<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi Diprediksi Suram di 2023, Bansos Harus Diperluas</title><description>Pemerintah menyatakan bahwa ekonomi ke depannya akan suram karena tekanan ketidakpastian global.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/30/320/2697276/ekonomi-diprediksi-suram-di-2023-bansos-harus-diperluas</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/10/30/320/2697276/ekonomi-diprediksi-suram-di-2023-bansos-harus-diperluas"/><item><title>Ekonomi Diprediksi Suram di 2023, Bansos Harus Diperluas</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/30/320/2697276/ekonomi-diprediksi-suram-di-2023-bansos-harus-diperluas</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/10/30/320/2697276/ekonomi-diprediksi-suram-di-2023-bansos-harus-diperluas</guid><pubDate>Minggu 30 Oktober 2022 11:35 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/30/320/2697276/ekonomi-diprediksi-suram-di-2023-bansos-harus-diperluas-xknYKzBPnb.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Bansos Harus Diperluas (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/30/320/2697276/ekonomi-diprediksi-suram-di-2023-bansos-harus-diperluas-xknYKzBPnb.jpeg</image><title>Bansos Harus Diperluas (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Pemerintah menyatakan bahwa ekonomi ke depannya akan suram karena tekanan ketidakpastian global.
Menanggapi sikap pemerintah ini, Ekonom sekaligus Direktur CELIOS Bhima Yudhistira meminta agar pola komunikasi pemerintah jangan hanya menyebarkan fear mongering atau ketakutan.
BACA JUGA:Ekonomi Rusia Diprediksi Turun 3%-3,5% di 2022 Imbas Perang

&quot;Karena mulai tidak berimbang antara komunikasi soal resesi ekonomi yang sering disebutkan pemerintah dengan solusi kebijakan yang ditawarkan,&quot; ujar Bhima kepada MNC Portal Indonesia di Jakarta, Minggu (30/10/2022).
Dia menilai, kondisinya agak aneh pada awal pandemi COVID-19 tahun 2020 dimana pemerintah terkesan denial dan menyepelekan dampak pandemi ke ekonomi.
&quot;Tetapi, pada saat peringatan resesi global 2023, pemerintah seolah semangat sekali bicara ancaman resesi. Itu kan aneh,&quot; ucapnya.
BACA JUGA:Terobosan Hilirisasi SDA, Erick Thohir: BUMN Katalis Pertumbuhan Ekonomi RI

Dia menegaskan bahwa sekarang yang masyarakat butuhkan adalah paket kebijakan, bukan sekedar fear mongering soal resesi. Kalau pemerintah meyakini ancaman resesi itu nyata harusnya sudah mengeluarkan paket-paket kebijakan.&quot;Antara lain berisi relaksasi tarif PPN dari 11% diturunkan jadi 7-8%. Perluasan BSU untuk pekerja sektor informal yang rentan,&quot; ungkap Bhima.
Selain itu, dia menyebutkan bansos tidak hanya kompensasi atas kenaikan harga bbm tapi juga ancaman krisis pangan dan stagflasi jangka menengah. Paket kebijakan ini juga harusnya berisi perpanjangan restrukturisasi pinjaman untuk pelaku UMKM terdampak pelemahan ekonomi.
&quot;Juga paket diskon tarif listrik untuk industri padat karya,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Pemerintah menyatakan bahwa ekonomi ke depannya akan suram karena tekanan ketidakpastian global.
Menanggapi sikap pemerintah ini, Ekonom sekaligus Direktur CELIOS Bhima Yudhistira meminta agar pola komunikasi pemerintah jangan hanya menyebarkan fear mongering atau ketakutan.
BACA JUGA:Ekonomi Rusia Diprediksi Turun 3%-3,5% di 2022 Imbas Perang

&quot;Karena mulai tidak berimbang antara komunikasi soal resesi ekonomi yang sering disebutkan pemerintah dengan solusi kebijakan yang ditawarkan,&quot; ujar Bhima kepada MNC Portal Indonesia di Jakarta, Minggu (30/10/2022).
Dia menilai, kondisinya agak aneh pada awal pandemi COVID-19 tahun 2020 dimana pemerintah terkesan denial dan menyepelekan dampak pandemi ke ekonomi.
&quot;Tetapi, pada saat peringatan resesi global 2023, pemerintah seolah semangat sekali bicara ancaman resesi. Itu kan aneh,&quot; ucapnya.
BACA JUGA:Terobosan Hilirisasi SDA, Erick Thohir: BUMN Katalis Pertumbuhan Ekonomi RI

Dia menegaskan bahwa sekarang yang masyarakat butuhkan adalah paket kebijakan, bukan sekedar fear mongering soal resesi. Kalau pemerintah meyakini ancaman resesi itu nyata harusnya sudah mengeluarkan paket-paket kebijakan.&quot;Antara lain berisi relaksasi tarif PPN dari 11% diturunkan jadi 7-8%. Perluasan BSU untuk pekerja sektor informal yang rentan,&quot; ungkap Bhima.
Selain itu, dia menyebutkan bansos tidak hanya kompensasi atas kenaikan harga bbm tapi juga ancaman krisis pangan dan stagflasi jangka menengah. Paket kebijakan ini juga harusnya berisi perpanjangan restrukturisasi pinjaman untuk pelaku UMKM terdampak pelemahan ekonomi.
&quot;Juga paket diskon tarif listrik untuk industri padat karya,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
