<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ramal Ekonomi Dunia Resesi, Indonesia Bagaimana Bu Sri Mulyani?</title><description>Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meramal ekonomi dunia resesi pada 2023. Lantas bagaimana dengan nasib ekonomi Indonesia</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/27/320/2675589/ramal-ekonomi-dunia-resesi-indonesia-bagaimana-bu-sri-mulyani</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/09/27/320/2675589/ramal-ekonomi-dunia-resesi-indonesia-bagaimana-bu-sri-mulyani"/><item><title>Ramal Ekonomi Dunia Resesi, Indonesia Bagaimana Bu Sri Mulyani?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/27/320/2675589/ramal-ekonomi-dunia-resesi-indonesia-bagaimana-bu-sri-mulyani</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/09/27/320/2675589/ramal-ekonomi-dunia-resesi-indonesia-bagaimana-bu-sri-mulyani</guid><pubDate>Selasa 27 September 2022 08:21 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/09/27/320/2675589/ramal-ekonomi-dunia-resesi-indonesia-bagaimana-bu-sri-mulyani-cFlqHJjLOZ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kabar buruk dari Sri Mulyani ekonomi dunia resesi (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/09/27/320/2675589/ramal-ekonomi-dunia-resesi-indonesia-bagaimana-bu-sri-mulyani-cFlqHJjLOZ.jpg</image><title>Kabar buruk dari Sri Mulyani ekonomi dunia resesi (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meramal ekonomi dunia resesi pada 2023. Lantas bagaimana dengan nasib ekonomi Indonesia?
Dia mengatakan Indonesia perlu melakukan antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya pelemahan kinerja perekonomian dunia akibat inflasi tinggi dan kenaikan suku bunga. Meski begitu, kegiatan ekonomi Indonesia mulai menunjukkan kinerja yang positif dilihat dari mobilitas masyarakat yang sudah berada di atas level pandemi.
Tak hanya itu, dia juga menyampaikan distribusi kinerja Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur secara global mengalami penurunan dari 51,1 ke 50,3.
BACA JUGA:Kabar Buruk dari Sri Mulyani: Ekonomi Dunia Dipastikan Resesi di 2023
&quot;Namun bila dilihat pada negera G20 dan ASEAN-6, hanya sejumlah 24% negara yang aktivitas PMI nya mengalami akselerasi dan ekspansi atau meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Sejumlah negara tersebut termasuk Indonesia, Thailand, Filipina, Rusia, Vietnam, dan Arab Saudi,&quot; ungkap Sri di Jakarta, dikutip Selasa(27/9/2022).
Namun, dia mencatat hanya 32% yaitu negara-negara seperti Amerika, Jepang, India, Malaysia, Brazil Australia, Singapura, dan Afrika Selatan yang performa PMI-nya mengalami perlambatan, atau kondisinya turun levelnya dari bulan sebelumnya.
BACA JUGA:Sri Mulyani Akui Rumit Buat Kebijakan di Tengah Perang hingga Melemahnya Ekonomi Dunia
&quot;Dan bahkan 40% negara-negara ini, yaitu Eropa, Jerman, Italia,Inggris, Korsel, Kanada, Meksiko, Spanyol, dan Turki, sekarang PMI sudah masuk kepada level kontraksi. Artinya mayoritas melambat dan kontraktif,&amp;rdquo; ungkap Sri.
Selain itu, kinerja perekonomian Indonesia sampai dengan bulan Agustus 2022 juga semakin membaik, yaitu tumbuh hingga 5,4%.
&amp;ldquo;Indonesia sampai dengan semester 1 Tahun 2022 ini, level dari GDP kita sudah 7,1 persen di atas level sebelum terjadinya pandemi. Ini berarti kita sudah recover dari sisi level ekonominya. Namun negara seperti Meksiko, Thailand, dan Jepang, GDP levelnya hari ini masih di bawah pre pandemi level. Artinya mereka sama sekali belum pulih,&amp;rdquo; tutur Sri.


