<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Peringatan dari IMF: Perlambatan Ekonomi Global Terjadi hingga 2023</title><description>Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa perlambatan ekonomi global terus terjadi hingga 2023.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/12/320/2685331/peringatan-dari-imf-perlambatan-ekonomi-global-terjadi-hingga-2023</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/10/12/320/2685331/peringatan-dari-imf-perlambatan-ekonomi-global-terjadi-hingga-2023"/><item><title>Peringatan dari IMF: Perlambatan Ekonomi Global Terjadi hingga 2023</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/12/320/2685331/peringatan-dari-imf-perlambatan-ekonomi-global-terjadi-hingga-2023</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/10/12/320/2685331/peringatan-dari-imf-perlambatan-ekonomi-global-terjadi-hingga-2023</guid><pubDate>Rabu 12 Oktober 2022 07:55 WIB</pubDate><dc:creator>Khairunnisa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/12/320/2685331/peringatan-dari-imf-perlambatan-ekonomi-global-terjadi-hingga-2023-nH4yKhTce4.jpg" expression="full" type="image/jpeg">IMF peringatkan perlambatan ekonomi global (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/12/320/2685331/peringatan-dari-imf-perlambatan-ekonomi-global-terjadi-hingga-2023-nH4yKhTce4.jpg</image><title>IMF peringatkan perlambatan ekonomi global (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa perlambatan ekonomi global terus terjadi hingga 2023. Perlambatan ekonomi global terjadi seiring dengan belum membaiknya kondisi geopolitik maupun tingginya tekanan inflasi dunia.
&quot;Terdapat tiga tantangan yang mempengaruhi perlambatan, konflik di Ukraina, tekanan inflasi dan pelemahan ekonomi di China,&quot; kata Economic Counsellor IMF Pierre-Olivier Gourinchas dalam jumpa pers World Economic Outlook (WEO) di Washington DC, dilansir dari Antara, Rabu (12/10/2022).
BACA JUGA:Ketika Bos Bank Dunia dan IMF Khawatir Resesi Dunia 2023

Dalam laporan WEO terbaru, IMF memperkirakan perekonomian global berada pada kisaran 3,2% pada 2022, dan melambat hingga 2,7% di 2023, atau menurun 0,2% dibandingkan outlook pada Juli 2022.

Gourinchas menjelaskan sebagian besar negara mengalami kontraksi hingga tahun depan dengan perekonomian terbesar seperti AS, Uni Eropa dan China akan melanjutkan tren perlambatan.
BACA JUGA:Bank Dunia-IMF Peringatkan Risiko Resesi Dunia Meningkat 

&quot;Singkatnya, kemungkinan terburuk masih akan datang dan bagi sebagian besar orang, 2023 akan terasa seperti resesi,&quot; katanya.
Dia mengatakan terdapat sejumlah upaya sebagai mitigasi untuk menghadapi ketidakpastian global ke depannya, seperti memperkuat bantalan fiskal yang sudah terbukti bermanfaat selama krisis di masa pandemi.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOC8xNS80LzE1MTk0Mi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Selanjutnya, menurut dia, kebijakan fiskal harus bersinergi dengan  kebijakan moneter, terutama dalam mengatasi potensi tingginya inflasi  global yang diperkirakan meningkat hingga akhir 2022.
&quot;Bertindak sebaliknya akan menghambat upaya pengendalian inflasi,  memberikan risiko lebih lanjut, meningkatkan biaya dan mengganggu  stabilitas sistem finansial,&quot; katanya.
Kemudian, upaya untuk mengatasi kenaikan harga energi harus dilakukan  melalui koordinasi, agar pasokan dan permintaan tidak terganggu,  termasuk menyediakan insentif bagi masyarakat yang terdampak harga  energi.
Terakhir, mendorong upaya penguatan sumber daya manusia,  digitalisasi, energi hijau, diversifikasi rantai pasokan sangat penting  untuk membuat perekonomian lebih berdaya tahan ketika krisis  sewaktu-waktu hadir kembali.</description><content:encoded>JAKARTA - Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa perlambatan ekonomi global terus terjadi hingga 2023. Perlambatan ekonomi global terjadi seiring dengan belum membaiknya kondisi geopolitik maupun tingginya tekanan inflasi dunia.
&quot;Terdapat tiga tantangan yang mempengaruhi perlambatan, konflik di Ukraina, tekanan inflasi dan pelemahan ekonomi di China,&quot; kata Economic Counsellor IMF Pierre-Olivier Gourinchas dalam jumpa pers World Economic Outlook (WEO) di Washington DC, dilansir dari Antara, Rabu (12/10/2022).
BACA JUGA:Ketika Bos Bank Dunia dan IMF Khawatir Resesi Dunia 2023

Dalam laporan WEO terbaru, IMF memperkirakan perekonomian global berada pada kisaran 3,2% pada 2022, dan melambat hingga 2,7% di 2023, atau menurun 0,2% dibandingkan outlook pada Juli 2022.

Gourinchas menjelaskan sebagian besar negara mengalami kontraksi hingga tahun depan dengan perekonomian terbesar seperti AS, Uni Eropa dan China akan melanjutkan tren perlambatan.
BACA JUGA:Bank Dunia-IMF Peringatkan Risiko Resesi Dunia Meningkat 

&quot;Singkatnya, kemungkinan terburuk masih akan datang dan bagi sebagian besar orang, 2023 akan terasa seperti resesi,&quot; katanya.
Dia mengatakan terdapat sejumlah upaya sebagai mitigasi untuk menghadapi ketidakpastian global ke depannya, seperti memperkuat bantalan fiskal yang sudah terbukti bermanfaat selama krisis di masa pandemi.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOC8xNS80LzE1MTk0Mi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Selanjutnya, menurut dia, kebijakan fiskal harus bersinergi dengan  kebijakan moneter, terutama dalam mengatasi potensi tingginya inflasi  global yang diperkirakan meningkat hingga akhir 2022.
&quot;Bertindak sebaliknya akan menghambat upaya pengendalian inflasi,  memberikan risiko lebih lanjut, meningkatkan biaya dan mengganggu  stabilitas sistem finansial,&quot; katanya.
Kemudian, upaya untuk mengatasi kenaikan harga energi harus dilakukan  melalui koordinasi, agar pasokan dan permintaan tidak terganggu,  termasuk menyediakan insentif bagi masyarakat yang terdampak harga  energi.
Terakhir, mendorong upaya penguatan sumber daya manusia,  digitalisasi, energi hijau, diversifikasi rantai pasokan sangat penting  untuk membuat perekonomian lebih berdaya tahan ketika krisis  sewaktu-waktu hadir kembali.</content:encoded></item></channel></rss>
