<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bos BCA Bicara Ancaman Resesi Global 2023, Indonesia Aman?</title><description>Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja bicara soal ancaman resesi ekonomi global tahun depan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/20/320/2691307/bos-bca-bicara-ancaman-resesi-global-2023-indonesia-aman</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/10/20/320/2691307/bos-bca-bicara-ancaman-resesi-global-2023-indonesia-aman"/><item><title>Bos BCA Bicara Ancaman Resesi Global 2023, Indonesia Aman?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/20/320/2691307/bos-bca-bicara-ancaman-resesi-global-2023-indonesia-aman</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/10/20/320/2691307/bos-bca-bicara-ancaman-resesi-global-2023-indonesia-aman</guid><pubDate>Kamis 20 Oktober 2022 18:29 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/20/320/2691307/bos-bca-bicara-ancaman-resesi-global-2023-indonesia-aman-mUg3lioyAs.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presdir BCA Jahja Setiaatmadja bicara soal resesi (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/20/320/2691307/bos-bca-bicara-ancaman-resesi-global-2023-indonesia-aman-mUg3lioyAs.jpg</image><title>Presdir BCA Jahja Setiaatmadja bicara soal resesi (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja bicara soal ancaman resesi ekonomi global tahun depan. Selain resesi melihat memang kondisi perekonomian dunia pada tahun depan akan sangat memprihatinkan karena adanya inflasi yang tinggi.
BACA JUGA:Wapres Ingin Kembangkan Ekonomi Syariah dengan Jepang dan Singapura

&quot;Perkiraannya inflasi lumayan tinggi, sejauh ini kita lihat kurs mulai melemah walaupun masih jauh lebih baik dari negara lain. Tapi itu menyebabkan bahwa cost produsen, bahan baku dari import goods ya mau tidak mau, kita lihat harga minyak juga seperti yoyo, kemarin turun USD80-an, siang ini sudah naik lagi mendekati USD90 lagi,&quot; ungkap Jahja dalam Paparan Kinerja Keuangan BCA Triwulan III 2022, Kamis (20/10/2022).
BACA JUGA:Ekonomi Dunia Gelap, Bahlil: Indonesia Bisa Selamat karena UMKM

Naik turunnya harga minyak tersebut membuat Jahja tidak mengetahui apa lagi yang akan terjadi, apalagi dalam waktu dekat akan masuk musim dingin. Kondisi-kondisi ini menurutnya akan membuat biaya produksi akan meningkat, dan akan berpengaruh ke masyarakat.
&quot;Cost of produksi belum tentu bisa ditransaksikan ke daya jual. Buying power belum mandi. UMR masih minimal, tapi bansos dari pemerintah sangat menolong masyarakat. Buying power belum terlalu besar untuk yang bekerja, pabrik-pabrik tidak bisa naikin begitu mudah, bisa sedikit-sedikit atau belum naik kalau masih profit, ada juga yang resize packaging untuk mengakali cost,&quot; jelas Jahja.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMC8yMC80LzE1NTI2Ni8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Sementara itu, permintaan produksi CPO masih terus meningkat dan  bukan tidak mungkin menambah lahan karena potensinya cukup baik. Selain  itu, perusahaan tambang juga dikatakannya masih butuh tambahan tenaga  kerja, tidak bisa dengan digital 100% serta masih butuh tenaga manusia.
&quot;Seharusnya secara fisik butuh tenaga kerja, belum lagi transportasi  kan ga bisa dari tambang jalan sendiri, butuh diangkut dan butuh  transportasi. Ada juga tongkang-tongkang itu butuh tenaga kerja, nah ini  sangat positif, tenaga kerja di daerah tidak cukup untuk menampung itu,  jadi dari Jawa bisa ke sana,&quot; papar Jahja.
Menurut Jahja, income bisa dibagi ke tempat mereka bekerja, seperti  Kalimantan, Sulawesi, dan akan jauh lebih cepat pertumbuhan ekonominya.
&quot;Tentu ada saving sebagian hasil gaji kirim ke rumah. Jawa akan  menambah belanja, hipotesa ini secara individu. Pintar-pintar apa yang  laku dan bisa dijual bagi pengusaha, kalau ini aman mudah-mudahan tidak  terjadi resesi. Ekspansi ada, untuk investasi kalau nanti keadaan  membaik, demand bertambah bisa tambah produksi, tapi betul-betul  dihitung yakin dana cukup agile untuk pengembangan usaha,&quot; pungkas  Jahja.</description><content:encoded>JAKARTA - Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja bicara soal ancaman resesi ekonomi global tahun depan. Selain resesi melihat memang kondisi perekonomian dunia pada tahun depan akan sangat memprihatinkan karena adanya inflasi yang tinggi.
BACA JUGA:Wapres Ingin Kembangkan Ekonomi Syariah dengan Jepang dan Singapura

