<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dampak Kenaikan Suku Bunga BI, KPR Makin Mahal?</title><description>Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) akan berdampak ke sejumlah sektor.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/22/470/2692474/dampak-kenaikan-suku-bunga-bi-kpr-makin-mahal</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/10/22/470/2692474/dampak-kenaikan-suku-bunga-bi-kpr-makin-mahal"/><item><title>Dampak Kenaikan Suku Bunga BI, KPR Makin Mahal?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/22/470/2692474/dampak-kenaikan-suku-bunga-bi-kpr-makin-mahal</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/10/22/470/2692474/dampak-kenaikan-suku-bunga-bi-kpr-makin-mahal</guid><pubDate>Sabtu 22 Oktober 2022 17:05 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/22/470/2692474/dampak-kenaikan-suku-bunga-bi-kpr-makin-mahal-whyfW6x6Hy.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Suku bunga acuan BI kerek bunga KPR (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/22/470/2692474/dampak-kenaikan-suku-bunga-bi-kpr-makin-mahal-whyfW6x6Hy.jpg</image><title>Suku bunga acuan BI kerek bunga KPR (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) akan berdampak ke sejumlah sektor. Salah satunya adalah kenaikan bunga kredit kendaraan bermotor hingga KPR.
Untuk diketahui, suku bunga acuan BI naik sebesar 50 bps menjadi 4,75% di bulan Oktober 2022 bakal dirasakan masyarakat Indonesia. Kenaikan suku bunga BI akan berdampak ke beban hidup dari perbankan lantaran bunga pinjaman di bank bakal meroket hingga soal lapangan kerja.
BACA JUGA:Menakar Saham Properti dan Otomotif di Tengah Kenaikan Suku Bunga BI
Dampak suku bunga acuan yang naik memang diharapkan BI mampu memperkuat kurs rupiah terhadap dolar. Saat ini rupiah masih bertengger di angka Rp15.600 per dolar AS.
Namun, dampak kenaikan suku bunga ini membuat para pelaku usaha akan berpikir dua kali untuk mengambil kredit. Pembayaran bunga dan cicilan modal usaha yang kadung diambil pun tampaknya harus direstrukturisasi.
BACA JUGA:Reaksi Bos BCA Usai BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 4,75%
Di tingkat rumah tangga, harga kebutuhan pokok akan meningkat bersamaan dengan naiknya harga BBM dan konsumsi energi lainnya. Selain itu, tingkat pembelian rumah dengan sistem kredit perumahan rakyat (KPR) dan cicilan motor juga diprediksi turun.
Analis Reliance Sekuritas Lukman Hakim mengatakan untuk sektor properti loan to value (LTV)/financing to value (FTV) kredit menjadi paling tinggi 100% untuk semua jenis properti.
Dengan kenaikan suku bunga acuan, bunga KPR akan menyesuaikan, sehingga harus tetap memperhatikan prinsip kehatian-hatian dalam manajemen risiko yang berpotensi terjadi peningkatan non performing loan/non performing financing (NPL/NPF).


Di sisi lain, adanya perpanjangan insentif uang muka untuk kredit  kendaraan bermotor dan properti hingga akhir 2023, kembali memberikan  angin segar untuk kedua sektor tersebut.
Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada menilai sentimen  lain untuk properti memang ada dari suku bunga acuan, namun tak lantas  membuat naik bunga KPR. Sehingga jika ada sentimen negatif, maka  berimbas pada penurunan saham-saham properti secara umum.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan keputusan kenaikan suku bunga  tersebut sebagai langkah untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang saat  ini terlalu tinggi (overshooting) dan memastikan inflasi inti ke depan  kembali ke dalam sasaran 3,0&amp;plusmn;1% lebih awal yaitu ke paruh pertama 2023,  serta memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan  dengan nilai fundamentalnya akibat semakin kuatnya mata uang dolar AS  dan tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.
Pertumbuhan ekonomi global kini melambat disertai dengan tekanan  inflasi yang tinggi dan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan  global.
Setelah membaik di 2022, pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2023  diprakirakan akan lebih rendah dari sebelumnya, bahkan disertai dengan  risiko resesi di beberapa negara. Revisi ke bawah pertumbuhan ekonomi  terjadi di sejumlah negara maju terutama Amerika Serikat, Eropa, dan  juga di Tiongkok.Perlambatan ekonomi global dipengaruhi oleh berlanjutnya ketegangan   geopolitik yang memicu fragmentasi ekonomi, perdagangan dan investasi,   serta dampak pengetatan kebijakan moneter yang agresif. Dampak rambatan   dari fragmentasi ekonomi global diprakirakan juga akan menyebabkan   perlambatan ekonomi di Emerging Markets (EMEs).
Sementara itu, tekanan inflasi dan inflasi inti global masih tinggi   seiring dengan berlanjutnya gangguan rantai pasokan sehingga mendorong   bank sentral di banyak negara menempuh kebijakan moneter yang lebih   agresif.
