<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>IMF Ungkap Skenario Terburuk Ekonomi Global, Harga Barang Naik di Seluruh Dunia</title><description>Dana Moneter Internasional (IMF) mengungkap scenario terburuk ekonomi global tahun depan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/12/320/2685366/imf-ungkap-skenario-terburuk-ekonomi-global-harga-barang-naik-di-seluruh-dunia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/10/12/320/2685366/imf-ungkap-skenario-terburuk-ekonomi-global-harga-barang-naik-di-seluruh-dunia"/><item><title>IMF Ungkap Skenario Terburuk Ekonomi Global, Harga Barang Naik di Seluruh Dunia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/12/320/2685366/imf-ungkap-skenario-terburuk-ekonomi-global-harga-barang-naik-di-seluruh-dunia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/10/12/320/2685366/imf-ungkap-skenario-terburuk-ekonomi-global-harga-barang-naik-di-seluruh-dunia</guid><pubDate>Rabu 12 Oktober 2022 09:10 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi VOA</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/12/320/2685366/imf-ungkap-skenario-terburuk-ekonomi-global-harga-barang-naik-di-seluruh-dunia-s2pTMJG3RZ.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">IMF ungkap skenario terburuk ekonomi global (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/12/320/2685366/imf-ungkap-skenario-terburuk-ekonomi-global-harga-barang-naik-di-seluruh-dunia-s2pTMJG3RZ.jpeg</image><title>IMF ungkap skenario terburuk ekonomi global (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Dana Moneter Internasional (IMF) mengungkap skenario terburuk ekonomi global tahun depan. IMF memperkirakan harga-harga barang konsumen di seluruh dunia naik 8,8% tahun ini, naik dari 4,7% pada 2021.
IMF menyebutkan sederet ancaman termasuk perang Rusia dan Ukraina, tekanan inflasi kronis, suku bunga yang buruk dan konsekuensi pandemi COVID-19 yang masih tersisa.
BACA JUGA:IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2023 Jadi 2,7%

Badan pemberi pinjaman beranggotakan 190 negara itu memperkirakan bahwa perekonomian dunia hanya akan tumbuh 2,7% tahun depan, turun dari perkiraaan Juli lalu sebesar 2,9%.
Sementara perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun ini tidak direvisi, masih pada angka 3,2% - turun tajam dari angka pertumbuhan tahun lalu sebesar 6%.
&amp;ldquo;Skenario terburuk baru akan terjadi,&amp;rdquo; kata kepala ekonomi IMF Pierre-Olivier Gourinchas dilansir dari VOA, Rabu (12/10/2022).
BACA JUGA:Peringatan dari IMF: Perlambatan Ekonomi Global Terjadi hingga 2023

Tiga ekonomi besar &amp;ndash; AS, China dan Eropa &amp;ndash; melambat. Negara-negara yang mewakili sepertiga ekonomi dunia itu akan terkontraksi tahun depan, sehingga tahun 2023 &amp;ldquo;akan terasa seperti resesi&amp;rdquo; bagi banyak orang di seluruh dunia.

Dalam perkiraan terakhirnya, IMF memangkas prospek pertumbuhan AS menjadi 1,6% tahun ini, turun dari prediksi di bulan Juli sebesar 2,3%. IMF memperkirakan AS hanya akan tumbuh pada angka satu koma tahun depan.
Badan itu memperkirakan ekonomi China hanya akan tumbuh 3,2% tahun ini, turun drastis dari angka pertumbuhan tahun lalu sebesar 8,1%. Beijing telah menerapkan kebijakan nol-COVID yang kejam dan menindak pinjaman real estat yang berlebihan sehingga mengganggu aktivitas bisnis negara itu.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOC8xNS80LzE1MTk0Mi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Pertumbuhan ekonomi China diperkirakan akan meningkat menjadi 4,4% tahun depan &amp;ndash; tergolong rendah untuk standar China.
Dalam pandangan IMF, ekonomi blok beranggotakan 19 negara Uni Eropa,  yang menggunakan mata uang euro dan terseok-seok akibat harga energi  yang meroket akibat serangan Rusia ke Ukraina dan sanksi yang dijatuhkan  Barat kepada Moskow, hanya akan tumbuh 0.5% tahun depan.
Perekonomian dunia terombang-ambing sejak pandemi COVID-19 menghantam  seluruh dunia pada awal 2020. Pertama, pandemi dan lockdown yang  diakibatkannya menyebabkan perekonomian dunia terhenti pada musim semi  2020.
Kemudian, pemasukan besar dari pengeluaran pemerintah dan suku bunga  pinjaman yang sangat rendah, yang direkayasa oleh Bank Sentral AS dan  bank-bank sentral lainnya, berhasil memulihkan resesi pandemi dengan  kuat dan cepat.
Namun demikian, stimulus alias bantuan keuangan dari pemerintah bagi  masyarakat memakan banyak anggaran. Pabrik-pabrik, pelabuhan hingga  galangan kargo kewalahan oleh permintaan konsumen akan berbagai barang  manufaktur, terutama di AS, menyebabkan penundaan, kekurangan pasokan  hingga harga yang melambung.
Untuk mengatasinya, Bank Sentral AS, alias The Fed, dan bank-bank  sentral lainnya berputar arah dan mulai meningkatkan suku bunga secara  drastis, mempertaruhkan perlambatan tajam dan potensi resesi.
The Fed telah menaikkan suku bunga acuan jangka pendek lima kali  tahun ini. Suku bunga yang lebih tinggi di AS telah membuat investor  menarik investasi mereka dari negara lain dan memperkuat nilai dolar  terhadap mata uang lainnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Dana Moneter Internasional (IMF) mengungkap skenario terburuk ekonomi global tahun depan. IMF memperkirakan harga-harga barang konsumen di seluruh dunia naik 8,8% tahun ini, naik dari 4,7% pada 2021.
IMF menyebutkan sederet ancaman termasuk perang Rusia dan Ukraina, tekanan inflasi kronis, suku bunga yang buruk dan konsekuensi pandemi COVID-19 yang masih tersisa.
BACA JUGA:IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2023 Jadi 2,7%

