<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Persaingan Bisnis SPBU Kian Menarik, Bikin Masyarakat Untung?</title><description>Pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, serta BBM non-subsidi yakni Pertamax.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/18/320/2689264/persaingan-bisnis-spbu-kian-menarik-bikin-masyarakat-untung</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/10/18/320/2689264/persaingan-bisnis-spbu-kian-menarik-bikin-masyarakat-untung"/><item><title>Persaingan Bisnis SPBU Kian Menarik, Bikin Masyarakat Untung?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/18/320/2689264/persaingan-bisnis-spbu-kian-menarik-bikin-masyarakat-untung</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/10/18/320/2689264/persaingan-bisnis-spbu-kian-menarik-bikin-masyarakat-untung</guid><pubDate>Selasa 18 Oktober 2022 10:47 WIB</pubDate><dc:creator>Risky Fauzan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/18/320/2689264/persaingan-bisnis-spbu-kian-menarik-bikin-masyarakat-untung-GxrQCMelBP.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bisnis SPBU (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/18/320/2689264/persaingan-bisnis-spbu-kian-menarik-bikin-masyarakat-untung-GxrQCMelBP.jpg</image><title>Bisnis SPBU (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, serta BBM non-subsidi yakni Pertamax. Hal ini membuat persaingan di bisnis BBM antara PT Pertamina (Persero) dengan perusahaan swasta kian mendekati seimbang.
Menurut Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan hal tersebut sangat wajar terjadi karena diakibatkan saat ini pasar untuk industri hilir sudah dibuka secara bebas. Dengan demikian, masyarakat dapat memilih bahan bakar minyak alias BBM sesuai kelebihan masing-masing.
BACA JUGA:ESDM Uji Mutu BBM Jawab Isu Pertalite Lebih Boros, Ini Hasilnya

&quot;Jadi, masyarakat juga punya pilihan untuk mendapatkan bbm sesuai dengan kelebihan masing-masing BBM dan juga kantong mereka,&quot; kata Mamit saat dihubungi MNC Portal, Selasa (18/10/2022).
Dia menjelaskan bahwa, dengan banyaknya SPBU swasta yang bermain di hilir maka setiap badan usaha akan berusaha untuk memberikan dan mempromosikan produk andalannya tersendiri.
&quot;Hanya saja saya kira swasta juga harus fair. Mereka jangan hanya membangun SPBU di wilayah gemuk saja, tetapi juga wilayah di luar pulau Jawa khususnya Indonesia Timur,&quot; katanya.
BACA JUGA:Kendaraan Listrik Bisa Pangkas Subsidi BBM Rp502 Triliun

&quot;Bahkan harus ke wilayah 3T biar merasakan bagaimana sulitnya pendistribusian BBM di Indonesia,&quot; tambahnya.Sebagaimana diketahui, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) megimbau kepada perusahaan yang masuk pada bisnis hilir penyaluran bahan bakar minyak alias BBM untuk melakukan penetrasi pembangunan SPBU di kawasan yang masih minim infrastruktur.
Permintaan itu disampaikan seiring bisnis hilir penyaluran BBM yang makin kompetitif setelah PT Pertamina (Persero) menaikkan harga jual produk mereka pada awal bulan lalu.
Anggota Komisi BPH Migas Saleh Abdurrahman mengatakan bahwa persaingan harga jual BBM yang mendekati seimbang saat ini turut mendorong investasi yang signifikan pada pembangunan unit-unit stasiun pengisian bahan bakar tersebut dari sejumlah badan usaha.
Dia menuturkan, konsentrasi pembangunan SPBU masih terpusat pada kawasan yang padat penduduk seperti di sejumlah kota besar di Pulau Jawa.
&amp;ldquo;Kita berharap jangan hanya di daerah-daerah padat penduduk tapi juga menyebar hingga daerah-daerah terdepan, terluar dan tertinggal,&amp;rdquo; kata Saleh.</description><content:encoded>JAKARTA - Pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, serta BBM non-subsidi yakni Pertamax. Hal ini membuat persaingan di bisnis BBM antara PT Pertamina (Persero) dengan perusahaan swasta kian mendekati seimbang.
Menurut Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan hal tersebut sangat wajar terjadi karena diakibatkan saat ini pasar untuk industri hilir sudah dibuka secara bebas. Dengan demikian, masyarakat dapat memilih bahan bakar minyak alias BBM sesuai kelebihan masing-masing.
BACA JUGA:ESDM Uji Mutu BBM Jawab Isu Pertalite Lebih Boros, Ini Hasilnya

&quot;Jadi, masyarakat juga punya pilihan untuk mendapatkan bbm sesuai dengan kelebihan masing-masing BBM dan juga kantong mereka,&quot; kata Mamit saat dihubungi MNC Portal, Selasa (18/10/2022).
Dia menjelaskan bahwa, dengan banyaknya SPBU swasta yang bermain di hilir maka setiap badan usaha akan berusaha untuk memberikan dan mempromosikan produk andalannya tersendiri.
&quot;Hanya saja saya kira swasta juga harus fair. Mereka jangan hanya membangun SPBU di wilayah gemuk saja, tetapi juga wilayah di luar pulau Jawa khususnya Indonesia Timur,&quot; katanya.
BACA JUGA:Kendaraan Listrik Bisa Pangkas Subsidi BBM Rp502 Triliun

&quot;Bahkan harus ke wilayah 3T biar merasakan bagaimana sulitnya pendistribusian BBM di Indonesia,&quot; tambahnya.Sebagaimana diketahui, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) megimbau kepada perusahaan yang masuk pada bisnis hilir penyaluran bahan bakar minyak alias BBM untuk melakukan penetrasi pembangunan SPBU di kawasan yang masih minim infrastruktur.
Permintaan itu disampaikan seiring bisnis hilir penyaluran BBM yang makin kompetitif setelah PT Pertamina (Persero) menaikkan harga jual produk mereka pada awal bulan lalu.
Anggota Komisi BPH Migas Saleh Abdurrahman mengatakan bahwa persaingan harga jual BBM yang mendekati seimbang saat ini turut mendorong investasi yang signifikan pada pembangunan unit-unit stasiun pengisian bahan bakar tersebut dari sejumlah badan usaha.
Dia menuturkan, konsentrasi pembangunan SPBU masih terpusat pada kawasan yang padat penduduk seperti di sejumlah kota besar di Pulau Jawa.
&amp;ldquo;Kita berharap jangan hanya di daerah-daerah padat penduduk tapi juga menyebar hingga daerah-daerah terdepan, terluar dan tertinggal,&amp;rdquo; kata Saleh.</content:encoded></item></channel></rss>
