<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga BBM Jadi Biang Kerok Inflasi, Pemerintah Harus Waspada</title><description>Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada September 2022 mencapai 1,17% (month-to-month/mtm).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/05/320/2681087/harga-bbm-jadi-biang-kerok-inflasi-pemerintah-harus-waspada</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/10/05/320/2681087/harga-bbm-jadi-biang-kerok-inflasi-pemerintah-harus-waspada"/><item><title>Harga BBM Jadi Biang Kerok Inflasi, Pemerintah Harus Waspada</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/05/320/2681087/harga-bbm-jadi-biang-kerok-inflasi-pemerintah-harus-waspada</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/10/05/320/2681087/harga-bbm-jadi-biang-kerok-inflasi-pemerintah-harus-waspada</guid><pubDate>Rabu 05 Oktober 2022 13:52 WIB</pubDate><dc:creator>Advenia Elisabeth</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/05/320/2681087/harga-bbm-jadi-biang-kerok-inflasi-pemerintah-harus-waspada-vhZrUWp6Kr.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Inflasi dipicu kenaikan harga BBM (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/05/320/2681087/harga-bbm-jadi-biang-kerok-inflasi-pemerintah-harus-waspada-vhZrUWp6Kr.jpg</image><title>Inflasi dipicu kenaikan harga BBM (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada September 2022 mencapai 1,17% (month-to-month/mtm). Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, peningkatan tersebut sesuai prediksi karena imbas kenaikan BBM subsidi sebesar 30%.
&quot;Tingkat inflasi yang naik di bulan September ini memang sudah diprediksi, karena harga BBM subsidi naik 30%. Tentu akan berdampak dan terlihat jelas inflasi yang paling tinggi adalah di sektor transportasi, kedua adalah di sektor bahan makanan,&quot; kata Bhima kepada MNC Portal Indonesia, Rabu (5/10/2022).
BACA JUGA:Kenaikan Inflasi RI Masih Terendah ke-5 di Dunia 

Sambungnya, kenaikan inflasi Ini terpengaruh juga oleh biaya angkutan pada sektor pertanian yang mengalami kenaikan, kemudian menjalar juga pada distributor sampai ke tangan konsumen yang mengalami penyesuaian harga karena kenaikan tarif BBM.
Bhima pun memproyeksikan, imbas dari kenaikan harga BBM ini akan berlangsung hingga akhir tahun 2022.
BACA JUGA:Simak IG Live MNC Asset X Midas Cuan: Strategi Cari Saham Harta Karun Saat Inflasi

&quot;Imbas dari energi ini diperkirakan akan bertahan dalam waktu yang cukup lama paling tidak dalam kurun waktu sampai akhir tahun 2022. Efek naiknya harga BBM terhadap penyesuaian harga-harga barang lainnya itu akan terus dirasakan,&quot; katanya.
Oleh karena itu, dia menuturkan, yang perlu diantisipasi pemerintah adalah mengalihkan APBN yang surplus Rp107 triliun ke penambahan subsidi BBM sehingga inflasi bisa di redam.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMC8wNC80LzE1NDI4NS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Kemudian yang kedua harus menjaga pasokan makanan agar tetap stabil.  Karena kuncinya adalah pada stabilitas pangan terutama mengurangi  ketergantungan pangan yang sumbernya dari impor.
&quot;Ada beberapa barang pokok yang impornya cukup dominan. Seperti gula,  garam, gandum, daging, kedelai itu juga porsi impornya juga cukup besar  dan rentan terhadap fluktuasi nilai tukar Rupiah yang terjadi saat ini.  Jadi harus dicari substitusi substitusi dari impor pangan dalam  negeri,&quot; terang Bhima.
Ketiga adalah meningkatkan alokasi subsidi pupuk dan merealokasikan  sebagian dari anggaran yang ada di Pemerintah Daerah untuk melakukan  subsidi angkutan di sektor pangan agar tepat sasaran.
&quot;Dari sisi transportasi transportasi idealnya pemerintah memberikan  subsidi transportasi publik yang cukup signifikan misalnya penurunan  tarif transportasi sebesar 30% untuk transportasi publik seperti  commuter line, angkutan kota di seluruh daerah-daerah,&quot; bebernya.
Menurutnya, dengan cara itu beban masyarakat akan lebih ringan karena  peralihan dari kendaraan pribadi ke umum tidak perlu ada penambahan  biaya.
Terakhir, saran Bhima, pemerintah perlu menjaga stabilitas nilai  tukar Rupiah. Sebab Rupiah akan memainkan peran yang cukup signifikan  dalam menjaga agar tidak terjadi inflasi.
&quot;Karena biaya impor menjadi lebih mahal akibat pelemahan Rupiah,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada September 2022 mencapai 1,17% (month-to-month/mtm). Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, peningkatan tersebut sesuai prediksi karena imbas kenaikan BBM subsidi sebesar 30%.
&quot;Tingkat inflasi yang naik di bulan September ini memang sudah diprediksi, karena harga BBM subsidi naik 30%. Tentu akan berdampak dan terlihat jelas inflasi yang paling tinggi adalah di sektor transportasi, kedua adalah di sektor bahan makanan,&quot; kata Bhima kepada MNC Portal Indonesia, Rabu (5/10/2022).
BACA JUGA:Kenaikan Inflasi RI Masih Terendah ke-5 di Dunia 

