<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Minyak Dunia Turun Imbas Pembatasan Mobilitas di China</title><description>Harga minyak dunia turun pada awal perdagangan pagi ini, Senin (31/10/2022).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/31/320/2697720/harga-minyak-dunia-turun-imbas-pembatasan-mobilitas-di-china</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/10/31/320/2697720/harga-minyak-dunia-turun-imbas-pembatasan-mobilitas-di-china"/><item><title>Harga Minyak Dunia Turun Imbas Pembatasan Mobilitas di China</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/10/31/320/2697720/harga-minyak-dunia-turun-imbas-pembatasan-mobilitas-di-china</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/10/31/320/2697720/harga-minyak-dunia-turun-imbas-pembatasan-mobilitas-di-china</guid><pubDate>Senin 31 Oktober 2022 10:07 WIB</pubDate><dc:creator>Dinar Fitra Maghiszha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/31/320/2697720/harga-minyak-dunia-turun-imbas-pembatasan-mobilitas-di-china-ksoY9LPHFV.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Harga minyak dunia turun (Foto: Ilustrasi Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/31/320/2697720/harga-minyak-dunia-turun-imbas-pembatasan-mobilitas-di-china-ksoY9LPHFV.jpg</image><title>Harga minyak dunia turun (Foto: Ilustrasi Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Harga minyak dunia turun pada awal perdagangan pagi ini, Senin (31/10/2022). Harga minyak turun imbas adanya pembatasan mobilitas di China yang dikhawatirkan mengganggu permintaan global.
Data perdagangan hingga pukul 09:21 WIB menunjukkan minyak Brent di Intercontinental Exchange (ICE) untuk kontrak Januari 2023 melemah 1,12% di USD92,72 per barel. Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange (NYMEX) untuk pengiriman Januari turun 0,94% sebesar USD85,80 per barel.
BACA JUGA:Harga Minyak Dunia Naik Didorong Kekhawatiran Resesi

Pembatasan Covid-19 yang lebih luas dan merata di daratan China selalu meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap permintaan mengingat China adalah salah satu importir minyak mentah terbesar dunia.
Analis SPI Asset Management, Stephen Innes mengatakan sejumlah kota-kota di China telah menggandakan kebijakan nol-COVID mereka ketika wabah meluas. Hal tersebut mengurangi harapan rebound di pasar minyak.
BACA JUGA:Permintaan Naik, Harga Minyak Dunia Tembus Level Tertinggi dalam 2 Pekan

Kendati demikian, minyak jenis light sweet WTI masih didukung peningkatan produksi besar-besaran dari sumber minyak serpih yang memiliki volume cukup besar di Amerika Serikat.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMC8xMS80LzE1NDY3OC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Diketahui, ekspor minyak AS sempat mencetak rekor pada minggu lalu,  yang sebagian mendorong harga WTI naik 3,4% pekan lalu. Sementara itu,  Brent naik 2,4% minggu lalu, yang notabene kenaikan mingguan kedua  berturut-turut.
Secara terpisah, bank sentral China menegaskan kembali tujuan  kebijakan mereka untuk menjaga likuiditas tetap cukup cukup dan  meningkatkan dukungan kredit sektor riil, sebagaimana disampaikan  Gubernur Bank Rakyat China (PBOC) Yi Gang, dilansir Reuters, Senin  (31/10).
Ke depan,  pasar minyak tengah menantikan rilis proyeksi minyak dari  organisasi negara pengekspor minyak bumi (OPEC), yang diperkirakan masih  akan tetap berpegang pada pandangan bahwa permintaan minyak masih akan  meningkat untuk satu dekade lagi, meskipun penggunaan energi terbarukan  dan mobil listrik mengimbangi kenaikan itu.</description><content:encoded>JAKARTA - Harga minyak dunia turun pada awal perdagangan pagi ini, Senin (31/10/2022). Harga minyak turun imbas adanya pembatasan mobilitas di China yang dikhawatirkan mengganggu permintaan global.
Data perdagangan hingga pukul 09:21 WIB menunjukkan minyak Brent di Intercontinental Exchange (ICE) untuk kontrak Januari 2023 melemah 1,12% di USD92,72 per barel. Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange (NYMEX) untuk pengiriman Januari turun 0,94% sebesar USD85,80 per barel.
BACA JUGA:Harga Minyak Dunia Naik Didorong Kekhawatiran Resesi

Pembatasan Covid-19 yang lebih luas dan merata di daratan China selalu meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap permintaan mengingat China adalah salah satu importir minyak mentah terbesar dunia.
Analis SPI Asset Management, Stephen Innes mengatakan sejumlah kota-kota di China telah menggandakan kebijakan nol-COVID mereka ketika wabah meluas. Hal tersebut mengurangi harapan rebound di pasar minyak.
BACA JUGA:Permintaan Naik, Harga Minyak Dunia Tembus Level Tertinggi dalam 2 Pekan

Kendati demikian, minyak jenis light sweet WTI masih didukung peningkatan produksi besar-besaran dari sumber minyak serpih yang memiliki volume cukup besar di Amerika Serikat.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMC8xMS80LzE1NDY3OC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Diketahui, ekspor minyak AS sempat mencetak rekor pada minggu lalu,  yang sebagian mendorong harga WTI naik 3,4% pekan lalu. Sementara itu,  Brent naik 2,4% minggu lalu, yang notabene kenaikan mingguan kedua  berturut-turut.
Secara terpisah, bank sentral China menegaskan kembali tujuan  kebijakan mereka untuk menjaga likuiditas tetap cukup cukup dan  meningkatkan dukungan kredit sektor riil, sebagaimana disampaikan  Gubernur Bank Rakyat China (PBOC) Yi Gang, dilansir Reuters, Senin  (31/10).
Ke depan,  pasar minyak tengah menantikan rilis proyeksi minyak dari  organisasi negara pengekspor minyak bumi (OPEC), yang diperkirakan masih  akan tetap berpegang pada pandangan bahwa permintaan minyak masih akan  meningkat untuk satu dekade lagi, meskipun penggunaan energi terbarukan  dan mobil listrik mengimbangi kenaikan itu.</content:encoded></item></channel></rss>
