<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Suku Bunga BI Naik, Bagaimana Nasib Saham Properti dan Otomotif?</title><description>Mengukur nasib saham properti dan sektor otomotif di tengah pengaruh kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/23/278/2692532/suku-bunga-bi-naik-bagaimana-nasib-saham-properti-dan-otomotif</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/10/23/278/2692532/suku-bunga-bi-naik-bagaimana-nasib-saham-properti-dan-otomotif"/><item><title>Suku Bunga BI Naik, Bagaimana Nasib Saham Properti dan Otomotif?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/23/278/2692532/suku-bunga-bi-naik-bagaimana-nasib-saham-properti-dan-otomotif</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/10/23/278/2692532/suku-bunga-bi-naik-bagaimana-nasib-saham-properti-dan-otomotif</guid><pubDate>Minggu 23 Oktober 2022 03:21 WIB</pubDate><dc:creator>Clara Amelia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/22/278/2692532/suku-bunga-bi-naik-bagaimana-nasib-saham-properti-dan-otomotif-tg7JnKdQxa.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menakar saham properti dan otomotif di tengah kenaikan suku bunga BI (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/22/278/2692532/suku-bunga-bi-naik-bagaimana-nasib-saham-properti-dan-otomotif-tg7JnKdQxa.jpg</image><title>Menakar saham properti dan otomotif di tengah kenaikan suku bunga BI (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Mengukur nasib saham properti dan sektor otomotif di tengah pengaruh kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).
Sebelumnya, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 19-20 Oktober 2022 memutuskan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 basis points (bps) menjadi 4,75%.
BACA JUGA:Reaksi Bos BCA Usai BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 4,75%

Menurut beberapa analis, kenaikan suku bunga tersebut tidak begitu berpengaruh untuk saham-saham sektor otomotif dan properti, namun dengan catatan selama diiringi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih positif.
Secara umum saham-saham properti tergantung dari sentimen dan kondisi lapangan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ada relaksasi pajak yang direspons positif oleh pelaku pasar.
Menurut Analis Reliance Sekuritas Lukman Hakim, di sektor properti loan to value (LTV)/financing to value (FTV) kredit menjadi paling tinggi 100% untuk semua jenis properti.
BACA JUGA:BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 4,75%

Dengan kenaikan suku bunga acuan, bunga KPR akan menyesuaikan, sehingga harus tetap memperhatikan prinsip kehatian-hatian dalam manajemen risiko yang berpotensi terjadi peningkatan non performing loan/non performing financing (NPL/NPF).
Di sisi lain, adanya perpanjangan insentif uang muka untuk kredit kendaraan bermotor dan properti hingga akhir 2023, kembali memberikan angin segar untuk kedua sektor tersebut.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wNi8yNC80LzE0OTY2My8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada menilai sentimen  lain untuk properti memang ada dari suku bunga acuan, namun tak lantas  membuat naik bunga KPR. Sehingga jika ada sentimen negatif, maka  berimbas pada penurunan saham-saham properti secara umum.
Berikut sejumlah saham emiten properti masih memiliki prospek yang  baik antara lain PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Bumi Serpong Damai  Tbk (BSDE), PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), PT Ciputra Development Tbk  (CTRA), PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), dan PT Metropolitan Land  Tbk (MTLA).
Sementara untuk sektor otomotif terlihat dari penjualan mobil pada  September 2022 yang kembali ke level 96.956 unit, hal ini memberikan  sinyal positif bahwa adanya kebijakan insentif tersebut turut mendorong  penjualan di tengah tingginya inflasi dan kenaikan suku bunga.
Baca selengkapnya: Menakar Saham Properti dan Otomotif di Tengah Kenaikan Suku Bunga BI</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Mengukur nasib saham properti dan sektor otomotif di tengah pengaruh kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).
Sebelumnya, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 19-20 Oktober 2022 memutuskan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 basis points (bps) menjadi 4,75%.
BACA JUGA:Reaksi Bos BCA Usai BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 4,75%

Menurut beberapa analis, kenaikan suku bunga tersebut tidak begitu berpengaruh untuk saham-saham sektor otomotif dan properti, namun dengan catatan selama diiringi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih positif.
Secara umum saham-saham properti tergantung dari sentimen dan kondisi lapangan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ada relaksasi pajak yang direspons positif oleh pelaku pasar.
Menurut Analis Reliance Sekuritas Lukman Hakim, di sektor properti loan to value (LTV)/financing to value (FTV) kredit menjadi paling tinggi 100% untuk semua jenis properti.
BACA JUGA:BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 4,75%

Dengan kenaikan suku bunga acuan, bunga KPR akan menyesuaikan, sehingga harus tetap memperhatikan prinsip kehatian-hatian dalam manajemen risiko yang berpotensi terjadi peningkatan non performing loan/non performing financing (NPL/NPF).
Di sisi lain, adanya perpanjangan insentif uang muka untuk kredit kendaraan bermotor dan properti hingga akhir 2023, kembali memberikan angin segar untuk kedua sektor tersebut.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wNi8yNC80LzE0OTY2My8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada menilai sentimen  lain untuk properti memang ada dari suku bunga acuan, namun tak lantas  membuat naik bunga KPR. Sehingga jika ada sentimen negatif, maka  berimbas pada penurunan saham-saham properti secara umum.
Berikut sejumlah saham emiten properti masih memiliki prospek yang  baik antara lain PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Bumi Serpong Damai  Tbk (BSDE), PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), PT Ciputra Development Tbk  (CTRA), PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), dan PT Metropolitan Land  Tbk (MTLA).
Sementara untuk sektor otomotif terlihat dari penjualan mobil pada  September 2022 yang kembali ke level 96.956 unit, hal ini memberikan  sinyal positif bahwa adanya kebijakan insentif tersebut turut mendorong  penjualan di tengah tingginya inflasi dan kenaikan suku bunga.
Baca selengkapnya: Menakar Saham Properti dan Otomotif di Tengah Kenaikan Suku Bunga BI</content:encoded></item></channel></rss>
