<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ada Ancaman Resesi Global, Agus Marto: Ekonomi Indonesia Masih Stabil</title><description>Ekonomi global dibayangi resesi pada 2023. Di tengah ancaman resesi global, ekonomi Indonesia dinilai masih stabil.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/19/320/2690364/ada-ancaman-resesi-global-agus-marto-ekonomi-indonesia-masih-stabil</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/10/19/320/2690364/ada-ancaman-resesi-global-agus-marto-ekonomi-indonesia-masih-stabil"/><item><title>Ada Ancaman Resesi Global, Agus Marto: Ekonomi Indonesia Masih Stabil</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/19/320/2690364/ada-ancaman-resesi-global-agus-marto-ekonomi-indonesia-masih-stabil</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/10/19/320/2690364/ada-ancaman-resesi-global-agus-marto-ekonomi-indonesia-masih-stabil</guid><pubDate>Rabu 19 Oktober 2022 16:00 WIB</pubDate><dc:creator>Fayha Afanin Ramadhanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/19/320/2690364/ada-ancaman-resesi-global-agus-marto-ekonomi-indonesia-masih-stabil-LVnVjnE9IX.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ekonomi Indonesia masih stabil (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/19/320/2690364/ada-ancaman-resesi-global-agus-marto-ekonomi-indonesia-masih-stabil-LVnVjnE9IX.jpg</image><title>Ekonomi Indonesia masih stabil (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Ekonomi global dibayangi resesi pada 2023. Di tengah ancaman resesi global, ekonomi Indonesia dinilai masih stabil.
Ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi lebih baik dibanding negara-negara lain. Kinerja ekonomi nasional justru tampak semakin menguat, utamanya didorong oleh tren positif pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga di sekitar 5%, stabilitas nilai tukar, serta inflasi yang masih sangat terkelola.
BACA JUGA:Indonesia Jauh dari Ancaman Resesi, Sri Mulyani: Bukan Berarti Kita Tak Waspada
&amp;ldquo;Ini menunjukkan bahwa stabilitas domestik terbukti masih kuat dengan fundamental ekonomi yang semakin kuat,&amp;rdquo; kata Agus yang kini menjabat sebagai Komisaris Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk atau BNI dalam SOE International Conference, dilansir dari Antara, Rabu (19/10/2022).
Agus menilai kondisi perbankan di Indonesia saat ini sangat baik karena memiliki permodalan yang kuat dengan penerapan manajemen risiko yang semakin baik. Bahkan, pemerintah masih yakin pertumbuhan ekonomi 2022 mampu menembus angka 5% karena konsumsi nasional yang kuat serta kinerja ekspor yang semakin baik.
BACA JUGA:Ngeri! Sri Mulyani Ungkap 4 Negara Ini Terancam Resesi pada 2023
Meski terdapat potensi inflasi yang meningkat, kinerja ekspor yang semakin kuat akan membuat kestabilan mata uang, yang juga berdampak pada kestabilan ekonomi dalam negeri.

Dia berpendapat dukungan kebijakan fiskal dan moneter sejauh ini telah mampu mendorong ekonomi pulih dari pandemi COVID-19. Meski menghadapi tantangan yang berat, otoritas fiskal dan moneter telah mampu menjalankan kebijakan pre-emptive dan forward-looking yang sangat baik.
&amp;ldquo;Namun, memang dengan banyaknya otoritas moneter dunia seperti Bank Sentral Amerika Serikat, Bank Sentral Eropa, dan Bank Sentral Inggris yang nampak memperketat kebijakan, sehingga terus menekan mata uang negara berkembang. Kerja ke depan semakin tidak mudah,&amp;rdquo; tuturnya.