Badan pemberi pinjaman beranggotakan 190 negara itu memperkirakan bahwa perekonomian dunia hanya akan tumbuh 2,7% tahun depan, turun dari perkiraaan Juli lalu sebesar 2,9%.
Sementara perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun ini tidak direvisi, masih pada angka 3,2% - turun tajam dari angka pertumbuhan tahun lalu sebesar 6%.
&amp;ldquo;Skenario terburuk baru akan terjadi,&amp;rdquo; kata kepala ekonomi IMF Pierre-Olivier Gourinchas dilansir dari VOA, Rabu (12/10/2022).
BACA JUGA:Peringatan dari IMF: Perlambatan Ekonomi Global Terjadi hingga 2023

Tiga ekonomi besar &amp;ndash; AS, China dan Eropa &amp;ndash; melambat. Negara-negara yang mewakili sepertiga ekonomi dunia itu akan terkontraksi tahun depan, sehingga tahun 2023 &amp;ldquo;akan terasa seperti resesi&amp;rdquo; bagi banyak orang di seluruh dunia.

Dalam perkiraan terakhirnya, IMF memangkas prospek pertumbuhan AS menjadi 1,6% tahun ini, turun dari prediksi di bulan Juli sebesar 2,3%. IMF memperkirakan AS hanya akan tumbuh pada angka satu koma tahun depan.
Badan itu memperkirakan ekonomi China hanya akan tumbuh 3,2% tahun ini, turun drastis dari angka pertumbuhan tahun lalu sebesar 8,1%. Beijing telah menerapkan kebijakan nol-COVID yang kejam dan menindak pinjaman real estat yang berlebihan sehingga mengganggu aktivitas bisnis negara itu.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOC8xNS80LzE1MTk0Mi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Pertumbuhan ekonomi China diperkirakan akan meningkat menjadi 4,4% tahun depan &amp;ndash; tergolong rendah untuk standar China.
Dalam pandangan IMF, ekonomi blok beranggotakan 19 negara Uni Eropa,  yang menggunakan mata uang euro dan terseok-seok akibat harga energi  yang meroket akibat serangan Rusia ke Ukraina dan sanksi yang dijatuhkan  Barat kepada Moskow, hanya akan tumbuh 0.5% tahun depan.
Perekonomian dunia terombang-ambing sejak pandemi COVID-19 menghantam  seluruh dunia pada awal 2020. Pertama, pandemi dan lockdown yang  diakibatkannya menyebabkan perekonomian dunia terhenti pada musim semi  2020.
Kemudian, pemasukan besar dari pengeluaran pemerintah dan suku bunga  pinjaman yang sangat rendah, yang direkayasa oleh Bank Sentral AS dan  bank-bank sentral lainnya, berhasil memulihkan resesi pandemi dengan  kuat dan cepat.
Namun demikian, stimulus alias bantuan keuangan dari pemerintah bagi  masyarakat memakan banyak anggaran. Pabrik-pabrik, pelabuhan hingga  galangan kargo kewalahan oleh permintaan konsumen akan berbagai barang  manufaktur, terutama di AS, menyebabkan penundaan, kekurangan pasokan  hingga harga yang melambung.
Untuk mengatasinya, Bank Sentral AS, alias The Fed, dan bank-bank  sentral lainnya berputar arah dan mulai meningkatkan suku bunga secara  drastis, mempertaruhkan perlambatan tajam dan potensi resesi.
The Fed telah menaikkan suku bunga acuan jangka pendek lima kali  tahun ini. Suku bunga yang lebih tinggi di AS telah membuat investor  menarik investasi mereka dari negara lain dan memperkuat nilai dolar  terhadap mata uang lainnya.</content:encoded></item></channel></rss>
