<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>5 Fakta Suku Bunga BI Naik, Ini Dampaknya</title><description>Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI-7 Day Reverse  Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 4,25%.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/23/320/2692590/5-fakta-suku-bunga-bi-naik-ini-dampaknya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/10/23/320/2692590/5-fakta-suku-bunga-bi-naik-ini-dampaknya"/><item><title>5 Fakta Suku Bunga BI Naik, Ini Dampaknya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/23/320/2692590/5-fakta-suku-bunga-bi-naik-ini-dampaknya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/10/23/320/2692590/5-fakta-suku-bunga-bi-naik-ini-dampaknya</guid><pubDate>Minggu 23 Oktober 2022 05:02 WIB</pubDate><dc:creator>Shelma Rachmahyanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/22/320/2692590/5-fakta-suku-bunga-bi-naik-ini-dampaknya-hQnqVO8zkS.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bank Indonesia naikkan suku bunga acuan (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/22/320/2692590/5-fakta-suku-bunga-bi-naik-ini-dampaknya-hQnqVO8zkS.jpg</image><title>Bank Indonesia naikkan suku bunga acuan (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 4,25%.
Berikut fakta suku bunga BI naik yang dirangkum Okezone di Jakarta, Minggu (23/10/2022).
1. Kata Analis
Analis Kiwoom Sekuritas Abdul Azis mengatakan, kenaikan suku bunga masih dapat direspons positif ke depannya oleh pelaku pasar mengingat kenaikan The Fed masih akan agresif dalam menaikan suku bunganya. Menurut dia, selain itu kondisi fundamental Indonesia yang masih kuat masih menjadi daya tarik investor asing.
&quot;Kenaikan suku bunga saat ini karena meredam inflasi akibat kenaikan harga komoditas. Hal ini akan berdampak pada sektor consumer karena saya beli yang melemah serta adanya kenaikan harga beban raw and material pada emiten consumer,&quot; kata Azis kepada media, Sabtu (24/9/2022).
BACA JUGA:Dampak Kenaikan Suku Bunga BI, KPR Makin Mahal?

2. Sektor Mining Diuntungkan
Azis juga menyebutkan, dalam kondisi seperti ini sektor mining diuntungkan dari kenaikan suku bunga. Mengingat kenaikan suku bunga dapat menjadi ketertarikan bagi investor asing untuk masuk di market.
Di sisi lain, harga komoditas yang masih tinggi seperti batu bara masih bisa menjadi sentimen positif bagi sektor tersebut.
Dalam kondisi seperti ini, Aziz merekomendasikan investor dapat mencermati saham-saham sektor komoditas seperti ADRO, ADMR, maupun PTBA dengan rekomendasi hold atau trading buy dengan potensi upside 10%-15%.
BACA JUGA:Menakar Saham Properti dan Otomotif di Tengah Kenaikan Suku Bunga BI

3. Pengusaha Otomotif Mulai Khawatir
Ketua Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) I, Jongkie Sugiharto mengatakan kenaikan suku bunga acuan itu bakal berpengaruh terhadap penjualan industri otomotif.
Hal itu karena mayoritas penjualan kendaraan di Indonesia melalui sarana kredit.
&quot;(Bukan PPNBM DTP dihapus) yang kita khawatir jujur sebenarnya adalah meningkatnya suku bunga perbankan yang sudah menjadi 4,25% saat ini, itu yang kita khawatir,&quot; ujar Jongkie dalam Market Review IDX Channel, Senin (10/10/2022).
Jongkie khawatir dengan meningkatnya beban cicilan itu akan menurunkan minat masyarakat untuk memiliki kendaraan.
Padahal menurutnya industri tersebut terbukti memberikan multiplier effect yang cukup luas.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOS8yNC80LzE1MzY4OS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;4. BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 4,75%
Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,75%. Rapat Dewan  Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada tanggal 19 dan 20 Oktober 2022  memutuskan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar  50 bps menjadi sebesar 4,75%.
Suku bunga Deposit Facility naik menjadi sebesar 50 bps 4%, dan suku bunga Lending Facility naik 50 bps menjadi sebesar 5,5%.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa kenaikan ini merupakan  langkah front-loaded, preemptive dan forward looking untuk menurunkan  ekspektasi inflasi yang saat ini terlalu tinggi (overshooting), serta  memastikan inflasi inti kembali ke sasaran 3&amp;plusmn;1% lebih awal pada paruh  pertama 2023.
&quot;Keputusan ini dilakukan dalam rangka memperkuat kebijakan  stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai fundamental akibat kuatnya mata  uang Dolar AS (USD) dan tingginya ketidakpastian pasar keuangan global  di tengah permintaan ekonomi domestik yang tetap kuat,&quot; ujar Perry dalam  konferensi pers virtual di Jakarta, Kamis(20/10/2022).
5. Respons Bos BCA
Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja mengatakan, jika mengikuti  perkembangan The Fed yang sudah menaikkan 300 bps, nantinya akan ada  kenaikan lagi di bulan November yang diperkirakan 75 bps.
&quot;Nah di kita kenaikan 2 kali 125 bps, ditambah 50, jadi 175 dibanding  The Fed 375 jadi masih di bawah pada kenaikan. Kalau kita monitor  market ini masih cukup likuid,&quot; ujar Jahja dalam Paparan Kinerja  Keuangan BCA Triwulan III 2022, Kamis (20/10/2022).
Menurut Jahja, secara likuiditas, di market cukup likuid dalam penyediaan rupiah.
&quot;Antara bank masih normal, harian Rp120 triliun masih cukup aman,  namun kalau kita lihat kurs itu sedikit banyak ikut tren, secara global  mata uang lain kecuali US melemah,&quot; jelas Jahja.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 4,25%.
Berikut fakta suku bunga BI naik yang dirangkum Okezone di Jakarta, Minggu (23/10/2022).
1. Kata Analis
Analis Kiwoom Sekuritas Abdul Azis mengatakan, kenaikan suku bunga masih dapat direspons positif ke depannya oleh pelaku pasar mengingat kenaikan The Fed masih akan agresif dalam menaikan suku bunganya. Menurut dia, selain itu kondisi fundamental Indonesia yang masih kuat masih menjadi daya tarik investor asing.
&quot;Kenaikan suku bunga saat ini karena meredam inflasi akibat kenaikan harga komoditas. Hal ini akan berdampak pada sektor consumer karena saya beli yang melemah serta adanya kenaikan harga beban raw and material pada emiten consumer,&quot; kata Azis kepada media, Sabtu (24/9/2022).
BACA JUGA:Dampak Kenaikan Suku Bunga BI, KPR Makin Mahal?