Ke depan, sambung dia, keseimbangan antara kebijakan fiskal dan  kebijakan moneter perlu terus dijaga untuk membuat struktur ekonomi yang  tengah mengalami pertumbuhan semakin kuat.
Semua pelaku ekonomi juga tidak boleh melupakan adanya kesempatan  yang sangat besar dari penguatan kinerja segmen ekonomi berkelanjutan  yang dapat memberi kesempatan pertumbuhan, baik bagi pelaku ekonomi riil  maupun pelaku di sektor finansial.
&amp;ldquo;Percepatan transformasi digital juga menjadi kunci. Terlebih,  kebutuhan terhadap solusi digital dari generasi masa depan terus  meningkat,&amp;rdquo; ujar Agus.
Sebelumnya, Direktur Utama BNI Royke Tumilaar menyampaikan perbankan  relatif lebih siap menghadapi situasi seperti saat ini. Justru di tengah  era suku bunga rendah yang mulai berlalu, perbankan proaktif menjaga  agar tidak terjadi kejutan yang terlalu cepat dan mengganggu transmisi  pertumbuhan ekonomi.
&amp;ldquo;Jadi teman-teman di industri perbankan sudah siap untuk merespons  kenaikan suku bunga saat ini. Era suku bunga rendah sudah lewat. Kita  tidak akan kembali lagi,&amp;rdquo; ucap Royke.
Ia pun menyampaikan pihaknya belum otomatis langsung menaikkan baik  deposito maupun bunga kredit. Bahkan, kinerja ekonomi dari nasabah loyal  akan menjadi prioritas BNI dalam kebijakan suku bunga akomodatif.
&amp;ldquo;Nasabah baru tentu dengan harga baru, nasabah lama loyalitas menjadi  penting. Disampaikan bahwa, ekonomi Indonesia fundamentalnya juga cukup  bagus jadi kita tidak buru-buru menaikkan suku bunga,&amp;rdquo; jelasnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Ekonomi global dibayangi resesi pada 2023. Di tengah ancaman resesi global, ekonomi Indonesia dinilai masih stabil.
Ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi lebih baik dibanding negara-negara lain. Kinerja ekonomi nasional justru tampak semakin menguat, utamanya didorong oleh tren positif pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga di sekitar 5%, stabilitas nilai tukar, serta inflasi yang masih sangat terkelola.
BACA JUGA:Indonesia Jauh dari Ancaman Resesi, Sri Mulyani: Bukan Berarti Kita Tak Waspada
&amp;ldquo;Ini menunjukkan bahwa stabilitas domestik terbukti masih kuat dengan fundamental ekonomi yang semakin kuat,&amp;rdquo; kata Agus yang kini menjabat sebagai Komisaris Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk atau BNI dalam SOE International Conference, dilansir dari Antara, Rabu (19/10/2022).
Agus menilai kondisi perbankan di Indonesia saat ini sangat baik karena memiliki permodalan yang kuat dengan penerapan manajemen risiko yang semakin baik. Bahkan, pemerintah masih yakin pertumbuhan ekonomi 2022 mampu menembus angka 5% karena konsumsi nasional yang kuat serta kinerja ekspor yang semakin baik.
BACA JUGA:Ngeri! Sri Mulyani Ungkap 4 Negara Ini Terancam Resesi pada 2023
Meski terdapat potensi inflasi yang meningkat, kinerja ekspor yang semakin kuat akan membuat kestabilan mata uang, yang juga berdampak pada kestabilan ekonomi dalam negeri.

Dia berpendapat dukungan kebijakan fiskal dan moneter sejauh ini telah mampu mendorong ekonomi pulih dari pandemi COVID-19. Meski menghadapi tantangan yang berat, otoritas fiskal dan moneter telah mampu menjalankan kebijakan pre-emptive dan forward-looking yang sangat baik.
&amp;ldquo;Namun, memang dengan banyaknya otoritas moneter dunia seperti Bank Sentral Amerika Serikat, Bank Sentral Eropa, dan Bank Sentral Inggris yang nampak memperketat kebijakan, sehingga terus menekan mata uang negara berkembang. Kerja ke depan semakin tidak mudah,&amp;rdquo; tuturnya.


Ke depan, sambung dia, keseimbangan antara kebijakan fiskal dan  kebijakan moneter perlu terus dijaga untuk membuat struktur ekonomi yang  tengah mengalami pertumbuhan semakin kuat.
Semua pelaku ekonomi juga tidak boleh melupakan adanya kesempatan  yang sangat besar dari penguatan kinerja segmen ekonomi berkelanjutan  yang dapat memberi kesempatan pertumbuhan, baik bagi pelaku ekonomi riil  maupun pelaku di sektor finansial.
&amp;ldquo;Percepatan transformasi digital juga menjadi kunci. Terlebih,  kebutuhan terhadap solusi digital dari generasi masa depan terus  meningkat,&amp;rdquo; ujar Agus.
Sebelumnya, Direktur Utama BNI Royke Tumilaar menyampaikan perbankan  relatif lebih siap menghadapi situasi seperti saat ini. Justru di tengah  era suku bunga rendah yang mulai berlalu, perbankan proaktif menjaga  agar tidak terjadi kejutan yang terlalu cepat dan mengganggu transmisi  pertumbuhan ekonomi.
&amp;ldquo;Jadi teman-teman di industri perbankan sudah siap untuk merespons  kenaikan suku bunga saat ini. Era suku bunga rendah sudah lewat. Kita  tidak akan kembali lagi,&amp;rdquo; ucap Royke.
Ia pun menyampaikan pihaknya belum otomatis langsung menaikkan baik  deposito maupun bunga kredit. Bahkan, kinerja ekonomi dari nasabah loyal  akan menjadi prioritas BNI dalam kebijakan suku bunga akomodatif.
&amp;ldquo;Nasabah baru tentu dengan harga baru, nasabah lama loyalitas menjadi  penting. Disampaikan bahwa, ekonomi Indonesia fundamentalnya juga cukup  bagus jadi kita tidak buru-buru menaikkan suku bunga,&amp;rdquo; jelasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