Perbaikan kinerja ekonomi Indonesia tentunya tidak lepas dari  dukungan di berbagai sektor, di antaranya kinerja ekspor yang cukup  impresif, sehinga mencatatkan surplus pada neraca perdagangan mencapai  USD5,76 miliar hingga Agustus 2022.
&amp;ldquo;Ekspor sekali lagi membukukan kenaikan yang cukup impresif. Kita  lihat di bulan Agustus bahkan mencapai USD 27,9 miliar. Ini tertinggi  dalam sejarah kita,&amp;rdquo; tambahnya.
Kemudian, dari sisi penjualan ritel Indonesia juga tercatat cukup  kuat pertumbuhannya di angka di 5,4%, indeks PMI ekspansif di angka  51,7, pertumbuhan konsumsi listrik mencapai 24,1%, pertumbuhan pada  sektor industri sebesar 11,2%, serta pertumbuhan pada kapasitas produksi  manufaktur dan pertambangan, juga Mandiri Spending Indeks yang  menunjukkan level optimis.
Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi oleh berbagai  lembaga internasional berada pada level antara 5,1 hingga 5,4% untuk  tahun 2022.
&amp;ldquo;IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini 5,3,  Bank  Dunia di 5,1,  ADB 5,4, dan Bloomberg konsensus forecast di 5,2. Untuk  tahun depan masih relatif stabil. IMF memprediksikan perekonomian  Indonesia di 5,2, Bank Dunia di 5,3, ADB masih di 5,0, dan Bloomberg  forecast konsensus di 5,0. Ini menggambarkan bahwa confidence dan juga  kinerja dari perekonomian Indonesia dianggap cukup resilient terhadap  kemungkinan terjadinya perlemahan ekonomi global. Ini tentu sesuatu yang  positif tapi perlu kita jaga,&amp;rdquo; jelas Sri.
Capaian itu tentunya tidak lepas dari kinerja positif Anggaran  Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebagai pondasi utama dalam  mengantisipasi ketidakpastian perekonomian global, serta dampak inflasi.
&amp;ldquo;Kondisi inilah yang terus akan kita monitor dan tentu kita kelola  untuk tidak berimbas terlalu besar pada perekonomian dalam negeri dan  juga pada kinerja dari APBN kita. APBN terus akan bekerja sangat keras  untuk melindungi masyarakat dan perekonomian, serta melindungi APBN  sendiri dari guncangan guncangan yang terjadi akibat gejolak yang  terjadi di pasar keuangan global, pasar komoditi, maupun geopolitik,&amp;rdquo;  pungkas Sri.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meramal ekonomi dunia resesi pada 2023. Lantas bagaimana dengan nasib ekonomi Indonesia?
Dia mengatakan Indonesia perlu melakukan antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya pelemahan kinerja perekonomian dunia akibat inflasi tinggi dan kenaikan suku bunga. Meski begitu, kegiatan ekonomi Indonesia mulai menunjukkan kinerja yang positif dilihat dari mobilitas masyarakat yang sudah berada di atas level pandemi.
Tak hanya itu, dia juga menyampaikan distribusi kinerja Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur secara global mengalami penurunan dari 51,1 ke 50,3.
BACA JUGA:Kabar Buruk dari Sri Mulyani: Ekonomi Dunia Dipastikan Resesi di 2023
&quot;Namun bila dilihat pada negera G20 dan ASEAN-6, hanya sejumlah 24% negara yang aktivitas PMI nya mengalami akselerasi dan ekspansi atau meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Sejumlah negara tersebut termasuk Indonesia, Thailand, Filipina, Rusia, Vietnam, dan Arab Saudi,&quot; ungkap Sri di Jakarta, dikutip Selasa(27/9/2022).
