<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Milenial 'Malas' Jadi Petani, Apa Alasannya?</title><description>Alasan generasi milenial malas jadi petani. Produksi beras di Indonesia  disebut menjadi salah satu alasan milenial ogah menjadi petani.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/01/320/2678731/milenial-malas-jadi-petani-apa-alasannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/10/01/320/2678731/milenial-malas-jadi-petani-apa-alasannya"/><item><title>Milenial 'Malas' Jadi Petani, Apa Alasannya?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/01/320/2678731/milenial-malas-jadi-petani-apa-alasannya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/10/01/320/2678731/milenial-malas-jadi-petani-apa-alasannya</guid><pubDate>Sabtu 01 Oktober 2022 14:39 WIB</pubDate><dc:creator>Advenia Elisabeth</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/01/320/2678731/milenial-malas-jadi-petani-apa-alasannya-1pi883HJLt.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Guru Besar IPB Dwi Andreas menjelaskan alasan milenial malas jadi petani (Foto: MPI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/01/320/2678731/milenial-malas-jadi-petani-apa-alasannya-1pi883HJLt.jpg</image><title>Guru Besar IPB Dwi Andreas menjelaskan alasan milenial malas jadi petani (Foto: MPI)</title></images><description>JAKARTA - Alasan generasi milenial malas jadi petani. Produksi beras di Indonesia disebut menjadi salah satu alasan milenial ogah menjadi petani.
Selama ini, data yang dilaporkan dan hasil produksi beras di lapangan kerap berbeda. Hal ini juga dipertanyakan Guru Besar IPB sekaligus anggota Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), Prof. Dwi Andreas Santosa.
BACA JUGA:5 Kota Terbaik di Dunia untuk Wisatawan Milenial

Sebab, berdasarkan catatannya, produksi beras nasional menurun selama tiga tahun terakhir. Di tengah kondisi tersebut pemerintah justru menerima penghargaan dari Institut Penelitian Padi Internasional (IRRI) karena telah memiliki sistem ketahanan pangan yang baik dan berhasil swasembada beras pada periode 2019-2021.
&quot;Yang katanya tiga tahun terakhir ini produksi beras nasional meningkat, meningkatnya dari mana? tidak ada produksi padi meningkat di tiga tahun terakhir. Bahkan sebenarnya turun, rata rata 2,7% per tahunnya,&quot; ungkap Prof Dwi dalam dialog di MNC Trijaya, Sabtu (1/10/2022).
BACA JUGA:Ada Kereta Api Khusus Milenial, Intip Penampakannya

Dia memaparkan, berdasarkan data yang dihimpun,  pada tahun 2019 produksi padi nasional turun 7,7%, lalu pada tahun 2020 naik sangat amat kecil yakni 0,09% kemudian tahun 2021 turun lagi 0,42%.
&quot;Jadi di mana makna penghargaan beras tersebut?,&quot; ucapnyanya.z
Lanjut Dwi, bahkan yang seharusnya saat Indonesia mengalami fenomena La Nina atau iklim kemarau basah bisa mendorong produksi padi lumayan tinggi tetapi tidak terjadi.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOS8zMC8xLzE1NDA0NC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Tahun 2020 sampai dengan saat ini kita mengalami fenomena La Nina.  Peristiwa La Nina itu pada dasarnya selalu meningkatkan produksi cukup  tajam. Yang paling rendah peningkatan produksi akibat La Nina paling itu  tahun 2007 sebesar 4,7% lalu tertinggi tahun 2016 sebesar 9,6%. Lah kok  di tahun 2020 hanya naik 0,09 %. Malah di tahun 2021 yang saat itu  terjadi La Nina produksinya turun,&quot; ujarnya.
Pertanyaan besarnya, mengapa demikian?
Dwi menerangkan, berdasarkan survei AB2TI setiap bulan di seluruh  jaringan tani di 46 kabupaten, sejak Agustus 2019 sampai dengan Juni  2022 harga gabah kering panen di tingkat petani terus mengalami  penurunan.
&quot;Teman-teman tani kami sudah semakin malas menanam padi. Kenapa  menanam padi malas? karena sudah sangat jomplang antara biaya produksi  dengan harga jual. Para petani itu jadinya rugi,&quot; jelas dia.
Maka dari itu, sambung Dwi, tak ayal jika saat ini kaum milenial tidak berminat bertani.
&quot;Petani itu kan realistis, dalam arti kalau mereka menanam sesuatu  dan itu tidak menguntungkan maka akan ditinggalkan, ketika ditinggalkan,  lahan tersebut biasanya dilepas karena sudah tidak menguntungkan bagi  para petani untuk bertani,&quot; tukasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Alasan generasi milenial malas jadi petani. Produksi beras di Indonesia disebut menjadi salah satu alasan milenial ogah menjadi petani.
Selama ini, data yang dilaporkan dan hasil produksi beras di lapangan kerap berbeda. Hal ini juga dipertanyakan Guru Besar IPB sekaligus anggota Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), Prof. Dwi Andreas Santosa.
BACA JUGA:5 Kota Terbaik di Dunia untuk Wisatawan Milenial

