<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jaga Ketahanan Pangan, Kementan Siapkan Sejuta Hektare Lahan</title><description>Kementerian Pertanian menyiapkan program strategis dalam menghadapi krisis pangan global.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/13/320/2686123/jaga-ketahanan-pangan-kementan-siapkan-sejuta-hektare-lahan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/10/13/320/2686123/jaga-ketahanan-pangan-kementan-siapkan-sejuta-hektare-lahan"/><item><title>Jaga Ketahanan Pangan, Kementan Siapkan Sejuta Hektare Lahan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/13/320/2686123/jaga-ketahanan-pangan-kementan-siapkan-sejuta-hektare-lahan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/10/13/320/2686123/jaga-ketahanan-pangan-kementan-siapkan-sejuta-hektare-lahan</guid><pubDate>Kamis 13 Oktober 2022 08:29 WIB</pubDate><dc:creator>Clara Amelia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/13/320/2686123/jaga-ketahanan-pangan-kementan-siapkan-sejuta-hektare-lahan-VdOxdtY266.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kementan siapkan sejuta hektar lahan antisipasi krisis pangan (Foto: Koran Sindo)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/13/320/2686123/jaga-ketahanan-pangan-kementan-siapkan-sejuta-hektare-lahan-VdOxdtY266.jpg</image><title>Kementan siapkan sejuta hektar lahan antisipasi krisis pangan (Foto: Koran Sindo)</title></images><description>JAKARTA - Kementerian Pertanian menyiapkan program strategis dalam menghadapi krisis pangan global. Badan Karantina Pertanian (Barantan)  terus mengawal Program Sejuta Hektare Lahan yang dilaksanakan di seluruh Indonesia.
&quot;Sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian dan proposal pengembangan pangan beberapa waktu lalu, kami terus mengawal untuk pelaksanaan Program Sejuta Hektare Lahan di Provinsi Sulawesi Tenggara ini. Kondisi perubahan iklim global dan geopolitik, mengharuskan kita mempersiapkan diri untuk ketersediaan dan ketahanan pangan,&quot; kata Kepala Barantan Bambang  dilansir dari Antara, Kamis (13/10/2022).
BACA JUGA:Di Hadapan Menteri Keuangan dan Pertanian G20, Mentan SYL Tekankan Pentingnya Kolaborasi Global atasi Krisis Pangan

Disebutkan, jenis komoditas pertanian strategis yang akan ditanam di wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) adalah padi, jagung, dan kedelai. Menurutnya, Sultra memiliki potensi yang tinggi di sektor pertanian, namun belum dikelola dengan baik.
&quot;Kerja bersama pemerintah daerah di wilayah Sultra untuk pengembangan komoditas pertanian strategis ini diharapkan dapat tercapai sesuai harapan kita bersama. Jika tercapai, maka ketersediaan dan ketahanan pangan di Sultra terwujud dan siap menghadapi krisis pangan global,&quot; ujarnya.
BACA JUGA:Ancaman Krisis Pangan, Menteri Pertanian G20 Bahas Harga Pupuk