2. Sektor Mining Diuntungkan
Azis juga menyebutkan, dalam kondisi seperti ini sektor mining diuntungkan dari kenaikan suku bunga. Mengingat kenaikan suku bunga dapat menjadi ketertarikan bagi investor asing untuk masuk di market.
Di sisi lain, harga komoditas yang masih tinggi seperti batu bara masih bisa menjadi sentimen positif bagi sektor tersebut.
Dalam kondisi seperti ini, Aziz merekomendasikan investor dapat mencermati saham-saham sektor komoditas seperti ADRO, ADMR, maupun PTBA dengan rekomendasi hold atau trading buy dengan potensi upside 10%-15%.
BACA JUGA:Menakar Saham Properti dan Otomotif di Tengah Kenaikan Suku Bunga BI

3. Pengusaha Otomotif Mulai Khawatir
Ketua Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) I, Jongkie Sugiharto mengatakan kenaikan suku bunga acuan itu bakal berpengaruh terhadap penjualan industri otomotif.
Hal itu karena mayoritas penjualan kendaraan di Indonesia melalui sarana kredit.
&quot;(Bukan PPNBM DTP dihapus) yang kita khawatir jujur sebenarnya adalah meningkatnya suku bunga perbankan yang sudah menjadi 4,25% saat ini, itu yang kita khawatir,&quot; ujar Jongkie dalam Market Review IDX Channel, Senin (10/10/2022).
Jongkie khawatir dengan meningkatnya beban cicilan itu akan menurunkan minat masyarakat untuk memiliki kendaraan.
Padahal menurutnya industri tersebut terbukti memberikan multiplier effect yang cukup luas.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOS8yNC80LzE1MzY4OS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;4. BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 4,75%
Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,75%. Rapat Dewan  Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada tanggal 19 dan 20 Oktober 2022  memutuskan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar  50 bps menjadi sebesar 4,75%.
Suku bunga Deposit Facility naik menjadi sebesar 50 bps 4%, dan suku bunga Lending Facility naik 50 bps menjadi sebesar 5,5%.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa kenaikan ini merupakan  langkah front-loaded, preemptive dan forward looking untuk menurunkan  ekspektasi inflasi yang saat ini terlalu tinggi (overshooting), serta  memastikan inflasi inti kembali ke sasaran 3&amp;plusmn;1% lebih awal pada paruh  pertama 2023.
&quot;Keputusan ini dilakukan dalam rangka memperkuat kebijakan  stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai fundamental akibat kuatnya mata  uang Dolar AS (USD) dan tingginya ketidakpastian pasar keuangan global  di tengah permintaan ekonomi domestik yang tetap kuat,&quot; ujar Perry dalam  konferensi pers virtual di Jakarta, Kamis(20/10/2022).
5. Respons Bos BCA
Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja mengatakan, jika mengikuti  perkembangan The Fed yang sudah menaikkan 300 bps, nantinya akan ada  kenaikan lagi di bulan November yang diperkirakan 75 bps.
&quot;Nah di kita kenaikan 2 kali 125 bps, ditambah 50, jadi 175 dibanding  The Fed 375 jadi masih di bawah pada kenaikan. Kalau kita monitor  market ini masih cukup likuid,&quot; ujar Jahja dalam Paparan Kinerja  Keuangan BCA Triwulan III 2022, Kamis (20/10/2022).
Menurut Jahja, secara likuiditas, di market cukup likuid dalam penyediaan rupiah.
&quot;Antara bank masih normal, harian Rp120 triliun masih cukup aman,  namun kalau kita lihat kurs itu sedikit banyak ikut tren, secara global  mata uang lain kecuali US melemah,&quot; jelas Jahja.</content:encoded></item></channel></rss>
