<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BI Ramal Inflasi Turun di Bawah 4% Tahun Depan</title><description>Bank Indonesia (BI) meramal inflasi turun di bawah 4% mulai triwulan III 2023.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/13/320/2686121/bi-ramal-inflasi-turun-di-bawah-4-tahun-depan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/10/13/320/2686121/bi-ramal-inflasi-turun-di-bawah-4-tahun-depan"/><item><title>BI Ramal Inflasi Turun di Bawah 4% Tahun Depan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/13/320/2686121/bi-ramal-inflasi-turun-di-bawah-4-tahun-depan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/10/13/320/2686121/bi-ramal-inflasi-turun-di-bawah-4-tahun-depan</guid><pubDate>Kamis 13 Oktober 2022 08:23 WIB</pubDate><dc:creator>Fayha Afanin Ramadhanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/13/320/2686121/bi-ramal-inflasi-turun-di-bawah-4-tahun-depan-fN8Bj4vpt0.jpg" expression="full" type="image/jpeg">BI ramal inflasi turun mulai tahun depan (Foto: Halomoney)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/13/320/2686121/bi-ramal-inflasi-turun-di-bawah-4-tahun-depan-fN8Bj4vpt0.jpg</image><title>BI ramal inflasi turun mulai tahun depan (Foto: Halomoney)</title></images><description>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) meramal inflasi turun di bawah 4% mulai triwulan III 2023. Hal ini sejalan dengan sasaran inflasi Bank Sentral yakni 3% plus minus 1% tahun depan.
&quot;Kita perkirakan pada triwulan III tahun depan bisa sekitar 3,6% dan 3% pada triwulan IV,&quot; kata Gubernur BI Perry Warjiyo saat ditemui di sela-sela pertemuan IMF-WB di Washington DC, AS dilansir dari Antara, Kamis (13/10/2022).
BACA JUGA:Indeks Dolar AS Menguat Tipis Jelang Rilis Data Inflasi

Perry Warjiyo meyakini pencapaian sasaran inflasi tersebut bisa tercapai melalui sinergi berkelanjutan dengan pemerintah yang selama ini sudah terjalin dengan baik melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID).

Bahkan BI bersama TPIP dan TPID  juga telah menggelar sinergi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) pada Agustus 2022 dengan penyediaan suplai dan mendorong produksi.
BACA JUGA:Lonjakan Inflasi, Komoditas Apa yang Paling Terdampak?

Program GNPIP mencakup pelaksanaan operasi pasar serentak di 33 kota, perluasan kesepakatan kerja sama perdagangan antardaerah, gerakan urban framing dengan pemberian 77.000 bibit cabai, dan pemberian sarana prasarana teknologi digital farming dan greenhouse di Jawa Timur.
Selain itu koordinasi yang baik antara otoritas fiskal dan moneter yang telah berjalan baik selama penanganan pandemi juga akan terus dilanjutkan dalam pengendalian inflasi, terutama dalam menjaga daya beli masyarakat.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMC8wNS8xLzE1NDM1NC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Kita bersyukur di Indonesia begitu kuatnya kebijakan fiskal dari  pemerintah dan kebijakan moneter dari BI. BI tetap independen, tetapi  independen dalam semangat kebersamaan interdependesi. Ini kita sampaikan  dan menjadi kunci ketahanan kebangkitan Indonesia,&quot; kata Perry Warjiyo.
Sebelumnya BI memperkirakan laju inflasi hingga akhir 2022 akan  meningkat di atas 6% (yoy) sebagai dampak dari kenaikan harga Bahan  Bakar Minyak (BBM) serta tarif angkutan.
Meski demikian kenaikan ini masih di bawah rata-rata inflasi global  yang bisa mencapai kisaran 9% akibat konflik geopolitik di Eropa yang  mengakibatkan kenaikan harga energi maupun pangan dunia.</description><content:encoded>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) meramal inflasi turun di bawah 4% mulai triwulan III 2023. Hal ini sejalan dengan sasaran inflasi Bank Sentral yakni 3% plus minus 1% tahun depan.
&quot;Kita perkirakan pada triwulan III tahun depan bisa sekitar 3,6% dan 3% pada triwulan IV,&quot; kata Gubernur BI Perry Warjiyo saat ditemui di sela-sela pertemuan IMF-WB di Washington DC, AS dilansir dari Antara, Kamis (13/10/2022).
BACA JUGA:Indeks Dolar AS Menguat Tipis Jelang Rilis Data Inflasi

Perry Warjiyo meyakini pencapaian sasaran inflasi tersebut bisa tercapai melalui sinergi berkelanjutan dengan pemerintah yang selama ini sudah terjalin dengan baik melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID).

Bahkan BI bersama TPIP dan TPID  juga telah menggelar sinergi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) pada Agustus 2022 dengan penyediaan suplai dan mendorong produksi.
BACA JUGA:Lonjakan Inflasi, Komoditas Apa yang Paling Terdampak?

Program GNPIP mencakup pelaksanaan operasi pasar serentak di 33 kota, perluasan kesepakatan kerja sama perdagangan antardaerah, gerakan urban framing dengan pemberian 77.000 bibit cabai, dan pemberian sarana prasarana teknologi digital farming dan greenhouse di Jawa Timur.
Selain itu koordinasi yang baik antara otoritas fiskal dan moneter yang telah berjalan baik selama penanganan pandemi juga akan terus dilanjutkan dalam pengendalian inflasi, terutama dalam menjaga daya beli masyarakat.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMC8wNS8xLzE1NDM1NC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Kita bersyukur di Indonesia begitu kuatnya kebijakan fiskal dari  pemerintah dan kebijakan moneter dari BI. BI tetap independen, tetapi  independen dalam semangat kebersamaan interdependesi. Ini kita sampaikan  dan menjadi kunci ketahanan kebangkitan Indonesia,&quot; kata Perry Warjiyo.
Sebelumnya BI memperkirakan laju inflasi hingga akhir 2022 akan  meningkat di atas 6% (yoy) sebagai dampak dari kenaikan harga Bahan  Bakar Minyak (BBM) serta tarif angkutan.
Meski demikian kenaikan ini masih di bawah rata-rata inflasi global  yang bisa mencapai kisaran 9% akibat konflik geopolitik di Eropa yang  mengakibatkan kenaikan harga energi maupun pangan dunia.</content:encoded></item></channel></rss>
