<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gubernur BI Ungkap Kondisi Ekonomi Indonesia</title><description>Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkap kondisi ekonomi Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/21/320/2691695/gubernur-bi-ungkap-kondisi-ekonomi-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/10/21/320/2691695/gubernur-bi-ungkap-kondisi-ekonomi-indonesia"/><item><title>Gubernur BI Ungkap Kondisi Ekonomi Indonesia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/21/320/2691695/gubernur-bi-ungkap-kondisi-ekonomi-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/10/21/320/2691695/gubernur-bi-ungkap-kondisi-ekonomi-indonesia</guid><pubDate>Jum'at 21 Oktober 2022 11:58 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/21/320/2691695/gubernur-bi-ungkap-kondisi-ekonomi-indonesia-oldciLDgZR.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bank Indonesia ungkap kondisi ekonomi RI (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/21/320/2691695/gubernur-bi-ungkap-kondisi-ekonomi-indonesia-oldciLDgZR.jpg</image><title>Bank Indonesia ungkap kondisi ekonomi RI (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkap kondisi ekonomi Indonesia. Penjelasan mengenai ekonomi Indonesia dirangkum dalam Buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) No.39 bertemakan &amp;ldquo;Sinergi dan Inovasi Kebijakan untuk Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan dan Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Nasional&quot;.
Perry Warjiyo mengatakan bahwa peluncuran buku ini merupakan wujud nyata dari kuatnya komitmen BI akan transparansi dan akuntabilitas kepada masyarakat luas. Di dalam buku ini, terkandung tiga pesan penting, yang pertama adalah hasil assessment soal stabilitas sistem keuangan di semester I-2022.
BACA JUGA:Suku Bunga The Fed Naik Lagi, Respon Bank Indonesia Bakal Agresif 

&quot;BI berpandangan bahwa stabilitas sistem keuangan Indonesia masih terjaga di tengah ekonomi dunia yang melambat akibat tekanan inflasi global yang tinggi hingga pengetatan moneter negara-negara maju,&quot; ujar Perry dalam peluncuran buku KSK No. 39 secara virtual di Jakarta.
Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,44% di kuartal II lalu turut berkontribusi terhadap terjaganya stabilitas sistem keuangan Indonesia. Pemulihan intermediasi perbankan juga ditunjukkan oleh penyaluran kredit yang terpantau baik dengan angka 10,66% di semester I-2022.
BACA JUGA:Ini Uang Rupiah Khusus yang Pernah Dicetak Bank Indonesia

&quot;Pulihnya intermediasi ini merupakan hasil dari respons kebijakan akomodatif BI, bersinergi erat dengan pemerintah, OJK, dan LPS,&amp;rdquo; lanjut Perry.
Dia mengatakan ketahanan sektor keuangan terjaga karena permodalan yang kuat dan likuiditas yang relatif longgar. Capital Adequacy Ratio(CAR) perbankan sebesar 24,66% juga menunjukkan bahwa perbankan memiliki ketahanan dan bantalan yang kuat untuk menyerap potensi penurunan kualitas kredit.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMC8xOC80LzE1NTEyNy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Likuiditas perbankan dinilainya masih sangat longgar, tercermin dari  alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AS/DPK)  sebesar 29,99%.
Pesan kedua, sambung Perry, adalah terkait inovasi bauran kebijakan Bank Indonesia.
&amp;ldquo;Di bidang moneter, BI telah menaikkan suku bunga kebijakan BI 7-Day  (Reverse) Repo Rate menjadi 4,75% sebagai langkah frontloaded,  pre-emptive, dan forward looking untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan  memastikan inflasi inti kembali ke sasaran yaitu 3&amp;plusmn;1% atau maksimum 4%  pada triwulan III-2023,&amp;rdquo; ungkap Perry.
