<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rupiah Anjlok ke Rp15.200/USD, Apa Kata BI?</title><description>Nilai tukar Rupiah belakangan ini melemah terhadap dolar AS.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/01/320/2678831/rupiah-anjlok-ke-rp15-200-usd-apa-kata-bi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/10/01/320/2678831/rupiah-anjlok-ke-rp15-200-usd-apa-kata-bi"/><item><title>Rupiah Anjlok ke Rp15.200/USD, Apa Kata BI?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/01/320/2678831/rupiah-anjlok-ke-rp15-200-usd-apa-kata-bi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/10/01/320/2678831/rupiah-anjlok-ke-rp15-200-usd-apa-kata-bi</guid><pubDate>Sabtu 01 Oktober 2022 18:57 WIB</pubDate><dc:creator>Kurniasih Miftakhul Jannah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/01/320/2678831/rupiah-anjlok-ke-rp15-200-usd-apa-kata-bi-JHjzrVY2Ba.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rupiah melemah (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/01/320/2678831/rupiah-anjlok-ke-rp15-200-usd-apa-kata-bi-JHjzrVY2Ba.jpg</image><title>Rupiah melemah (Foto: Shutterstock)</title></images><description>BALI - Nilai tukar Rupiah belakangan ini melemah terhadap dolar AS. Kendati demikian, Bank Indonesia (BI) optimistis nilai tukar Rupiah ke depan bisa lebih stabil meski tekanan dari eksternal masih relatif tinggi.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Wahyu Agung Nugroho menjelaskan, tekanan yang terjadi pada Rupiah saat ini tidak terlepas dari ketidakpastian pasar keuangan global.
BACA JUGA:6 Fakta Nilai Tukar Rupiah Anjlok

Namun, dengan kinerja ekspor yang kuat serta langkah-langkah stabilisasi BI melalui intervensi di spot market ataupun Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), depresiasi Rupiah dinilai relatif lebih aman dibandingkan negara berkembang lain.
&quot;Ke depan, memang kita meyakini dengan kebijakan intervensi valas dan intervensi DNDF serta kebijakan pre-emptive dan didukung kenaikan suku bunga BI-7 Days Reverse Repo Rate kemarin, insya Allah ke depan rupiah akan lebih stabil lagi,&quot; ujar Wahyu dilansir dari Antara, Sabtu (1/10/2022).

BACA JUGA:Rupiah Sedikit Menguat Didukung Pernyataan Jokowi Soal Inflasi Terkendali 


Nilai tukar rupiah pada 30 September 2022 terdepresiasi 2,24% (ptp) dibandingkan dengan akhir Agustus 2022 dan terdepresiasi 6,4% (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2021.
Depresiasi rupiah itu relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti India 8,65%, Malaysia 10,16%, dan Thailand 11,36%.
Perkembangan nilai tukar yang tetap terjaga tersebut ditopang oleh pasokan valas domestik dan persepsi positif terhadap prospek perekonomian domestik, serta langkah-langkah stabilisasi Bank Indonesia.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wNy8wNi80LzE1MDIyNS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai  tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya untuk mendukung upaya  pengendalian inflasi dan stabilitas makro ekonomi.
&quot;Harapannya memang walau tekanan masih akan cukup tinggi, rupiah bisa  lebih stabil. Tekanan saat ini lebih cenderung karena adanya kebijakan  moneter yang agresif baik The Fed maupun ECB. Ada ketidakpastian  mengenai kapan sih The Fed akan selesai naikkan suku bunga dan berapa  besar,&quot; kata Wahyu.
BI memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai bagian untuk  pengendalian inflasi dengan intervensi di pasar valas baik melalui  transaksi spot, DNDF, serta pembelian atau penjualan Surat Berharga  Negara (SBN) di pasar sekunder.
Bank sentral turut melanjutkan penjualan atau pembelian SBN di pasar  sekunder (operation twist) untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar  rupiah dengan meningkatkan daya tarik imbal hasil SBN bagi masuknya  investasi portofolio asing melalui kenaikan imbal hasil (yield) SBN  tenor jangka pendek, sejalan dengan kenaikan suku bunga BI7DRR dan  kenaikan struktur yield SBN jangka panjang yang lebih rendah.
Hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan tekanan inflasi lebih  bersifat jangka pendek dan akan menurun kembali ke sasarannya dalam  jangka menengah panjang.</description><content:encoded>BALI - Nilai tukar Rupiah belakangan ini melemah terhadap dolar AS. Kendati demikian, Bank Indonesia (BI) optimistis nilai tukar Rupiah ke depan bisa lebih stabil meski tekanan dari eksternal masih relatif tinggi.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Wahyu Agung Nugroho menjelaskan, tekanan yang terjadi pada Rupiah saat ini tidak terlepas dari ketidakpastian pasar keuangan global.
BACA JUGA:6 Fakta Nilai Tukar Rupiah Anjlok

Namun, dengan kinerja ekspor yang kuat serta langkah-langkah stabilisasi BI melalui intervensi di spot market ataupun Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), depresiasi Rupiah dinilai relatif lebih aman dibandingkan negara berkembang lain.
&quot;Ke depan, memang kita meyakini dengan kebijakan intervensi valas dan intervensi DNDF serta kebijakan pre-emptive dan didukung kenaikan suku bunga BI-7 Days Reverse Repo Rate kemarin, insya Allah ke depan rupiah akan lebih stabil lagi,&quot; ujar Wahyu dilansir dari Antara, Sabtu (1/10/2022).

BACA JUGA:Rupiah Sedikit Menguat Didukung Pernyataan Jokowi Soal Inflasi Terkendali 


Nilai tukar rupiah pada 30 September 2022 terdepresiasi 2,24% (ptp) dibandingkan dengan akhir Agustus 2022 dan terdepresiasi 6,4% (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2021.
Depresiasi rupiah itu relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti India 8,65%, Malaysia 10,16%, dan Thailand 11,36%.
Perkembangan nilai tukar yang tetap terjaga tersebut ditopang oleh pasokan valas domestik dan persepsi positif terhadap prospek perekonomian domestik, serta langkah-langkah stabilisasi Bank Indonesia.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wNy8wNi80LzE1MDIyNS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai  tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya untuk mendukung upaya  pengendalian inflasi dan stabilitas makro ekonomi.
&quot;Harapannya memang walau tekanan masih akan cukup tinggi, rupiah bisa  lebih stabil. Tekanan saat ini lebih cenderung karena adanya kebijakan  moneter yang agresif baik The Fed maupun ECB. Ada ketidakpastian  mengenai kapan sih The Fed akan selesai naikkan suku bunga dan berapa  besar,&quot; kata Wahyu.
BI memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai bagian untuk  pengendalian inflasi dengan intervensi di pasar valas baik melalui  transaksi spot, DNDF, serta pembelian atau penjualan Surat Berharga  Negara (SBN) di pasar sekunder.
Bank sentral turut melanjutkan penjualan atau pembelian SBN di pasar  sekunder (operation twist) untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar  rupiah dengan meningkatkan daya tarik imbal hasil SBN bagi masuknya  investasi portofolio asing melalui kenaikan imbal hasil (yield) SBN  tenor jangka pendek, sejalan dengan kenaikan suku bunga BI7DRR dan  kenaikan struktur yield SBN jangka panjang yang lebih rendah.
Hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan tekanan inflasi lebih  bersifat jangka pendek dan akan menurun kembali ke sasarannya dalam  jangka menengah panjang.</content:encoded></item></channel></rss>