Namun, dia mencatat hanya 32% yaitu negara-negara seperti Amerika, Jepang, India, Malaysia, Brazil Australia, Singapura, dan Afrika Selatan yang performa PMI-nya mengalami perlambatan, atau kondisinya turun levelnya dari bulan sebelumnya.
BACA JUGA:Sri Mulyani Akui Rumit Buat Kebijakan di Tengah Perang hingga Melemahnya Ekonomi Dunia
&quot;Dan bahkan 40% negara-negara ini, yaitu Eropa, Jerman, Italia,Inggris, Korsel, Kanada, Meksiko, Spanyol, dan Turki, sekarang PMI sudah masuk kepada level kontraksi. Artinya mayoritas melambat dan kontraktif,&amp;rdquo; ungkap Sri.
Selain itu, kinerja perekonomian Indonesia sampai dengan bulan Agustus 2022 juga semakin membaik, yaitu tumbuh hingga 5,4%.
&amp;ldquo;Indonesia sampai dengan semester 1 Tahun 2022 ini, level dari GDP kita sudah 7,1 persen di atas level sebelum terjadinya pandemi. Ini berarti kita sudah recover dari sisi level ekonominya. Namun negara seperti Meksiko, Thailand, dan Jepang, GDP levelnya hari ini masih di bawah pre pandemi level. Artinya mereka sama sekali belum pulih,&amp;rdquo; tutur Sri.


Perbaikan kinerja ekonomi Indonesia tentunya tidak lepas dari  dukungan di berbagai sektor, di antaranya kinerja ekspor yang cukup  impresif, sehinga mencatatkan surplus pada neraca perdagangan mencapai  USD5,76 miliar hingga Agustus 2022.
&amp;ldquo;Ekspor sekali lagi membukukan kenaikan yang cukup impresif. Kita  lihat di bulan Agustus bahkan mencapai USD 27,9 miliar. Ini tertinggi  dalam sejarah kita,&amp;rdquo; tambahnya.
Kemudian, dari sisi penjualan ritel Indonesia juga tercatat cukup  kuat pertumbuhannya di angka di 5,4%, indeks PMI ekspansif di angka  51,7, pertumbuhan konsumsi listrik mencapai 24,1%, pertumbuhan pada  sektor industri sebesar 11,2%, serta pertumbuhan pada kapasitas produksi  manufaktur dan pertambangan, juga Mandiri Spending Indeks yang  menunjukkan level optimis.
Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi oleh berbagai  lembaga internasional berada pada level antara 5,1 hingga 5,4% untuk  tahun 2022.
&amp;ldquo;IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini 5,3,  Bank  Dunia di 5,1,  ADB 5,4, dan Bloomberg konsensus forecast di 5,2. Untuk  tahun depan masih relatif stabil. IMF memprediksikan perekonomian  Indonesia di 5,2, Bank Dunia di 5,3, ADB masih di 5,0, dan Bloomberg  forecast konsensus di 5,0. Ini menggambarkan bahwa confidence dan juga  kinerja dari perekonomian Indonesia dianggap cukup resilient terhadap  kemungkinan terjadinya perlemahan ekonomi global. Ini tentu sesuatu yang  positif tapi perlu kita jaga,&amp;rdquo; jelas Sri.
Capaian itu tentunya tidak lepas dari kinerja positif Anggaran  Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebagai pondasi utama dalam  mengantisipasi ketidakpastian perekonomian global, serta dampak inflasi.
&amp;ldquo;Kondisi inilah yang terus akan kita monitor dan tentu kita kelola  untuk tidak berimbas terlalu besar pada perekonomian dalam negeri dan  juga pada kinerja dari APBN kita. APBN terus akan bekerja sangat keras  untuk melindungi masyarakat dan perekonomian, serta melindungi APBN  sendiri dari guncangan guncangan yang terjadi akibat gejolak yang  terjadi di pasar keuangan global, pasar komoditi, maupun geopolitik,&amp;rdquo;  pungkas Sri.</content:encoded></item></channel></rss>
