<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ngeri! Ini Dampak Inflasi AS ke Ekonomi Indonesia</title><description>Kenaikan inflasi AS berdampak pada ekonomi Indonesia. Namun Indonesia dinilai masih cukup kuat menahan dampak inflasi tersebut</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/13/320/2666595/ngeri-ini-dampak-inflasi-as-ke-ekonomi-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/09/13/320/2666595/ngeri-ini-dampak-inflasi-as-ke-ekonomi-indonesia"/><item><title>Ngeri! Ini Dampak Inflasi AS ke Ekonomi Indonesia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/13/320/2666595/ngeri-ini-dampak-inflasi-as-ke-ekonomi-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/09/13/320/2666595/ngeri-ini-dampak-inflasi-as-ke-ekonomi-indonesia</guid><pubDate>Selasa 13 September 2022 15:25 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/09/13/320/2666595/ngeri-ini-dampak-inflasi-as-ke-ekonomi-indonesia-9npeFFoXA3.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dampak inflasi AS ke Indonesia (Foto: Halomoney)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/09/13/320/2666595/ngeri-ini-dampak-inflasi-as-ke-ekonomi-indonesia-9npeFFoXA3.jpg</image><title>Dampak inflasi AS ke Indonesia (Foto: Halomoney)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Kenaikan inflasi AS berdampak pada ekonomi Indonesia. Namun Indonesia dinilai masih cukup kuat menahan dampak inflasi tersebut.
&quot;Dampak inflasi AS ke Indonesia sebetulnya lebih ke arah perkembangan suku bunga. Karena kalau inflasi meningkat, maka respons dari Federal Reserve atau The Fed akan kecenderungan menaikkan suku bunga di AS dan proses ini pun masih berlangsung di sana,&quot; ujar Wakil Direktur INDEF Eko Listiyanto kepada MNC Portal Indonesia di Jakarta, Selasa(13/9/2022).
BACA JUGA:Harga Beras Naik Rp100, Mendag Singgung Dampak ke Inflasi

Dia mengatakan, memang kondisi terkini inflasi AS turun menjadi 8,5% dibanding bulan sebelumnya, dengan suku bunga 2,5% masih jauh dari inflasi.
&quot;Targetnya The Fed dengan kenaikan suku bunga yang dia lakukan nanti lama-lama bisa menurunkan inflasinya ke angka 2% seperti kondisi sebelum pandemi COVID-19,&quot; ungkap Eko.
BACA JUGA:Tambahan Bansos Rp24 Triliun Dinilai Masih Kurang Banyak untuk Tekan Inflasi

Dia menyebutkan, Indonesia masih kuat menahan dampak inflasi AS karena sebetulnya inflasi di Indonesia sendiri lebih disebabkan oleh fenomena domestik, yaitu faktor volatile foods sebagai penyumbang utama.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOS8wNS80LzE1Mjg2Ny8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Karena produksi pangannya terbatas, dan walaupun produksinya cukup,  tidak semua daerah ada (stoknya), sehingga tetap saja menimbulkan  inflasi, jadi itu kontributor utamanya,&quot; tambah Eko.
Kontributor lainnya, sebut dia, memang inflasi inti. Namun, dia  mewaspadai, jika inflasi di AS kian meninggi, dikhawatirkan permintaan  barang dan jasa dari Indonesia berkurang.
&quot;Kan sebenarnya kita surplus dagang dengan AS, kalau inflasinya makin  tinggi lama-lama pembeli kita di sana terdampak dan jadinya enggak  banyak beli dari kita,&quot; pungkas Eko.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Kenaikan inflasi AS berdampak pada ekonomi Indonesia. Namun Indonesia dinilai masih cukup kuat menahan dampak inflasi tersebut.
&quot;Dampak inflasi AS ke Indonesia sebetulnya lebih ke arah perkembangan suku bunga. Karena kalau inflasi meningkat, maka respons dari Federal Reserve atau The Fed akan kecenderungan menaikkan suku bunga di AS dan proses ini pun masih berlangsung di sana,&quot; ujar Wakil Direktur INDEF Eko Listiyanto kepada MNC Portal Indonesia di Jakarta, Selasa(13/9/2022).
BACA JUGA:Harga Beras Naik Rp100, Mendag Singgung Dampak ke Inflasi

Dia mengatakan, memang kondisi terkini inflasi AS turun menjadi 8,5% dibanding bulan sebelumnya, dengan suku bunga 2,5% masih jauh dari inflasi.
&quot;Targetnya The Fed dengan kenaikan suku bunga yang dia lakukan nanti lama-lama bisa menurunkan inflasinya ke angka 2% seperti kondisi sebelum pandemi COVID-19,&quot; ungkap Eko.
BACA JUGA:Tambahan Bansos Rp24 Triliun Dinilai Masih Kurang Banyak untuk Tekan Inflasi

Dia menyebutkan, Indonesia masih kuat menahan dampak inflasi AS karena sebetulnya inflasi di Indonesia sendiri lebih disebabkan oleh fenomena domestik, yaitu faktor volatile foods sebagai penyumbang utama.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOS8wNS80LzE1Mjg2Ny8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Karena produksi pangannya terbatas, dan walaupun produksinya cukup,  tidak semua daerah ada (stoknya), sehingga tetap saja menimbulkan  inflasi, jadi itu kontributor utamanya,&quot; tambah Eko.
Kontributor lainnya, sebut dia, memang inflasi inti. Namun, dia  mewaspadai, jika inflasi di AS kian meninggi, dikhawatirkan permintaan  barang dan jasa dari Indonesia berkurang.
&quot;Kan sebenarnya kita surplus dagang dengan AS, kalau inflasinya makin  tinggi lama-lama pembeli kita di sana terdampak dan jadinya enggak  banyak beli dari kita,&quot; pungkas Eko.</content:encoded></item></channel></rss>