Upaya menekan laju inflasi ini juga diperkuat dengan adanya  koordinasi yang sangat erat antara BI dengan pemerintah pusat maupun  daerah, melalui tim pengendalian inflasi dan juga gerakan nasional untuk  pengendalian inflasi pangan (GNPIP) di berbagai daerah melalui 46  kantor cabang BI.
&quot;BI juga melanjutkan penjualan pembelian surat berharga negara  dipasar sekunder untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah,&quot; ucap  Perry.
Kemudian, dari sisi, sistem pembayaran BI terus melakukan upaya  penguatan untuk mengakselerasi terwujudnya integrasi ekonomi keuangan  digital secara nasional. BI terus memperluas penggunaan QRIS, yang  hingga akhir semester I-2022 telah mencapai 21 juta pengguna.
&amp;ldquo;19 juta merchant sebagian besar adalah UMKM, bahkan hingga ke  transaksi lintas negara khususnya dengan Thailand dan insyallah dengan  Malaysia dan negara ASEAN-5 lainnya. Pemanfaatan BI-FAST terus kami  dorong agar transaksi keuangan bisa semakin efisien dan handal,&amp;rdquo; jelas  Perry.Pesan terakhir, sebut dia, adalah soal sinergi BI dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
&quot;BI terus memperkuat sinergi kebijakan untuk menjaga stabilitas   sistem keuangan bersama 3 lembaga anggota yang juga tergabung dalam   Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yaitu Kementerian Keuangan,   OJK dan LPS,&quot; ungkapnya.
Ketahanan atau resiliensi sistem keuangan yang terjaga ini, lanjut   Perry, menjadi landasan bagi KSSK untuk tetap optimis dengan terus   mewaspadai seluruh tantangan dan risiko yang dihadapi.
Dia menjelaskan, sinergi kebijakan terus diperkuat dalam rangka   menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendorong   kredit dan pembiayaan kepada dunia usaha pada sektor-sektor prioritas   untuk pertumbuhan ekonomi ekspor serta inklusi ekonomi dan keuangan.
&amp;ldquo;Seluruh upaya assessment dan sinergi yang kami lakukan untuk menjaga   stabilitas sistem keuangan sepanjang semester I-2022 kami dituangkan   dalam buku KSK no. 39. Buku ini kami persembahkan bagi para pelaku dan   pembuat keputusan di industri keuangan nasional, pemerintah dan   otoritas, akademisi seluruh lapisan masyarakat Indonesia, serta   mitra-mitra bank desa di mancanegara,&quot; pungkas Perry.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkap kondisi ekonomi Indonesia. Penjelasan mengenai ekonomi Indonesia dirangkum dalam Buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) No.39 bertemakan &amp;ldquo;Sinergi dan Inovasi Kebijakan untuk Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan dan Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Nasional&quot;.
Perry Warjiyo mengatakan bahwa peluncuran buku ini merupakan wujud nyata dari kuatnya komitmen BI akan transparansi dan akuntabilitas kepada masyarakat luas. Di dalam buku ini, terkandung tiga pesan penting, yang pertama adalah hasil assessment soal stabilitas sistem keuangan di semester I-2022.
BACA JUGA:Suku Bunga The Fed Naik Lagi, Respon Bank Indonesia Bakal Agresif 

&quot;BI berpandangan bahwa stabilitas sistem keuangan Indonesia masih terjaga di tengah ekonomi dunia yang melambat akibat tekanan inflasi global yang tinggi hingga pengetatan moneter negara-negara maju,&quot; ujar Perry dalam peluncuran buku KSK No. 39 secara virtual di Jakarta.
Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,44% di kuartal II lalu turut berkontribusi terhadap terjaganya stabilitas sistem keuangan Indonesia. Pemulihan intermediasi perbankan juga ditunjukkan oleh penyaluran kredit yang terpantau baik dengan angka 10,66% di semester I-2022.