Sebab, berdasarkan catatannya, produksi beras nasional menurun selama tiga tahun terakhir. Di tengah kondisi tersebut pemerintah justru menerima penghargaan dari Institut Penelitian Padi Internasional (IRRI) karena telah memiliki sistem ketahanan pangan yang baik dan berhasil swasembada beras pada periode 2019-2021.
&quot;Yang katanya tiga tahun terakhir ini produksi beras nasional meningkat, meningkatnya dari mana? tidak ada produksi padi meningkat di tiga tahun terakhir. Bahkan sebenarnya turun, rata rata 2,7% per tahunnya,&quot; ungkap Prof Dwi dalam dialog di MNC Trijaya, Sabtu (1/10/2022).
BACA JUGA:Ada Kereta Api Khusus Milenial, Intip Penampakannya

Dia memaparkan, berdasarkan data yang dihimpun,  pada tahun 2019 produksi padi nasional turun 7,7%, lalu pada tahun 2020 naik sangat amat kecil yakni 0,09% kemudian tahun 2021 turun lagi 0,42%.
&quot;Jadi di mana makna penghargaan beras tersebut?,&quot; ucapnyanya.z
Lanjut Dwi, bahkan yang seharusnya saat Indonesia mengalami fenomena La Nina atau iklim kemarau basah bisa mendorong produksi padi lumayan tinggi tetapi tidak terjadi.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOS8zMC8xLzE1NDA0NC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Tahun 2020 sampai dengan saat ini kita mengalami fenomena La Nina.  Peristiwa La Nina itu pada dasarnya selalu meningkatkan produksi cukup  tajam. Yang paling rendah peningkatan produksi akibat La Nina paling itu  tahun 2007 sebesar 4,7% lalu tertinggi tahun 2016 sebesar 9,6%. Lah kok  di tahun 2020 hanya naik 0,09 %. Malah di tahun 2021 yang saat itu  terjadi La Nina produksinya turun,&quot; ujarnya.
Pertanyaan besarnya, mengapa demikian?
Dwi menerangkan, berdasarkan survei AB2TI setiap bulan di seluruh  jaringan tani di 46 kabupaten, sejak Agustus 2019 sampai dengan Juni  2022 harga gabah kering panen di tingkat petani terus mengalami  penurunan.
&quot;Teman-teman tani kami sudah semakin malas menanam padi. Kenapa  menanam padi malas? karena sudah sangat jomplang antara biaya produksi  dengan harga jual. Para petani itu jadinya rugi,&quot; jelas dia.
Maka dari itu, sambung Dwi, tak ayal jika saat ini kaum milenial tidak berminat bertani.
&quot;Petani itu kan realistis, dalam arti kalau mereka menanam sesuatu  dan itu tidak menguntungkan maka akan ditinggalkan, ketika ditinggalkan,  lahan tersebut biasanya dilepas karena sudah tidak menguntungkan bagi  para petani untuk bertani,&quot; tukasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
