<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Uni Eropa Mau Embargo Rusia, Harga Minyak Dunia Naik Lagi</title><description>Harga minyak dunia naik lagi pada perdagangan Senin (19/9/2022) pagi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/19/320/2670244/uni-eropa-mau-embargo-rusia-harga-minyak-dunia-naik-lagi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/09/19/320/2670244/uni-eropa-mau-embargo-rusia-harga-minyak-dunia-naik-lagi"/><item><title>Uni Eropa Mau Embargo Rusia, Harga Minyak Dunia Naik Lagi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/19/320/2670244/uni-eropa-mau-embargo-rusia-harga-minyak-dunia-naik-lagi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/09/19/320/2670244/uni-eropa-mau-embargo-rusia-harga-minyak-dunia-naik-lagi</guid><pubDate>Senin 19 September 2022 10:41 WIB</pubDate><dc:creator>Dinar Fitra Maghiszha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/09/19/320/2670244/uni-eropa-mau-embargo-rusia-harga-minyak-dunia-naik-lagi-f5SV9al2VP.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Harga minyak dunia naik (Foto: Ilustrasi Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/09/19/320/2670244/uni-eropa-mau-embargo-rusia-harga-minyak-dunia-naik-lagi-f5SV9al2VP.jpg</image><title>Harga minyak dunia naik (Foto: Ilustrasi Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Harga minyak dunia naik lagi pada perdagangan Senin (19/9/2022) pagi. Harga minyak dunia naik dipicu sentimen penurunan pasokan dan kekhawatiran pasar menjelang kebijakan embargo Uni Eropa terhadap Rusia pada bulan Desember.
Data perdagangan hingga pukul 10:16 WIB menunjukkan minyak Brent di Intercontinental Exchange (ICE) untuk kontrak November tumbuh 0,61% menjadi USD91,91 per barel.
BACA JUGA:Harga Minyak Dunia Naik Lagi meski Ada Kekhawatiran Suku Bunga

Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange (NYMEX) untuk pengiriman November naik 0,46% sebesar USD85,15 per barel.
Kedua benchmark sebelumnya telah merosot lebih dari 1% pada pekan lalu di tengah kekhawatiran bahwa kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve dapat memperlambat pertumbuhan global.
BACA JUGA:Presidensi G20 Indonesia Jadi Jembatan Negara Berkonflik, Harga Minyak Bisa Ditekan

Penurunan juga terjadi akibat pelemahan dolar yang mulai beranjak keluar dari level tertingginya. Dolar AS yang lebih lemah membuat komoditas akan menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya. Demikian diwartakan Reuters.
Di China, pelonggaran pembatasan Covid-19 di Chengdu, kota barat daya berpenduduk lebih dari 21 juta orang, meredakan kekhawatiran atas permintaan konsumen energi nomor 2 dunia tersebut. Ekspor bensin dan solar di China juga mengalami rebound, yang pada akhirnya mengurangi persediaan lokal mereka yang berlimpah.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOS8xOC8xLzE1MzM5Ni8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Terlepas katalis krisis ekonomi dunia, sejumlah kabar di pasar  regional ikut memberi pengaruh pada pasar minyak, seperti pernyataan  Kuwait Petroleum Corporation (KPC) yang mengatakan ada tuntutan dari  pelanggannya untuk menahan volume yang sama tanpa adanya perubahan.  Diketahui, negara-negara teluk saat ini memproduksi rata-rata lebih dari  2,8 juta barel per hari, yang sesuai dengan kuota organisasi negara  pengekspor minyak atau OPEC.
Di tempat lain, operasi pemuatan dan ekspor minyak dari terminal  minyak Basrah Oil Company, Irak dikabarkan telah kembali menuju ke level  normal pada akhir pekan lalu, sehari setelah dihentikan produksinya  akibat tumpahan minyak yang telah diatasi.
Sementara itu di Nigeria, kapal penyimpanan dan pembongkaran Bonga,  yang berkapasitas 200.000 barel per hari dijadwalkan untuk melakukan  pemeliharaan pada bulan Oktober
Dari Amerika Serikat, perusahaan energi Baker Hughes Co melaporkan  ada kenaikan rig minyak dan gas alam untuk pertama kalinya dalam tiga  pekan terakhir. Jumlah rig minyak dan gas, yang menjadi indikator awal  produksi migas di masa depan, naik menjadi 763 per 16 September, yang  notabena tertinggi sejak Agustus.</description><content:encoded>JAKARTA - Harga minyak dunia naik lagi pada perdagangan Senin (19/9/2022) pagi. Harga minyak dunia naik dipicu sentimen penurunan pasokan dan kekhawatiran pasar menjelang kebijakan embargo Uni Eropa terhadap Rusia pada bulan Desember.
Data perdagangan hingga pukul 10:16 WIB menunjukkan minyak Brent di Intercontinental Exchange (ICE) untuk kontrak November tumbuh 0,61% menjadi USD91,91 per barel.
BACA JUGA:Harga Minyak Dunia Naik Lagi meski Ada Kekhawatiran Suku Bunga

Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange (NYMEX) untuk pengiriman November naik 0,46% sebesar USD85,15 per barel.
Kedua benchmark sebelumnya telah merosot lebih dari 1% pada pekan lalu di tengah kekhawatiran bahwa kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve dapat memperlambat pertumbuhan global.
BACA JUGA:Presidensi G20 Indonesia Jadi Jembatan Negara Berkonflik, Harga Minyak Bisa Ditekan

Penurunan juga terjadi akibat pelemahan dolar yang mulai beranjak keluar dari level tertingginya. Dolar AS yang lebih lemah membuat komoditas akan menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya. Demikian diwartakan Reuters.
Di China, pelonggaran pembatasan Covid-19 di Chengdu, kota barat daya berpenduduk lebih dari 21 juta orang, meredakan kekhawatiran atas permintaan konsumen energi nomor 2 dunia tersebut. Ekspor bensin dan solar di China juga mengalami rebound, yang pada akhirnya mengurangi persediaan lokal mereka yang berlimpah.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOS8xOC8xLzE1MzM5Ni8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Terlepas katalis krisis ekonomi dunia, sejumlah kabar di pasar  regional ikut memberi pengaruh pada pasar minyak, seperti pernyataan  Kuwait Petroleum Corporation (KPC) yang mengatakan ada tuntutan dari  pelanggannya untuk menahan volume yang sama tanpa adanya perubahan.  Diketahui, negara-negara teluk saat ini memproduksi rata-rata lebih dari  2,8 juta barel per hari, yang sesuai dengan kuota organisasi negara  pengekspor minyak atau OPEC.
Di tempat lain, operasi pemuatan dan ekspor minyak dari terminal  minyak Basrah Oil Company, Irak dikabarkan telah kembali menuju ke level  normal pada akhir pekan lalu, sehari setelah dihentikan produksinya  akibat tumpahan minyak yang telah diatasi.
Sementara itu di Nigeria, kapal penyimpanan dan pembongkaran Bonga,  yang berkapasitas 200.000 barel per hari dijadwalkan untuk melakukan  pemeliharaan pada bulan Oktober
Dari Amerika Serikat, perusahaan energi Baker Hughes Co melaporkan  ada kenaikan rig minyak dan gas alam untuk pertama kalinya dalam tiga  pekan terakhir. Jumlah rig minyak dan gas, yang menjadi indikator awal  produksi migas di masa depan, naik menjadi 763 per 16 September, yang  notabena tertinggi sejak Agustus.</content:encoded></item></channel></rss>
