<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 4,75%</title><description>Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,75%.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/20/320/2691090/bi-naikkan-suku-bunga-acuan-jadi-4-75</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/10/20/320/2691090/bi-naikkan-suku-bunga-acuan-jadi-4-75"/><item><title>BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 4,75%</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/20/320/2691090/bi-naikkan-suku-bunga-acuan-jadi-4-75</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/10/20/320/2691090/bi-naikkan-suku-bunga-acuan-jadi-4-75</guid><pubDate>Kamis 20 Oktober 2022 15:02 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/20/320/2691090/bi-naikkan-suku-bunga-acuan-jadi-4-75-XNM2R9Y3Qu.jpg" expression="full" type="image/jpeg">BI naikkan suku bunga acuan (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/20/320/2691090/bi-naikkan-suku-bunga-acuan-jadi-4-75-XNM2R9Y3Qu.jpg</image><title>BI naikkan suku bunga acuan (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,75%. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada tanggal 19 dan 20 Oktober 2022 memutuskan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 bps menjadi sebesar 4,75%.
Suku bunga Deposit Facility naik menjadi sebesar 50 bps 4%, dan suku bunga Lending Facility naik 50 bps menjadi sebesar 5,5%.
BACA JUGA:Suku Bunga Acuan Bakal Naik Lagi? Ini Bocoran Gubernur BI
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa kenaikan ini merupakan langkah front-loaded, preemptive dan forward looking untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang saat ini terlalu tinggi (overshooting), serta memastikan inflasi inti kembali ke sasaran 3&amp;plusmn;1% lebih awal pada paruh pertama 2023.
BACA JUGA:Mantan Bos BI Bicara Kebijakan Suku Bunga hingga Rupiah
&quot;Keputusan ini dilakukan dalam rangka memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai fundamental akibat kuatnya mata uang Dolar AS (USD) dan tingginya ketidakpastian pasar keuangan global di tengah permintaan ekonomi domestik yang tetap kuat,&quot; ujar Perry dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Kamis(20/10/2022).


Perry mengatakan, pertumbuhan ekonomi global saat ini melambat,  disertai dengan tekanan inflasi yang tinggi. Ketidakpastian pasar  keuangan global pun meningkat. Revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi ke  bawah pun terjadi di beberapa negara maju, seperti Amerika Serikat (AS),  Eropa, dan China.
&quot;Menguatnya mata uang dolar AS karena kenaikan Fed Fund Rate  memberikan tekanan berupa pelemahan atau depresiasi mata uang  negara-negara emerging,&quot; ungkap Perry.
Dia menyampaikan, BI juga terus memperkuat respons bauran kebijakan  untuk menjaga stabilitas dan momentum pemulihan ekonomi nasional.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,75%. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada tanggal 19 dan 20 Oktober 2022 memutuskan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 bps menjadi sebesar 4,75%.
Suku bunga Deposit Facility naik menjadi sebesar 50 bps 4%, dan suku bunga Lending Facility naik 50 bps menjadi sebesar 5,5%.
BACA JUGA:Suku Bunga Acuan Bakal Naik Lagi? Ini Bocoran Gubernur BI
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa kenaikan ini merupakan langkah front-loaded, preemptive dan forward looking untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang saat ini terlalu tinggi (overshooting), serta memastikan inflasi inti kembali ke sasaran 3&amp;plusmn;1% lebih awal pada paruh pertama 2023.
BACA JUGA:Mantan Bos BI Bicara Kebijakan Suku Bunga hingga Rupiah
&quot;Keputusan ini dilakukan dalam rangka memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai fundamental akibat kuatnya mata uang Dolar AS (USD) dan tingginya ketidakpastian pasar keuangan global di tengah permintaan ekonomi domestik yang tetap kuat,&quot; ujar Perry dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Kamis(20/10/2022).


Perry mengatakan, pertumbuhan ekonomi global saat ini melambat,  disertai dengan tekanan inflasi yang tinggi. Ketidakpastian pasar  keuangan global pun meningkat. Revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi ke  bawah pun terjadi di beberapa negara maju, seperti Amerika Serikat (AS),  Eropa, dan China.
&quot;Menguatnya mata uang dolar AS karena kenaikan Fed Fund Rate  memberikan tekanan berupa pelemahan atau depresiasi mata uang  negara-negara emerging,&quot; ungkap Perry.
Dia menyampaikan, BI juga terus memperkuat respons bauran kebijakan  untuk menjaga stabilitas dan momentum pemulihan ekonomi nasional.</content:encoded></item></channel></rss>
