<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bahlil Ungkap Penyebab Perdagangan Karbon G20 Belum Deal</title><description>Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengungkap penyebab perdagangan karbon belum deal pada presidensi G20 di Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/24/320/2693445/bahlil-ungkap-penyebab-perdagangan-karbon-g20-belum-deal</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/10/24/320/2693445/bahlil-ungkap-penyebab-perdagangan-karbon-g20-belum-deal"/><item><title>Bahlil Ungkap Penyebab Perdagangan Karbon G20 Belum Deal</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/24/320/2693445/bahlil-ungkap-penyebab-perdagangan-karbon-g20-belum-deal</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/10/24/320/2693445/bahlil-ungkap-penyebab-perdagangan-karbon-g20-belum-deal</guid><pubDate>Senin 24 Oktober 2022 15:18 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/24/320/2693445/bahlil-ungkap-penyebab-perdagangan-karbon-g20-belum-deal-DfLcFRN9uo.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bahlil ungkap penyebab perdagangan karbon belum deal (Foto: Setkab)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/24/320/2693445/bahlil-ungkap-penyebab-perdagangan-karbon-g20-belum-deal-DfLcFRN9uo.jpg</image><title>Bahlil ungkap penyebab perdagangan karbon belum deal (Foto: Setkab)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengungkap penyebab perdagangan karbon belum deal pada presidensi G20 di Indonesia. Salah satunya menyangkut ketimpangan harga karbon antara negara maju dan negara berkembang.
Bahlil mengungkapkan negara-negara maju enggan untuk membeli membeli karbon yang diserap oleh negara berkembang. Padahal justru negara berkembang yang punya potensi dalam menyerap karbon yang lebih besar.
BACA JUGA:Sri Mulyani Bawa Oleh-Oleh dari AS, G20 Indonesia Bawa 3 Agenda Prioritas

&quot;Jadi harga karbon itu dibuat seolah2 tidak adil dengan pandangan saya, karena Eropa itu maunya mereka lebih tinggi dibandingkan dengan karbon yang asalnya dari negara berkembang seperti Indonesia,&quot; ujar Bahlil usai konferensi pers realisasi investasi Kuartal III di Kantornya, Senin (24/10/2022).
Bahlil menilai harga karbon yang diserap oleh negara maju punya harga USD100, sedangkan negara maju ketika membeli karbon dari negara berkembang hanya mau menghargai USD10.
BACA JUGA:G20 SOE Conference: Professor Harvard, Konsep Hybrid Bank BRI Efektif Dongkrak Inklusi Keuangan Indonesia 

Bahlil mengungkapkan hal tersebut dikarenakan untuk menanam pohon untuk menyerap karbon di negara maju lebih susah jika dibandingkan dengan negara berkembang seperti Indonesia yang masih punya banyak lahan hijau.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMC8yMS84LzE1NTM0Ni8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Saya katakan ini tidak adil, terus saya bilang &quot;loh kenapa kalian  sudah tebang duluan di awal, masa kalian membuat sama dengan kita,&quot; jadi  itu saya menganggap nggak fair,&quot; kata Bahlil.
Menurutnya revolusi industri negara maju merupakan hasil dari  penebangan pohon yang dilakukan sebelumnya. Membuka lahan untuk bangun  industri-industri baru sehingga membuat kuat perekonomian negara maju.
&quot;Mungkin salah satu di antaranya (tidak ada kesepakatan), harga ya saya bicara harga, kita tidak ada kesepakatan,&quot; kata Bahlil.
&quot;Jadi menyangkut harga karbon itu drop, jadi karbonisasinya didrop.  Perdebatannya sengit sekali. tapi hilirisasi dan nilai tambah itu  tercapai (kesepakatan),&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengungkap penyebab perdagangan karbon belum deal pada presidensi G20 di Indonesia. Salah satunya menyangkut ketimpangan harga karbon antara negara maju dan negara berkembang.
Bahlil mengungkapkan negara-negara maju enggan untuk membeli membeli karbon yang diserap oleh negara berkembang. Padahal justru negara berkembang yang punya potensi dalam menyerap karbon yang lebih besar.
BACA JUGA:Sri Mulyani Bawa Oleh-Oleh dari AS, G20 Indonesia Bawa 3 Agenda Prioritas

&quot;Jadi harga karbon itu dibuat seolah2 tidak adil dengan pandangan saya, karena Eropa itu maunya mereka lebih tinggi dibandingkan dengan karbon yang asalnya dari negara berkembang seperti Indonesia,&quot; ujar Bahlil usai konferensi pers realisasi investasi Kuartal III di Kantornya, Senin (24/10/2022).
Bahlil menilai harga karbon yang diserap oleh negara maju punya harga USD100, sedangkan negara maju ketika membeli karbon dari negara berkembang hanya mau menghargai USD10.
BACA JUGA:G20 SOE Conference: Professor Harvard, Konsep Hybrid Bank BRI Efektif Dongkrak Inklusi Keuangan Indonesia 

Bahlil mengungkapkan hal tersebut dikarenakan untuk menanam pohon untuk menyerap karbon di negara maju lebih susah jika dibandingkan dengan negara berkembang seperti Indonesia yang masih punya banyak lahan hijau.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMC8yMS84LzE1NTM0Ni8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Saya katakan ini tidak adil, terus saya bilang &quot;loh kenapa kalian  sudah tebang duluan di awal, masa kalian membuat sama dengan kita,&quot; jadi  itu saya menganggap nggak fair,&quot; kata Bahlil.
Menurutnya revolusi industri negara maju merupakan hasil dari  penebangan pohon yang dilakukan sebelumnya. Membuka lahan untuk bangun  industri-industri baru sehingga membuat kuat perekonomian negara maju.
&quot;Mungkin salah satu di antaranya (tidak ada kesepakatan), harga ya saya bicara harga, kita tidak ada kesepakatan,&quot; kata Bahlil.
&quot;Jadi menyangkut harga karbon itu drop, jadi karbonisasinya didrop.  Perdebatannya sengit sekali. tapi hilirisasi dan nilai tambah itu  tercapai (kesepakatan),&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