Kenaikan suku bunga acuan bisa mengganggu usaha sektor riil membuat   bisnis terhambat dan ketersediaan lapangan kerja di Indonesia bakal   bermasalah.
Meski demikian, kenaikan suku bunga acuan yang belum terlalu   berdampak saat ini sudah diperkirakan oleh semua pihak sehingga baik   sektor perbankan, pelaku usaha, dan lainnya sudah dapat mengantisipasi.</description><content:encoded>JAKARTA - Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) akan berdampak ke sejumlah sektor. Salah satunya adalah kenaikan bunga kredit kendaraan bermotor hingga KPR.
Untuk diketahui, suku bunga acuan BI naik sebesar 50 bps menjadi 4,75% di bulan Oktober 2022 bakal dirasakan masyarakat Indonesia. Kenaikan suku bunga BI akan berdampak ke beban hidup dari perbankan lantaran bunga pinjaman di bank bakal meroket hingga soal lapangan kerja.
BACA JUGA:Menakar Saham Properti dan Otomotif di Tengah Kenaikan Suku Bunga BI
Dampak suku bunga acuan yang naik memang diharapkan BI mampu memperkuat kurs rupiah terhadap dolar. Saat ini rupiah masih bertengger di angka Rp15.600 per dolar AS.
Namun, dampak kenaikan suku bunga ini membuat para pelaku usaha akan berpikir dua kali untuk mengambil kredit. Pembayaran bunga dan cicilan modal usaha yang kadung diambil pun tampaknya harus direstrukturisasi.
BACA JUGA:Reaksi Bos BCA Usai BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 4,75%
Di tingkat rumah tangga, harga kebutuhan pokok akan meningkat bersamaan dengan naiknya harga BBM dan konsumsi energi lainnya. Selain itu, tingkat pembelian rumah dengan sistem kredit perumahan rakyat (KPR) dan cicilan motor juga diprediksi turun.
Analis Reliance Sekuritas Lukman Hakim mengatakan untuk sektor properti loan to value (LTV)/financing to value (FTV) kredit menjadi paling tinggi 100% untuk semua jenis properti.
Dengan kenaikan suku bunga acuan, bunga KPR akan menyesuaikan, sehingga harus tetap memperhatikan prinsip kehatian-hatian dalam manajemen risiko yang berpotensi terjadi peningkatan non performing loan/non performing financing (NPL/NPF).


Di sisi lain, adanya perpanjangan insentif uang muka untuk kredit  kendaraan bermotor dan properti hingga akhir 2023, kembali memberikan  angin segar untuk kedua sektor tersebut.
Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada menilai sentimen  lain untuk properti memang ada dari suku bunga acuan, namun tak lantas  membuat naik bunga KPR. Sehingga jika ada sentimen negatif, maka  berimbas pada penurunan saham-saham properti secara umum.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan keputusan kenaikan suku bunga  tersebut sebagai langkah untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang saat  ini terlalu tinggi (overshooting) dan memastikan inflasi inti ke depan  kembali ke dalam sasaran 3,0&amp;plusmn;1% lebih awal yaitu ke paruh pertama 2023,  serta memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan  dengan nilai fundamentalnya akibat semakin kuatnya mata uang dolar AS  dan tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.
Pertumbuhan ekonomi global kini melambat disertai dengan tekanan  inflasi yang tinggi dan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan  global.
Setelah membaik di 2022, pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2023  diprakirakan akan lebih rendah dari sebelumnya, bahkan disertai dengan  risiko resesi di beberapa negara. Revisi ke bawah pertumbuhan ekonomi  terjadi di sejumlah negara maju terutama Amerika Serikat, Eropa, dan  juga di Tiongkok.Perlambatan ekonomi global dipengaruhi oleh berlanjutnya ketegangan   geopolitik yang memicu fragmentasi ekonomi, perdagangan dan investasi,   serta dampak pengetatan kebijakan moneter yang agresif. Dampak rambatan   dari fragmentasi ekonomi global diprakirakan juga akan menyebabkan   perlambatan ekonomi di Emerging Markets (EMEs).
Sementara itu, tekanan inflasi dan inflasi inti global masih tinggi   seiring dengan berlanjutnya gangguan rantai pasokan sehingga mendorong   bank sentral di banyak negara menempuh kebijakan moneter yang lebih   agresif.
Kenaikan suku bunga acuan bisa mengganggu usaha sektor riil membuat   bisnis terhambat dan ketersediaan lapangan kerja di Indonesia bakal   bermasalah.
Meski demikian, kenaikan suku bunga acuan yang belum terlalu   berdampak saat ini sudah diperkirakan oleh semua pihak sehingga baik   sektor perbankan, pelaku usaha, dan lainnya sudah dapat mengantisipasi.</content:encoded></item></channel></rss>