&quot;Perkiraannya inflasi lumayan tinggi, sejauh ini kita lihat kurs mulai melemah walaupun masih jauh lebih baik dari negara lain. Tapi itu menyebabkan bahwa cost produsen, bahan baku dari import goods ya mau tidak mau, kita lihat harga minyak juga seperti yoyo, kemarin turun USD80-an, siang ini sudah naik lagi mendekati USD90 lagi,&quot; ungkap Jahja dalam Paparan Kinerja Keuangan BCA Triwulan III 2022, Kamis (20/10/2022).
BACA JUGA:Ekonomi Dunia Gelap, Bahlil: Indonesia Bisa Selamat karena UMKM

Naik turunnya harga minyak tersebut membuat Jahja tidak mengetahui apa lagi yang akan terjadi, apalagi dalam waktu dekat akan masuk musim dingin. Kondisi-kondisi ini menurutnya akan membuat biaya produksi akan meningkat, dan akan berpengaruh ke masyarakat.
&quot;Cost of produksi belum tentu bisa ditransaksikan ke daya jual. Buying power belum mandi. UMR masih minimal, tapi bansos dari pemerintah sangat menolong masyarakat. Buying power belum terlalu besar untuk yang bekerja, pabrik-pabrik tidak bisa naikin begitu mudah, bisa sedikit-sedikit atau belum naik kalau masih profit, ada juga yang resize packaging untuk mengakali cost,&quot; jelas Jahja.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMC8yMC80LzE1NTI2Ni8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Sementara itu, permintaan produksi CPO masih terus meningkat dan  bukan tidak mungkin menambah lahan karena potensinya cukup baik. Selain  itu, perusahaan tambang juga dikatakannya masih butuh tambahan tenaga  kerja, tidak bisa dengan digital 100% serta masih butuh tenaga manusia.
&quot;Seharusnya secara fisik butuh tenaga kerja, belum lagi transportasi  kan ga bisa dari tambang jalan sendiri, butuh diangkut dan butuh  transportasi. Ada juga tongkang-tongkang itu butuh tenaga kerja, nah ini  sangat positif, tenaga kerja di daerah tidak cukup untuk menampung itu,  jadi dari Jawa bisa ke sana,&quot; papar Jahja.
Menurut Jahja, income bisa dibagi ke tempat mereka bekerja, seperti  Kalimantan, Sulawesi, dan akan jauh lebih cepat pertumbuhan ekonominya.
&quot;Tentu ada saving sebagian hasil gaji kirim ke rumah. Jawa akan  menambah belanja, hipotesa ini secara individu. Pintar-pintar apa yang  laku dan bisa dijual bagi pengusaha, kalau ini aman mudah-mudahan tidak  terjadi resesi. Ekspansi ada, untuk investasi kalau nanti keadaan  membaik, demand bertambah bisa tambah produksi, tapi betul-betul  dihitung yakin dana cukup agile untuk pengembangan usaha,&quot; pungkas  Jahja.</content:encoded></item></channel></rss>
