau kandungan yang sama antara FABA dengan filler clay yang biasa digunakan pada pupuk NPK,&amp;rdquo; jelas Verona yang juga akrab disapa Vero.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOS8wNi8xLzE1MjkxNy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Setelah dilakukan uji coba, ternyata pemanfaatan FABA menjadi clay  masih dalam batasan Standar Nasional Indonesia (SNI) pupuk NPK. Selain  itu, dilakukan juga uji coba pada tanaman padi. Hasilnya, pupuk NPK  dengan clay dari FABA memiliki kualitas yang sama baiknya dengan pupuk  NPK tanpa FABA.
Dia mengatakan inovasi ini memiliki dampak positif bagi perusahaan  seperti kualitas lingkungan menjadi lebih baik, karena limbah dapat  dimanfaatkan. Kemudian biaya pengelolaan limbah turun 100%, pengiriman  limbah FABA kepada pihak ketiga menurun 52%, nilai risiko gangguan  kesehatan dan keselamatan menurun, kenyamanan bekerja menjadi lebih  baik, serta sejalan dengan PP No. 22 Tahun 2021 terkait pengelolaan  FABA.
&amp;ldquo;Kemudian, paten juga kita dapat. Sudah kita sampaikan juga pada  seminar skala nasional dan internasional, masuk dalam jurnal  internasional, menjadi salah satu dasar pembuatan naskah akademik di  Balitbangtan Kementan, serta telah diadopsi juga oleh teman-teman di  Pusri Palembang,&amp;rdquo; jelas Vero.</content:encoded></item></channel></rss>