Sambungnya, kenaikan inflasi Ini terpengaruh juga oleh biaya angkutan pada sektor pertanian yang mengalami kenaikan, kemudian menjalar juga pada distributor sampai ke tangan konsumen yang mengalami penyesuaian harga karena kenaikan tarif BBM.
Bhima pun memproyeksikan, imbas dari kenaikan harga BBM ini akan berlangsung hingga akhir tahun 2022.
BACA JUGA:Simak IG Live MNC Asset X Midas Cuan: Strategi Cari Saham Harta Karun Saat Inflasi

&quot;Imbas dari energi ini diperkirakan akan bertahan dalam waktu yang cukup lama paling tidak dalam kurun waktu sampai akhir tahun 2022. Efek naiknya harga BBM terhadap penyesuaian harga-harga barang lainnya itu akan terus dirasakan,&quot; katanya.
Oleh karena itu, dia menuturkan, yang perlu diantisipasi pemerintah adalah mengalihkan APBN yang surplus Rp107 triliun ke penambahan subsidi BBM sehingga inflasi bisa di redam.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMC8wNC80LzE1NDI4NS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Kemudian yang kedua harus menjaga pasokan makanan agar tetap stabil.  Karena kuncinya adalah pada stabilitas pangan terutama mengurangi  ketergantungan pangan yang sumbernya dari impor.
&quot;Ada beberapa barang pokok yang impornya cukup dominan. Seperti gula,  garam, gandum, daging, kedelai itu juga porsi impornya juga cukup besar  dan rentan terhadap fluktuasi nilai tukar Rupiah yang terjadi saat ini.  Jadi harus dicari substitusi substitusi dari impor pangan dalam  negeri,&quot; terang Bhima.
Ketiga adalah meningkatkan alokasi subsidi pupuk dan merealokasikan  sebagian dari anggaran yang ada di Pemerintah Daerah untuk melakukan  subsidi angkutan di sektor pangan agar tepat sasaran.
&quot;Dari sisi transportasi transportasi idealnya pemerintah memberikan  subsidi transportasi publik yang cukup signifikan misalnya penurunan  tarif transportasi sebesar 30% untuk transportasi publik seperti  commuter line, angkutan kota di seluruh daerah-daerah,&quot; bebernya.
Menurutnya, dengan cara itu beban masyarakat akan lebih ringan karena  peralihan dari kendaraan pribadi ke umum tidak perlu ada penambahan  biaya.
Terakhir, saran Bhima, pemerintah perlu menjaga stabilitas nilai  tukar Rupiah. Sebab Rupiah akan memainkan peran yang cukup signifikan  dalam menjaga agar tidak terjadi inflasi.
&quot;Karena biaya impor menjadi lebih mahal akibat pelemahan Rupiah,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
