<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>FAO: Perang dan Perubahan Iklim Picu Lebih Banyak Krisis Pangan</title><description>Organisasi Pangan Internasional (FAO) mengatakan perang dan perubahan iklim memicu lebih banyak krisis pangan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/29/320/2677118/fao-perang-dan-perubahan-iklim-picu-lebih-banyak-krisis-pangan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/09/29/320/2677118/fao-perang-dan-perubahan-iklim-picu-lebih-banyak-krisis-pangan"/><item><title>FAO: Perang dan Perubahan Iklim Picu Lebih Banyak Krisis Pangan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/09/29/320/2677118/fao-perang-dan-perubahan-iklim-picu-lebih-banyak-krisis-pangan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/09/29/320/2677118/fao-perang-dan-perubahan-iklim-picu-lebih-banyak-krisis-pangan</guid><pubDate>Kamis 29 September 2022 08:37 WIB</pubDate><dc:creator>Shelma Rachmahyanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/09/29/320/2677118/fao-perang-dan-perubahan-iklim-picu-lebih-banyak-krisis-pangan-BnXgdHGlPi.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Perang hingga perubahan iklim perluas krisis pangan (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/09/29/320/2677118/fao-perang-dan-perubahan-iklim-picu-lebih-banyak-krisis-pangan-BnXgdHGlPi.jpg</image><title>Perang hingga perubahan iklim perluas krisis pangan (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Organisasi Pangan Internasional (FAO) mengatakan perang dan perubahan iklim memicu lebih banyak krisis pangan. Kepala FAO memperingatkan konflik dan dampak terkait iklim akan tetap menjadi pendorong utama di balik krisis pangan, dan menyerukan ketahanan serta lebih banyak upaya untuk perdamaian.
Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu mengatakan, melonjaknya harga pangan global yang sebagian dipicu oleh konflik antara Rusia dan Ukraina memiliki &quot;implikasi yang menghancurkan&quot; bagi pasokan pangan dan nutrisi global, terutama di negara-negara yang paling rentan.
BACA JUGA:Antisipasi Krisis Pangan, Holding BUMN Pupuk Buat Peta Jalan Riset 2022-2031

Dia membuat pernyataan itu saat berbicara dengan menteri pertanian dari negara-negara anggota Kelompok 20 (G20) di Bali, Indonesia pada Rabu, menurut rilis berita FAO dilansir dari Antara, Kamis (29/9/2022).
&quot;Biaya manusia, sosial dan ekonomi dari konflik selalu besar, dan perdamaian merupakan prasyarat untuk ketahanan sistem pertanian pangan nasional dan internasional,&quot; katanya.
BACA JUGA:Bertemu Menteri Pertanian Negara G20, Mentan Syahrul: Ini Komitmen Atasi Krisis Pangan

Qu mencatat bahwa tren tersebut merugikan kedua sisi proses pasokan makanan.
&quot;Harga pangan sangat tinggi bagi konsumen, dan harga input sangat tinggi bagi petani.&quot;
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOS8yNy80LzE1Mzg2NS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Lima tingkat tertinggi dari Indeks Harga Pangan FAO semuanya telah  dicatat tahun ini, dipicu oleh harga energi yang lebih tinggi dan  masalah rantai pasokan yang terkait dengan krisis Ukraina. Indeks  sedikit turun dalam beberapa bulan terakhir, dan data baru untuk  September diperkirakan akan dirilis awal bulan depan.
Pernyataan Qu datang kurang dari empat bulan setelah FAO mengusulkan  Fasilitas Pembiayaan Impor Pangan yang bertujuan membantu negara-negara  yang rentan secara ekonomi untuk mengakses kredit yang akan membantu  mendanai kebutuhan darurat sambil berinvestasi dalam sistem produksi  pangan domestik yang berkelanjutan.
&quot;Kita perlu menghindari bahwa krisis akses pangan juga menjadi krisis ketersediaan pangan,&quot; kata Qu.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Organisasi Pangan Internasional (FAO) mengatakan perang dan perubahan iklim memicu lebih banyak krisis pangan. Kepala FAO memperingatkan konflik dan dampak terkait iklim akan tetap menjadi pendorong utama di balik krisis pangan, dan menyerukan ketahanan serta lebih banyak upaya untuk perdamaian.
Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu mengatakan, melonjaknya harga pangan global yang sebagian dipicu oleh konflik antara Rusia dan Ukraina memiliki &quot;implikasi yang menghancurkan&quot; bagi pasokan pangan dan nutrisi global, terutama di negara-negara yang paling rentan.
BACA JUGA:Antisipasi Krisis Pangan, Holding BUMN Pupuk Buat Peta Jalan Riset 2022-2031

Dia membuat pernyataan itu saat berbicara dengan menteri pertanian dari negara-negara anggota Kelompok 20 (G20) di Bali, Indonesia pada Rabu, menurut rilis berita FAO dilansir dari Antara, Kamis (29/9/2022).
&quot;Biaya manusia, sosial dan ekonomi dari konflik selalu besar, dan perdamaian merupakan prasyarat untuk ketahanan sistem pertanian pangan nasional dan internasional,&quot; katanya.
BACA JUGA:Bertemu Menteri Pertanian Negara G20, Mentan Syahrul: Ini Komitmen Atasi Krisis Pangan

Qu mencatat bahwa tren tersebut merugikan kedua sisi proses pasokan makanan.
&quot;Harga pangan sangat tinggi bagi konsumen, dan harga input sangat tinggi bagi petani.&quot;
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOS8yNy80LzE1Mzg2NS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Lima tingkat tertinggi dari Indeks Harga Pangan FAO semuanya telah  dicatat tahun ini, dipicu oleh harga energi yang lebih tinggi dan  masalah rantai pasokan yang terkait dengan krisis Ukraina. Indeks  sedikit turun dalam beberapa bulan terakhir, dan data baru untuk  September diperkirakan akan dirilis awal bulan depan.
Pernyataan Qu datang kurang dari empat bulan setelah FAO mengusulkan  Fasilitas Pembiayaan Impor Pangan yang bertujuan membantu negara-negara  yang rentan secara ekonomi untuk mengakses kredit yang akan membantu  mendanai kebutuhan darurat sambil berinvestasi dalam sistem produksi  pangan domestik yang berkelanjutan.
&quot;Kita perlu menghindari bahwa krisis akses pangan juga menjadi krisis ketersediaan pangan,&quot; kata Qu.</content:encoded></item></channel></rss>