Sementara itu pihak Pemprov Sultra sangat mendukung Program Kementan itu, mengingat provinsi ini memiliki lahan produktif pertanian 2,858 juta hektare yang terdiri dari sawah fungsional 124,01 ribu hektare dan non sawah (ladang/lahan kering) seluas 2,734 juta hektare dengan komoditas padi, jagung, kedelai, bawang merah, cabai, kakao, dan daging sapi.
&quot;Potensi pertanian Sultra seperti beras dan jagung mengalami surplus serta beberapa komoditas lainnya telah diekspor. Cabai dan bawang merah dapat menekan inflasi. Tentunya ini dapat dikembangkan lagi,&quot; tutur Wakil Gubernur Sultra Lukman Abunawas.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMC8xMi80LzE1NDc4NS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Sebagai informasi Program Sejuta Hektar Lahan diluncurkan pada  Agustus 2022 oleh Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, guna  mengantisipasi perubahan iklim global, tekanan geopolitik, dan pandemi  COVID-19 yang mengancam terjadinya krisis pangan.
Kepala Barantan Bambang mengatakan program tersebut juga untuk  meningkatkan ekspor komoditas pertanian, di samping meningkat  produktivitas guna memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.
&quot;Surplusnya bisa kita ekspor ke negara lain yang membutuhkan pangan.  Tujuan lainnya juga untuk meningkatkan substitusi impor komoditas pangan  strategis,&quot; paparnya.
Adapun komoditas pertanian strategis yang dikembangkan yaitu cabai,  padi, jagung, kedelai, ubi kayu, sorgum, bawang merah, sagu, daging  sapi, daging kambing, itik, ayam, porang, sarang burung walet, telur,  gula tebu, dan gula non tebu (stevia, aren, dan lontar).
Rakor diakhiri dengan penandatanganan komitmen bersama untuk  mewujudkan program bersama Barantan, Pemprov Sultra, dengan perguruan  tinggi, perbankan, dan pemerintah kabupaten/kota.</description><content:encoded>JAKARTA - Kementerian Pertanian menyiapkan program strategis dalam menghadapi krisis pangan global. Badan Karantina Pertanian (Barantan)  terus mengawal Program Sejuta Hektare Lahan yang dilaksanakan di seluruh Indonesia.
&quot;Sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian dan proposal pengembangan pangan beberapa waktu lalu, kami terus mengawal untuk pelaksanaan Program Sejuta Hektare Lahan di Provinsi Sulawesi Tenggara ini. Kondisi perubahan iklim global dan geopolitik, mengharuskan kita mempersiapkan diri untuk ketersediaan dan ketahanan pangan,&quot; kata Kepala Barantan Bambang  dilansir dari Antara, Kamis (13/10/2022).
BACA JUGA:Di Hadapan Menteri Keuangan dan Pertanian G20, Mentan SYL Tekankan Pentingnya Kolaborasi Global atasi Krisis Pangan

Disebutkan, jenis komoditas pertanian strategis yang akan ditanam di wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) adalah padi, jagung, dan kedelai. Menurutnya, Sultra memiliki potensi yang tinggi di sektor pertanian, namun belum dikelola dengan baik.
&quot;Kerja bersama pemerintah daerah di wilayah Sultra untuk pengembangan komoditas pertanian strategis ini diharapkan dapat tercapai sesuai harapan kita bersama. Jika tercapai, maka ketersediaan dan ketahanan pangan di Sultra terwujud dan siap menghadapi krisis pangan global,&quot; ujarnya.
BACA JUGA:Ancaman Krisis Pangan, Menteri Pertanian G20 Bahas Harga Pupuk

Sementara itu pihak Pemprov Sultra sangat mendukung Program Kementan itu, mengingat provinsi ini memiliki lahan produktif pertanian 2,858 juta hektare yang terdiri dari sawah fungsional 124,01 ribu hektare dan non sawah (ladang/lahan kering) seluas 2,734 juta hektare dengan komoditas padi, jagung, kedelai, bawang merah, cabai, kakao, dan daging sapi.
&quot;Potensi pertanian Sultra seperti beras dan jagung mengalami surplus serta beberapa komoditas lainnya telah diekspor. Cabai dan bawang merah dapat menekan inflasi. Tentunya ini dapat dikembangkan lagi,&quot; tutur Wakil Gubernur Sultra Lukman Abunawas.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMC8xMi80LzE1NDc4NS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Sebagai informasi Program Sejuta Hektar Lahan diluncurkan pada  Agustus 2022 oleh Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, guna  mengantisipasi perubahan iklim global, tekanan geopolitik, dan pandemi  COVID-19 yang mengancam terjadinya krisis pangan.
Kepala Barantan Bambang mengatakan program tersebut juga untuk  meningkatkan ekspor komoditas pertanian, di samping meningkat  produktivitas guna memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.
&quot;Surplusnya bisa kita ekspor ke negara lain yang membutuhkan pangan.  Tujuan lainnya juga untuk meningkatkan substitusi impor komoditas pangan  strategis,&quot; paparnya.
Adapun komoditas pertanian strategis yang dikembangkan yaitu cabai,  padi, jagung, kedelai, ubi kayu, sorgum, bawang merah, sagu, daging  sapi, daging kambing, itik, ayam, porang, sarang burung walet, telur,  gula tebu, dan gula non tebu (stevia, aren, dan lontar).
Rakor diakhiri dengan penandatanganan komitmen bersama untuk  mewujudkan program bersama Barantan, Pemprov Sultra, dengan perguruan  tinggi, perbankan, dan pemerintah kabupaten/kota.</content:encoded></item></channel></rss>