BACA JUGA:Ini Uang Rupiah Khusus yang Pernah Dicetak Bank Indonesia

&quot;Pulihnya intermediasi ini merupakan hasil dari respons kebijakan akomodatif BI, bersinergi erat dengan pemerintah, OJK, dan LPS,&amp;rdquo; lanjut Perry.
Dia mengatakan ketahanan sektor keuangan terjaga karena permodalan yang kuat dan likuiditas yang relatif longgar. Capital Adequacy Ratio(CAR) perbankan sebesar 24,66% juga menunjukkan bahwa perbankan memiliki ketahanan dan bantalan yang kuat untuk menyerap potensi penurunan kualitas kredit.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMC8xOC80LzE1NTEyNy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Likuiditas perbankan dinilainya masih sangat longgar, tercermin dari  alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AS/DPK)  sebesar 29,99%.
Pesan kedua, sambung Perry, adalah terkait inovasi bauran kebijakan Bank Indonesia.
&amp;ldquo;Di bidang moneter, BI telah menaikkan suku bunga kebijakan BI 7-Day  (Reverse) Repo Rate menjadi 4,75% sebagai langkah frontloaded,  pre-emptive, dan forward looking untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan  memastikan inflasi inti kembali ke sasaran yaitu 3&amp;plusmn;1% atau maksimum 4%  pada triwulan III-2023,&amp;rdquo; ungkap Perry.
Upaya menekan laju inflasi ini juga diperkuat dengan adanya  koordinasi yang sangat erat antara BI dengan pemerintah pusat maupun  daerah, melalui tim pengendalian inflasi dan juga gerakan nasional untuk  pengendalian inflasi pangan (GNPIP) di berbagai daerah melalui 46  kantor cabang BI.
&quot;BI juga melanjutkan penjualan pembelian surat berharga negara  dipasar sekunder untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah,&quot; ucap  Perry.
Kemudian, dari sisi, sistem pembayaran BI terus melakukan upaya  penguatan untuk mengakselerasi terwujudnya integrasi ekonomi keuangan  digital secara nasional. BI terus memperluas penggunaan QRIS, yang  hingga akhir semester I-2022 telah mencapai 21 juta pengguna.
&amp;ldquo;19 juta merchant sebagian besar adalah UMKM, bahkan hingga ke  transaksi lintas negara khususnya dengan Thailand dan insyallah dengan  Malaysia dan negara ASEAN-5 lainnya. Pemanfaatan BI-FAST terus kami  dorong agar transaksi keuangan bisa semakin efisien dan handal,&amp;rdquo; jelas  Perry.Pesan terakhir, sebut dia, adalah soal sinergi BI dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
&quot;BI terus memperkuat sinergi kebijakan untuk menjaga stabilitas   sistem keuangan bersama 3 lembaga anggota yang juga tergabung dalam   Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yaitu Kementerian Keuangan,   OJK dan LPS,&quot; ungkapnya.
Ketahanan atau resiliensi sistem keuangan yang terjaga ini, lanjut   Perry, menjadi landasan bagi KSSK untuk tetap optimis dengan terus   mewaspadai seluruh tantangan dan risiko yang dihadapi.
Dia menjelaskan, sinergi kebijakan terus diperkuat dalam rangka   menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendorong   kredit dan pembiayaan kepada dunia usaha pada sektor-sektor prioritas   untuk pertumbuhan ekonomi ekspor serta inklusi ekonomi dan keuangan.
&amp;ldquo;Seluruh upaya assessment dan sinergi yang kami lakukan untuk menjaga   stabilitas sistem keuangan sepanjang semester I-2022 kami dituangkan   dalam buku KSK no. 39. Buku ini kami persembahkan bagi para pelaku dan   pembuat keputusan di industri keuangan nasional, pemerintah dan   otoritas, akademisi seluruh lapisan masyarakat Indonesia, serta   mitra-mitra bank desa di mancanegara,&quot; pungkas Perry.</content:encoded></item></channel></rss>
