<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekspor Sepatu Nike hingga Adidas Merosot, 25.700 Karyawan Kena PHK</title><description>Penurunan ekspor sepatu memicu PHK puluhan ribu karyawan industri alas kaki.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/11/17/320/2709219/ekspor-sepatu-nike-hingga-adidas-merosot-25-700-karyawan-kena-phk</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/11/17/320/2709219/ekspor-sepatu-nike-hingga-adidas-merosot-25-700-karyawan-kena-phk"/><item><title>Ekspor Sepatu Nike hingga Adidas Merosot, 25.700 Karyawan Kena PHK</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/11/17/320/2709219/ekspor-sepatu-nike-hingga-adidas-merosot-25-700-karyawan-kena-phk</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/11/17/320/2709219/ekspor-sepatu-nike-hingga-adidas-merosot-25-700-karyawan-kena-phk</guid><pubDate>Kamis 17 November 2022 10:46 WIB</pubDate><dc:creator>Advenia Elisabeth</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/11/17/320/2709219/ekspor-sepatu-nike-hingga-adidas-merosot-25-700-karyawan-kena-phk-kPvBWgl97y.jpg" expression="full" type="image/jpeg">PHK massal pabrik sepatu (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/11/17/320/2709219/ekspor-sepatu-nike-hingga-adidas-merosot-25-700-karyawan-kena-phk-kPvBWgl97y.jpg</image><title>PHK massal pabrik sepatu (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Penurunan ekspor sepatu memicu PHK puluhan ribu karyawan industri alas kaki. Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko  mengatakan, pabrik-pabrik sepatu di Indonesia telah melakukan PHK terhadap 25.700 karyawan.
Dia memperkirakan jumlahnya akan semakin besar sebab angka itu baru 10% dari total karyawan yang terancam mengalami PHK.
BACA JUGA:Isu PHK Massal Merebak, Klaim Jaminan Kehilangan Pekerja Melonjak 105%

&quot;Sekarang yang sudah kena PHK itu 10%, kira-kira sekitar 25.700 karyawan pabrik sepatu. Angka ini bisa terus bertambah,&quot; ujar Eddy, dikutip Kamis (17/11/2022).
Dia menjelaskan, hal tersebut bisa terjadi lantaran Nike, Reebok, dan Adidas yang merupakan pemesan ekspor sepatu terbesar dari Indonesia menurunkan 50% pesanan karena sedang mengalami kesulitan penjualan.
BACA JUGA:Ramai PHK di Sektor Padat Karya, Pengusaha Ungkap Alasannya

Oleh karena itu, Eddy mengaku telah menemui pihak Nike, Reebok, dan Adidas. Dia menyampaikan bahwa ketiga merek tersebut sedang dalam masa tersulit. Sebab, selama 30 tahun mereka berbisnis belum pernah sekalipun mengalami kesulitan penjualan.
&quot;Di dalam pertemuan kita dengan orang Nike, Reebok, dan Adidas, mereka mengatakan 30 tahun mereka bisnis, tidak pernah sekalipun mengalami kesulitan penjualan kecuali tahun ini. Stok produk mereka di negara tujuan ekspor masih sangat besar sehingga menurunkan pemesanan dari pabrik-pabrik di Indonesia,&quot; bebernya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMS8xMi8xLzE1Njc3MC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Padahal, selama 30 tahun berbisnis merek-merek tersebut tidak pernah  menurunkan order di bawah 10%. Bahkan setiap tahun, ketiga merek itu  menaikan pesanan hingga 10 sampai 30%,&quot; sambung Eddy.
Kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Ia menyebut penurunan  pesanan juga terjadi di negara-negara pengekspor alas kaki lainnya  seperti Vietnam dan Cina.
Kata Eddy, kedua negara tersebut kini mengajukan kepada pemerintahnya  supaya bisa dilakukan pengurangan jam kerja. Dari yang semula 40 jam  kerja per minggu menjadi 25-30 jam.
Ia mengaku beberapa perusahaan sebetulnya juga melakukan langkah  tersebut. Bahkan, meminta kepada pemerintah di negara masing-masing  supaya memberikan kelonggaran kepada pihaknya agar bisa hanya menggaji  karyawannya berdasarkan pro rata jam kerja.
&quot;Kalau bahasa medianya itu, no work no pay. Tapi sebetulnya bukan  itu, kita ingin meminta satu kelonggaran pada masa ini untuk bisa  mengurangi jam kerja supaya kita tidak melakukan PHK,&quot; kata Eddy.
Menurut dia itu adalah jalan keluar yang tidak bisa dihindari. Sebab,  ia menilai karyawan saat ini tidak bekerja dengan penuh, yakni hanya  bekerja setengah hari atau 70% dari biasanya karena total order yang  tidak mencukupi.
Di sisi lain, Eddy mengungkapkan para perusahaan pabrik sepatu tidak  ingin terus menerus melakukan PHK. Karena, jika ke depan keadaan mulai  pulih dan perusahaan membutuhkan karyawan kembali, perusahaan akan  memerlukan upaya lebih besar untuk merekrut karyawan baru.
&quot;Perlu semacam upaya seperti kita merekrut karyawan baru, yang harus memberikan pelatihan dan sebagainya,&quot; kata dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Penurunan ekspor sepatu memicu PHK puluhan ribu karyawan industri alas kaki. Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko  mengatakan, pabrik-pabrik sepatu di Indonesia telah melakukan PHK terhadap 25.700 karyawan.
Dia memperkirakan jumlahnya akan semakin besar sebab angka itu baru 10% dari total karyawan yang terancam mengalami PHK.
BACA JUGA:Isu PHK Massal Merebak, Klaim Jaminan Kehilangan Pekerja Melonjak 105%

