<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Efek The Fed, Aksi Jual Bursa Saham AS Berlanjut hingga Pekan Depan</title><description>Aksi jual di Wall Street atau bursa saham AS diprediksi berlanjut hingga pekan depan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/24/278/2674287/efek-the-fed-aksi-jual-bursa-saham-as-berlanjut-hingga-pekan-depan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/09/24/278/2674287/efek-the-fed-aksi-jual-bursa-saham-as-berlanjut-hingga-pekan-depan"/><item><title>Efek The Fed, Aksi Jual Bursa Saham AS Berlanjut hingga Pekan Depan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/24/278/2674287/efek-the-fed-aksi-jual-bursa-saham-as-berlanjut-hingga-pekan-depan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/09/24/278/2674287/efek-the-fed-aksi-jual-bursa-saham-as-berlanjut-hingga-pekan-depan</guid><pubDate>Sabtu 24 September 2022 19:54 WIB</pubDate><dc:creator>Dinar Fitra Maghiszha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/09/24/278/2674287/efek-the-fed-aksi-jual-bursa-saham-as-berlanjut-hingga-pekan-depan-ROEurXflek.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Wall Street melemah (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/09/24/278/2674287/efek-the-fed-aksi-jual-bursa-saham-as-berlanjut-hingga-pekan-depan-ROEurXflek.jpg</image><title>Wall Street melemah (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Aksi jual di Wall Street atau bursa saham AS diprediksi berlanjut hingga pekan depan. Bursa saham AS mengalami aksi jual yang cukup masif dalam pekan terakhir ini yang mengguncang pasar saham dan obligasi.
BACA JUGA:Wall Street Terpuruk, Indeks Dow Jones Kehilangan 486,27 Poin

Data penutupan minggu ini mencatat, Dow Jones Industrial Average turun 1,62%, menjadi 29.590,41, S&amp;amp;P 500 kehilangan 64,76 poin, atau 1,72% di 3.693,23, sedangkan Nasdaq Composite anjlok 1,80%, ke 10.867,93.
Chief Investment Strategist CFRA Research, Sam Stovall mencermati sentimen suku bunga dan proyeksinya tahun depan dari bank sentral Amerika Serikat/Federal Reserve masih menjadi lokomotif penggerak profit-taking investor ke depan.
BACA JUGA:Wall Street Anjlok, Investor Jual Saham Pertumbuhan dan Teknologi 

&quot;Pasar saat ini sedang mengalami krisis kepercayaan,&quot; kata Sam, dilansir Reuters, Sabtu (24/9/2022).
Sebelumnya, The Fed merespons lonjakan inflasi AS mengerek Fed funds rate sebesar 75 basis poin (bps). Angka itu tepat sesuai prakiraan pasar. Namun, Gubernur Jerome Powell dalam sambutannya menegaskan ada potensi kenaikan suku bunga lanjutan hingga 4,6% pada tahun depan.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMC8xOS82Ny8xMjM1MTUvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Proyeksi ini dinilai akan menjadi beban pasar ekuitas dalam waktu  dekat. Indeks Volatilitas Cboe, yang dikenal sebagai pengukur ketakutan  investor Wall Street, pada hari Jumat melesat di atas 30, titik  tertinggi sejak akhir Juni. Namun, angka tersebut masih berada di bawah  level rata-rata 37.
Analis BNY Mellon, Jake Molly memaparkan kunci utama yang harus  diperhatikan investor dalam beberapa minggu mendatang adalah seberapa  tajam perkiraan penurunan pendapatan perusahaan pada periode laporan  keuangan kuartalan. Apabila kinerja keuangan perusahaan mampu positif  maka diperkirakan dapat menyeimbangi ketakutan atas resesi.
&quot;Sentimen resesi kemungkinan akan mendorong S&amp;amp;P 500 untuk diperdagangkan antara 3.000 dan 3.500 pada 2023,&quot; kata Jolly.</description><content:encoded>JAKARTA - Aksi jual di Wall Street atau bursa saham AS diprediksi berlanjut hingga pekan depan. Bursa saham AS mengalami aksi jual yang cukup masif dalam pekan terakhir ini yang mengguncang pasar saham dan obligasi.
BACA JUGA:Wall Street Terpuruk, Indeks Dow Jones Kehilangan 486,27 Poin

Data penutupan minggu ini mencatat, Dow Jones Industrial Average turun 1,62%, menjadi 29.590,41, S&amp;amp;P 500 kehilangan 64,76 poin, atau 1,72% di 3.693,23, sedangkan Nasdaq Composite anjlok 1,80%, ke 10.867,93.
Chief Investment Strategist CFRA Research, Sam Stovall mencermati sentimen suku bunga dan proyeksinya tahun depan dari bank sentral Amerika Serikat/Federal Reserve masih menjadi lokomotif penggerak profit-taking investor ke depan.
BACA JUGA:Wall Street Anjlok, Investor Jual Saham Pertumbuhan dan Teknologi 

&quot;Pasar saat ini sedang mengalami krisis kepercayaan,&quot; kata Sam, dilansir Reuters, Sabtu (24/9/2022).
Sebelumnya, The Fed merespons lonjakan inflasi AS mengerek Fed funds rate sebesar 75 basis poin (bps). Angka itu tepat sesuai prakiraan pasar. Namun, Gubernur Jerome Powell dalam sambutannya menegaskan ada potensi kenaikan suku bunga lanjutan hingga 4,6% pada tahun depan.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMC8xOS82Ny8xMjM1MTUvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Proyeksi ini dinilai akan menjadi beban pasar ekuitas dalam waktu  dekat. Indeks Volatilitas Cboe, yang dikenal sebagai pengukur ketakutan  investor Wall Street, pada hari Jumat melesat di atas 30, titik  tertinggi sejak akhir Juni. Namun, angka tersebut masih berada di bawah  level rata-rata 37.
Analis BNY Mellon, Jake Molly memaparkan kunci utama yang harus  diperhatikan investor dalam beberapa minggu mendatang adalah seberapa  tajam perkiraan penurunan pendapatan perusahaan pada periode laporan  keuangan kuartalan. Apabila kinerja keuangan perusahaan mampu positif  maka diperkirakan dapat menyeimbangi ketakutan atas resesi.
&quot;Sentimen resesi kemungkinan akan mendorong S&amp;amp;P 500 untuk diperdagangkan antara 3.000 dan 3.500 pada 2023,&quot; kata Jolly.</content:encoded></item></channel></rss>
