<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tantangan Industri Pembiayaan, dari Krisis Energi hingga Kenaikan Suku Bunga</title><description>Industri pembiayaan menghadapi tantangan mulai dari krisis energi hingga kenaikan suku bunga.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/15/320/2668481/tantangan-industri-pembiayaan-dari-krisis-energi-hingga-kenaikan-suku-bunga</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/09/15/320/2668481/tantangan-industri-pembiayaan-dari-krisis-energi-hingga-kenaikan-suku-bunga"/><item><title>Tantangan Industri Pembiayaan, dari Krisis Energi hingga Kenaikan Suku Bunga</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/15/320/2668481/tantangan-industri-pembiayaan-dari-krisis-energi-hingga-kenaikan-suku-bunga</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/09/15/320/2668481/tantangan-industri-pembiayaan-dari-krisis-energi-hingga-kenaikan-suku-bunga</guid><pubDate>Kamis 15 September 2022 19:54 WIB</pubDate><dc:creator>Shelma Rachmahyanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/09/15/320/2668481/tantangan-industri-pembiayaan-dari-krisis-energi-hingga-kenaikan-suku-bunga-7WZpgbsZxQ.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Krisis dan suku bunga jadi tantangan industri pembiayaan (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/09/15/320/2668481/tantangan-industri-pembiayaan-dari-krisis-energi-hingga-kenaikan-suku-bunga-7WZpgbsZxQ.jpeg</image><title>Krisis dan suku bunga jadi tantangan industri pembiayaan (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Industri pembiayaan menghadapi tantangan mulai dari krisis energi hingga kenaikan suku bunga. Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) 2B Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bambang W Budiawan menyebut krisis dan suku bunga jadi tantangan bagi industri pembiayaan atau multifinance di masa mendatang.
Dia menjelaskan kedua hal itu akan menurunkan daya beli masyarakat dan kapasitas kemampuan mereka dalam melakukan pembayaran angsuran kepada perusahaan pembiayaan.
BACA JUGA:Kena Dampak Krisis Energi, Menara Eiffel Tak Lagi Gemerlap

&amp;ldquo;Tantangan kita lebih ke daya beli masyarakat, karena kenaikan suku bunga, krisis pangan dan krisis energi,&amp;rdquo; kata Bambang dilansir dari Antara, Kamis (15/9/2022).
Dia mengatakan krisis pangan dan energi masih akan terus berlangsung karena belum adanya kepastian penyelesaian konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina.
BACA JUGA:Menaker Ingatkan Peran Kepala Daerah dalam Hadapi Krisis Energi hingga Kemiskinan

&amp;ldquo;Harus mewaspadai konflik geopolitik masih panjang, supply dari kedua negara akan tertahan seperti gandum dan gas,&amp;rdquo; kata Bambang.
Lalu, dia memperkirakan suku bunga acuan BI7DRR masih ada kemungkinan mengalami kenaikan seiring dengan pengambilan kebijakan yang dilakukan oleh otoritas moneter di tingkat global.
&amp;ldquo;Suku bunga ini menjadi tantangan. Harapannya kenaikan suku bunga tidak terjadi lagi, dan perang (Rusia- Ukraina) stop,&amp;rdquo; kata Bambang.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOS8xNC8xLzE1MzIyNy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Dalam kesempatan ini, dia mengatakan terhambatnya sisi supply,  khususnya semikonduktor dan mikro cip kendaraan roda dua maupun roda  empat dari berbagai negara produsen juga akan menjadi tantangan ke  depan.
Dia menjelaskan kendaraan bermotor, roda dua maupun roda empat  merupakan sektor terbesar penyaluran pembiayaan, yakni memenuhi porsi  sebesar 63,5 persen pada Juli 2022.
Dia melanjutkan pelayanan kepada konsumen, khususnya terkait  penagihan dan penanganan pengaduan juga perlu lebih dioptimalkan dan  disesuaikan dengan regulasi yang ada.
Dengan itu, menurut Bambang, perusahaan pembiayaan perlu melakukan  sinergi dengan para pemangku kepentingan, mulai dari pusat hingga daerah  untuk menghadapi berbagai tantangan ini.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Industri pembiayaan menghadapi tantangan mulai dari krisis energi hingga kenaikan suku bunga. Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) 2B Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bambang W Budiawan menyebut krisis dan suku bunga jadi tantangan bagi industri pembiayaan atau multifinance di masa mendatang.
Dia menjelaskan kedua hal itu akan menurunkan daya beli masyarakat dan kapasitas kemampuan mereka dalam melakukan pembayaran angsuran kepada perusahaan pembiayaan.
BACA JUGA:Kena Dampak Krisis Energi, Menara Eiffel Tak Lagi Gemerlap

&amp;ldquo;Tantangan kita lebih ke daya beli masyarakat, karena kenaikan suku bunga, krisis pangan dan krisis energi,&amp;rdquo; kata Bambang dilansir dari Antara, Kamis (15/9/2022).
Dia mengatakan krisis pangan dan energi masih akan terus berlangsung karena belum adanya kepastian penyelesaian konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina.
BACA JUGA:Menaker Ingatkan Peran Kepala Daerah dalam Hadapi Krisis Energi hingga Kemiskinan

&amp;ldquo;Harus mewaspadai konflik geopolitik masih panjang, supply dari kedua negara akan tertahan seperti gandum dan gas,&amp;rdquo; kata Bambang.
Lalu, dia memperkirakan suku bunga acuan BI7DRR masih ada kemungkinan mengalami kenaikan seiring dengan pengambilan kebijakan yang dilakukan oleh otoritas moneter di tingkat global.
&amp;ldquo;Suku bunga ini menjadi tantangan. Harapannya kenaikan suku bunga tidak terjadi lagi, dan perang (Rusia- Ukraina) stop,&amp;rdquo; kata Bambang.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOS8xNC8xLzE1MzIyNy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Dalam kesempatan ini, dia mengatakan terhambatnya sisi supply,  khususnya semikonduktor dan mikro cip kendaraan roda dua maupun roda  empat dari berbagai negara produsen juga akan menjadi tantangan ke  depan.
Dia menjelaskan kendaraan bermotor, roda dua maupun roda empat  merupakan sektor terbesar penyaluran pembiayaan, yakni memenuhi porsi  sebesar 63,5 persen pada Juli 2022.
Dia melanjutkan pelayanan kepada konsumen, khususnya terkait  penagihan dan penanganan pengaduan juga perlu lebih dioptimalkan dan  disesuaikan dengan regulasi yang ada.
Dengan itu, menurut Bambang, perusahaan pembiayaan perlu melakukan  sinergi dengan para pemangku kepentingan, mulai dari pusat hingga daerah  untuk menghadapi berbagai tantangan ini.</content:encoded></item></channel></rss>