&quot;Sekarang yang sudah kena PHK itu 10%, kira-kira sekitar 25.700 karyawan pabrik sepatu. Angka ini bisa terus bertambah,&quot; ujar Eddy, dikutip Kamis (17/11/2022).
Dia menjelaskan, hal tersebut bisa terjadi lantaran Nike, Reebok, dan Adidas yang merupakan pemesan ekspor sepatu terbesar dari Indonesia menurunkan 50% pesanan karena sedang mengalami kesulitan penjualan.
BACA JUGA:Ramai PHK di Sektor Padat Karya, Pengusaha Ungkap Alasannya

Oleh karena itu, Eddy mengaku telah menemui pihak Nike, Reebok, dan Adidas. Dia menyampaikan bahwa ketiga merek tersebut sedang dalam masa tersulit. Sebab, selama 30 tahun mereka berbisnis belum pernah sekalipun mengalami kesulitan penjualan.
&quot;Di dalam pertemuan kita dengan orang Nike, Reebok, dan Adidas, mereka mengatakan 30 tahun mereka bisnis, tidak pernah sekalipun mengalami kesulitan penjualan kecuali tahun ini. Stok produk mereka di negara tujuan ekspor masih sangat besar sehingga menurunkan pemesanan dari pabrik-pabrik di Indonesia,&quot; bebernya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMS8xMi8xLzE1Njc3MC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Padahal, selama 30 tahun berbisnis merek-merek tersebut tidak pernah  menurunkan order di bawah 10%. Bahkan setiap tahun, ketiga merek itu  menaikan pesanan hingga 10 sampai 30%,&quot; sambung Eddy.
Kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Ia menyebut penurunan  pesanan juga terjadi di negara-negara pengekspor alas kaki lainnya  seperti Vietnam dan Cina.
Kata Eddy, kedua negara tersebut kini mengajukan kepada pemerintahnya  supaya bisa dilakukan pengurangan jam kerja. Dari yang semula 40 jam  kerja per minggu menjadi 25-30 jam.
Ia mengaku beberapa perusahaan sebetulnya juga melakukan langkah  tersebut. Bahkan, meminta kepada pemerintah di negara masing-masing  supaya memberikan kelonggaran kepada pihaknya agar bisa hanya menggaji  karyawannya berdasarkan pro rata jam kerja.
&quot;Kalau bahasa medianya itu, no work no pay. Tapi sebetulnya bukan  itu, kita ingin meminta satu kelonggaran pada masa ini untuk bisa  mengurangi jam kerja supaya kita tidak melakukan PHK,&quot; kata Eddy.
Menurut dia itu adalah jalan keluar yang tidak bisa dihindari. Sebab,  ia menilai karyawan saat ini tidak bekerja dengan penuh, yakni hanya  bekerja setengah hari atau 70% dari biasanya karena total order yang  tidak mencukupi.
Di sisi lain, Eddy mengungkapkan para perusahaan pabrik sepatu tidak  ingin terus menerus melakukan PHK. Karena, jika ke depan keadaan mulai  pulih dan perusahaan membutuhkan karyawan kembali, perusahaan akan  memerlukan upaya lebih besar untuk merekrut karyawan baru.
&quot;Perlu semacam upaya seperti kita merekrut karyawan baru, yang harus memberikan pelatihan dan sebagainya,&quot; kata dia.</content:encoded></item></channel></rss>
