<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Inflasi AS Tembus 8,3% di Agustus 2022</title><description>Laju inflasi Amerika Serikat periode Agustus 2022 menembus angka 8,3%.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/13/320/2666835/inflasi-as-tembus-8-3-di-agustus-2022</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/09/13/320/2666835/inflasi-as-tembus-8-3-di-agustus-2022"/><item><title>Inflasi AS Tembus 8,3% di Agustus 2022</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/13/320/2666835/inflasi-as-tembus-8-3-di-agustus-2022</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/09/13/320/2666835/inflasi-as-tembus-8-3-di-agustus-2022</guid><pubDate>Selasa 13 September 2022 19:51 WIB</pubDate><dc:creator>Dinar Fitra Maghiszha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/09/13/320/2666835/inflasi-as-tembus-8-3-di-agustus-2022-RrHTqtqzMM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Inflasi AS 8,3% (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/09/13/320/2666835/inflasi-as-tembus-8-3-di-agustus-2022-RrHTqtqzMM.jpg</image><title>Inflasi AS 8,3% (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Laju inflasi Amerika Serikat periode Agustus 2022 menembus angka 8,3%. Lonjakan indeks harga konsumen (CPI) tersebut lebih rendah dari bulan Juli yang sebesar 8,5%, dan 9,1% pada Juni. Namun, angka itu masih lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 8,1%.
Penurunan inflasi dinilai dapat membantu Federal Reserve mengurangi kenaikan suku bunga ke tingkat yang berpotensi mendorong ekonomi AS ke dalam resesi.
BACA JUGA:Deteksi Dini Kenaikan Inflasi, Sri Mulyani Minta Pemda Gunakan DAU dan DBH 

&quot;Tapi tekanan harga tidak akan mengubah pendirian Fed dalam mempertahankan sikap hawkishnya,&quot; kata Analis Oanda Edward Moya, dilansir Associated Press, Selasa (13/9/2022).
Sebelumnya, sejumlah pengamat menilai pelemahan harga minyak dan gas dunia dapat berkontribusi terhadap penurunan inflasi AS. Namun, para pelaku pasar memandang hal ini tidak serta merta membuat Fed mengurungkan niat suku bunga agresifnya, mengingat rencana mereka untuk mengembalikan inflasi sesuai target di kisaran 2%.
BACA JUGA:Ngeri! Ini Dampak Inflasi AS ke Ekonomi Indonesia

&quot;Saya pikir The Fed akan menaikkan 75 basis poin meskipun angkanya masih lemah, tapi mereka mungkin dapat memperlambat langkah (agresif),&quot; kata Analis Nordea, Niels Christensen, dilansir Reuters.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOS8wNS80LzE1Mjg2Ny8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Dana Fed berjangka sebelumnya memperkirakan kenaikan suku bunga  setengah poin pada pertemuan FOMC The Fed minggu depan. Saat ini peluang  kenaikan 75 bps mendapat respons pasar sebesar 85%, dibandingkan 50  bps.
&quot;Gubernur Fed Jerome Powell cukup tegas ketika dia berbicara minggu lalu. Sudah sangat jelas bahwa mereka akan melawan inflasi.&quot;
Inflasi malam ini membuat dolar tertekan. Indeks dolar, yang mengukur  kinerja greenback terhadap sekeranjang enam mata uang lainnya mengalami  koreksi 0,4% menjadi 107,76, melanjutkan pelemahan 0,7% pada Senin lalu  (12/9). Ini terjadi akibat ekspektasi pasar bahwa saat inflasi telah  mencapai puncaknya, membuat suku bunga agresif Fed bakal berkurang.</description><content:encoded>JAKARTA - Laju inflasi Amerika Serikat periode Agustus 2022 menembus angka 8,3%. Lonjakan indeks harga konsumen (CPI) tersebut lebih rendah dari bulan Juli yang sebesar 8,5%, dan 9,1% pada Juni. Namun, angka itu masih lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 8,1%.
Penurunan inflasi dinilai dapat membantu Federal Reserve mengurangi kenaikan suku bunga ke tingkat yang berpotensi mendorong ekonomi AS ke dalam resesi.
BACA JUGA:Deteksi Dini Kenaikan Inflasi, Sri Mulyani Minta Pemda Gunakan DAU dan DBH 

&quot;Tapi tekanan harga tidak akan mengubah pendirian Fed dalam mempertahankan sikap hawkishnya,&quot; kata Analis Oanda Edward Moya, dilansir Associated Press, Selasa (13/9/2022).
Sebelumnya, sejumlah pengamat menilai pelemahan harga minyak dan gas dunia dapat berkontribusi terhadap penurunan inflasi AS. Namun, para pelaku pasar memandang hal ini tidak serta merta membuat Fed mengurungkan niat suku bunga agresifnya, mengingat rencana mereka untuk mengembalikan inflasi sesuai target di kisaran 2%.
BACA JUGA:Ngeri! Ini Dampak Inflasi AS ke Ekonomi Indonesia

&quot;Saya pikir The Fed akan menaikkan 75 basis poin meskipun angkanya masih lemah, tapi mereka mungkin dapat memperlambat langkah (agresif),&quot; kata Analis Nordea, Niels Christensen, dilansir Reuters.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOS8wNS80LzE1Mjg2Ny8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Dana Fed berjangka sebelumnya memperkirakan kenaikan suku bunga  setengah poin pada pertemuan FOMC The Fed minggu depan. Saat ini peluang  kenaikan 75 bps mendapat respons pasar sebesar 85%, dibandingkan 50  bps.
&quot;Gubernur Fed Jerome Powell cukup tegas ketika dia berbicara minggu lalu. Sudah sangat jelas bahwa mereka akan melawan inflasi.&quot;
Inflasi malam ini membuat dolar tertekan. Indeks dolar, yang mengukur  kinerja greenback terhadap sekeranjang enam mata uang lainnya mengalami  koreksi 0,4% menjadi 107,76, melanjutkan pelemahan 0,7% pada Senin lalu  (12/9). Ini terjadi akibat ekspektasi pasar bahwa saat inflasi telah  mencapai puncaknya, membuat suku bunga agresif Fed bakal berkurang.</content:encoded></item></channel></rss>
