<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Indonesia Hadapi Masalah Serius Soal Ketahanan Pangan</title><description>Indonesia menghadapi masalah serius soal ketahanan pangan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/01/320/2678797/indonesia-hadapi-masalah-serius-soal-ketahanan-pangan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/10/01/320/2678797/indonesia-hadapi-masalah-serius-soal-ketahanan-pangan"/><item><title>Indonesia Hadapi Masalah Serius Soal Ketahanan Pangan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/01/320/2678797/indonesia-hadapi-masalah-serius-soal-ketahanan-pangan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/10/01/320/2678797/indonesia-hadapi-masalah-serius-soal-ketahanan-pangan</guid><pubDate>Sabtu 01 Oktober 2022 17:19 WIB</pubDate><dc:creator>Ikhsan Permana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/01/320/2678797/indonesia-hadapi-masalah-serius-soal-ketahanan-pangan-CK6DdmtKNt.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Indonesia menghadapi masalah ketahanan pangan (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/01/320/2678797/indonesia-hadapi-masalah-serius-soal-ketahanan-pangan-CK6DdmtKNt.jpg</image><title>Indonesia menghadapi masalah ketahanan pangan (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Indonesia menghadapi masalah serius soal ketahanan pangan. Saat ini, Indonesia masih dianggap ekonominya cukup baik karena di dorong oleh harga komoditas yang sedang booming.
&quot;Nilai tukar petani ini kenapa nggak nyambung, naik terus sementara soal masalah pangannya kita mau impor, ada masalah serius soal ketahanan pangannya,&quot; ungkap Ekonom dan Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira dalam acara Polemik yang disiarkan di laman YouTube MNC Trijaya, Sabtu (1/10/2022).
BACA JUGA:Krisis Pangan Melanda Dunia, Jokowi: Bapak Ibu Bersyukur Masih Bisa ke Restoran Tiap Hari

Bhima meminta masyarakat harus melihat lebih kritis soal masalah nilai tukar petani yang naiknya cukup tinggi yang ada di sektor tanaman perkebunan.
&quot;Yang jelas sawit satu semester terakhir itu naiknya cukup tinggi,&quot; terangnya.
BACA JUGA:FAO: Perang dan Perubahan Iklim Picu Lebih Banyak Krisis Pangan

Bhima menambahkan, sekarang jika dibalik resiko ke depan, kalau resesi ekonomi terjadi secara global yang membeli sawit akan turun, itu di sektor pertanian. yang beli barang-barang tambang juga mengalami moderasi atau penurunan.
&quot;Sehingga apa, ini yang tadinya kita surplus APBNnya Rp100 triliun lebih surplus neraca perdagangannya gemuk, jadi dalam waktu singkat kalau kita hanya mengandalkan naik turunnya harga komoditas internasional, itu bisa berbalik arah,&quot; jelas Bhima.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOS8yOS8xLzE1Mzk5OS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Dia menyebut bahwa harga sawit di pasar internasional sekarang  kembali lagi ke posisi Juni 2021, jadi nilai tukar petani yang tadi  mulai naik itu bisa dalam waktu singkat berbalik turun.
&quot;Jadi kita melihatnya secara kritis bahwa ini nggak aman-aman juga,  karena mengandalkan naik turunnya ini. Naik turunnya ini mau bicara  penerimaan negara kalau kita hanya mengandalkan naik turunnya harga  komoditas, itu bisa berbalik arah,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Indonesia menghadapi masalah serius soal ketahanan pangan. Saat ini, Indonesia masih dianggap ekonominya cukup baik karena di dorong oleh harga komoditas yang sedang booming.
&quot;Nilai tukar petani ini kenapa nggak nyambung, naik terus sementara soal masalah pangannya kita mau impor, ada masalah serius soal ketahanan pangannya,&quot; ungkap Ekonom dan Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira dalam acara Polemik yang disiarkan di laman YouTube MNC Trijaya, Sabtu (1/10/2022).
BACA JUGA:Krisis Pangan Melanda Dunia, Jokowi: Bapak Ibu Bersyukur Masih Bisa ke Restoran Tiap Hari

Bhima meminta masyarakat harus melihat lebih kritis soal masalah nilai tukar petani yang naiknya cukup tinggi yang ada di sektor tanaman perkebunan.
&quot;Yang jelas sawit satu semester terakhir itu naiknya cukup tinggi,&quot; terangnya.
BACA JUGA:FAO: Perang dan Perubahan Iklim Picu Lebih Banyak Krisis Pangan

Bhima menambahkan, sekarang jika dibalik resiko ke depan, kalau resesi ekonomi terjadi secara global yang membeli sawit akan turun, itu di sektor pertanian. yang beli barang-barang tambang juga mengalami moderasi atau penurunan.
&quot;Sehingga apa, ini yang tadinya kita surplus APBNnya Rp100 triliun lebih surplus neraca perdagangannya gemuk, jadi dalam waktu singkat kalau kita hanya mengandalkan naik turunnya harga komoditas internasional, itu bisa berbalik arah,&quot; jelas Bhima.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOS8yOS8xLzE1Mzk5OS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Dia menyebut bahwa harga sawit di pasar internasional sekarang  kembali lagi ke posisi Juni 2021, jadi nilai tukar petani yang tadi  mulai naik itu bisa dalam waktu singkat berbalik turun.
&quot;Jadi kita melihatnya secara kritis bahwa ini nggak aman-aman juga,  karena mengandalkan naik turunnya ini. Naik turunnya ini mau bicara  penerimaan negara kalau kita hanya mengandalkan naik turunnya harga  komoditas, itu bisa berbalik arah,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
