<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sri Mulyani Ungkap Kapitalisasi Terbesar BEI Didominasi Perusahaan Keuangan</title><description>Kapitalisasi terbesar Bursa Efek Indonesia (BEI) didominasi perusahaan  keuangan seperti perbankan, telekomunikasi, dan e-commerce.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/10/278/2683961/sri-mulyani-ungkap-kapitalisasi-terbesar-bei-didominasi-perusahaan-keuangan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/10/10/278/2683961/sri-mulyani-ungkap-kapitalisasi-terbesar-bei-didominasi-perusahaan-keuangan"/><item><title>Sri Mulyani Ungkap Kapitalisasi Terbesar BEI Didominasi Perusahaan Keuangan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/10/278/2683961/sri-mulyani-ungkap-kapitalisasi-terbesar-bei-didominasi-perusahaan-keuangan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/10/10/278/2683961/sri-mulyani-ungkap-kapitalisasi-terbesar-bei-didominasi-perusahaan-keuangan</guid><pubDate>Senin 10 Oktober 2022 11:55 WIB</pubDate><dc:creator>Shelma Rachmahyanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/10/278/2683961/sri-mulyani-ungkap-kapitalisasi-terbesar-bei-didominasi-perusahaan-keuangan-zCbHBIMr4p.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kapitalisasi pasar modal didominasi perusahaan keuangan (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/10/278/2683961/sri-mulyani-ungkap-kapitalisasi-terbesar-bei-didominasi-perusahaan-keuangan-zCbHBIMr4p.jpg</image><title>Kapitalisasi pasar modal didominasi perusahaan keuangan (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Kapitalisasi terbesar Bursa Efek Indonesia (BEI) didominasi perusahaan keuangan seperti perbankan, telekomunikasi, dan e-commerce. Hal itu disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati.
&quot;Lima terbaik dari perusahaan-perusahaan tersebut memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan teknologi dan dunia digital,&quot; ujar Sri Mulyani dilansir dari Antara, Senin (10/10/2022).
BACA JUGA:Jumlah Investor Tembus Hampir 10 Juta, BEI Ungkap 5 Rencana Strategis

Dengan demikian, aktivitas berbagai perusahaan tersebut tentu melibatkan banyak sektor dan sumber daya. Kendati begitu, dia menilai ekonomi digital tidak hanya identik dengan perusahaan rintisan alias startup dan e-commerce, tetapi juga mencakup berbagai entitas yang sebelumnya sudah mapan dengan cara kerja konvensional dan kini beralih ke digital.
Perbankan misalnya, meskipun sudah lama memberikan layanan berbasis internet, saat ini perusahaan keuangan tersebut tetap harus melakukan inovasi dalam memberikan pelayanan melalui platform digital.
BACA JUGA:BEI Masukkan 199 Saham dalam Daftar Transaksi Margin

Menurut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut ekonomi digital adalah salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat nilai ekonomi industri digital di Indonesia pada 2021 bisa mencapai USD70 miliar.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wNi8yNC80LzE0OTY2My8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Angka ini bahkan akan diperkirakan meningkat mencapai USD145 miliar pada 2025,&quot; ungkapnya.
Meski digitalisasi menghadirkan peluang dan membantu meningkatkan  efisiensi serta kualitas, Menkeu tak menampik digitalisasi dan teknologi  juga berpotensi menimbulkan risiko besar, distorsi, serta disrupsi.
Contohnya, risiko terkait penggunaan big data yang memiliki syarat  adanya perlindungan yang memadai dan kuat terhadap privasi, machine  learning yang bisa menciptakan overheating dimana komputer mengambil  keanehan dalam data yang tidak mewakili pola di dunia nyata, serta  underheating dimana model tidak cukup kompleks menangkap pola yang ada  dalam data dan realitas.</description><content:encoded>JAKARTA - Kapitalisasi terbesar Bursa Efek Indonesia (BEI) didominasi perusahaan keuangan seperti perbankan, telekomunikasi, dan e-commerce. Hal itu disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati.
&quot;Lima terbaik dari perusahaan-perusahaan tersebut memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan teknologi dan dunia digital,&quot; ujar Sri Mulyani dilansir dari Antara, Senin (10/10/2022).
BACA JUGA:Jumlah Investor Tembus Hampir 10 Juta, BEI Ungkap 5 Rencana Strategis

Dengan demikian, aktivitas berbagai perusahaan tersebut tentu melibatkan banyak sektor dan sumber daya. Kendati begitu, dia menilai ekonomi digital tidak hanya identik dengan perusahaan rintisan alias startup dan e-commerce, tetapi juga mencakup berbagai entitas yang sebelumnya sudah mapan dengan cara kerja konvensional dan kini beralih ke digital.
Perbankan misalnya, meskipun sudah lama memberikan layanan berbasis internet, saat ini perusahaan keuangan tersebut tetap harus melakukan inovasi dalam memberikan pelayanan melalui platform digital.
BACA JUGA:BEI Masukkan 199 Saham dalam Daftar Transaksi Margin

Menurut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut ekonomi digital adalah salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat nilai ekonomi industri digital di Indonesia pada 2021 bisa mencapai USD70 miliar.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wNi8yNC80LzE0OTY2My8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Angka ini bahkan akan diperkirakan meningkat mencapai USD145 miliar pada 2025,&quot; ungkapnya.
Meski digitalisasi menghadirkan peluang dan membantu meningkatkan  efisiensi serta kualitas, Menkeu tak menampik digitalisasi dan teknologi  juga berpotensi menimbulkan risiko besar, distorsi, serta disrupsi.
Contohnya, risiko terkait penggunaan big data yang memiliki syarat  adanya perlindungan yang memadai dan kuat terhadap privasi, machine  learning yang bisa menciptakan overheating dimana komputer mengambil  keanehan dalam data yang tidak mewakili pola di dunia nyata, serta  underheating dimana model tidak cukup kompleks menangkap pola yang ada  dalam data dan realitas.</content:encoded></item></channel></rss>
