<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>MNC Asia Holding (BHIT) Kuasai 44,09% Saham IATA, Bidik Kontribusi Pendapatan Rp4,20 Triliun</title><description>PT MNC Asia Holding Tbk (BHIT) menguasai 11.127.666.666 lembar saham  atau setara dengan 44,09% PT MNC Energy Investments Tbk (IATA).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/11/18/278/2709893/mnc-asia-holding-bhit-kuasai-44-09-saham-iata-bidik-kontribusi-pendapatan-rp4-20-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/11/18/278/2709893/mnc-asia-holding-bhit-kuasai-44-09-saham-iata-bidik-kontribusi-pendapatan-rp4-20-triliun"/><item><title>MNC Asia Holding (BHIT) Kuasai 44,09% Saham IATA, Bidik Kontribusi Pendapatan Rp4,20 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/11/18/278/2709893/mnc-asia-holding-bhit-kuasai-44-09-saham-iata-bidik-kontribusi-pendapatan-rp4-20-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/11/18/278/2709893/mnc-asia-holding-bhit-kuasai-44-09-saham-iata-bidik-kontribusi-pendapatan-rp4-20-triliun</guid><pubDate>Jum'at 18 November 2022 08:00 WIB</pubDate><dc:creator>Clara Amelia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/11/18/278/2709893/mnc-asia-holding-bhit-kuasai-44-09-saham-iata-bidik-kontribusi-pendapatan-rp4-20-triliun-i987ddFsH3.jpg" expression="full" type="image/jpeg">BHIT kuasai 44,09% saham IATA (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/11/18/278/2709893/mnc-asia-holding-bhit-kuasai-44-09-saham-iata-bidik-kontribusi-pendapatan-rp4-20-triliun-i987ddFsH3.jpg</image><title>BHIT kuasai 44,09% saham IATA (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - PT MNC Asia Holding Tbk (BHIT) menguasai 11.127.666.666 lembar saham atau setara dengan 44,09% PT MNC Energy Investments Tbk (IATA). Hal ini berkaitan dengan berakhirnya periode Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD atau Rights Issue) IATA.
&amp;rdquo;Sektor energi resmi bergabung menjadi pilar keempat MNC Group. Komitmen tersebut diambil karena kami yakin industri ini akan membawa dampak signifikan bagi Perseroan,&quot; papar Executive Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo dalam keterangan tertulisnya, Jumat (18/11/2022).
BACA JUGA:Kerja Sama Baru IATA Jadi Torehan Penting

Aksi korporasi tersebut dilakukan untuk melunasi surat sanggup IATA yang diterbitkan kepada BHIT, dalam rangka pengambilalihan PT Bhakti Coal Resources (BCR), perusahaan induk dari delapan Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, yang sebelumnya dimiliki Perseroan.
&quot;IATA berhasil bangkit dan memanfaatkan momentum tersebut dengan cermat. Dengan mengkonsolidasikan IATA ke dalam BHIT, kinerja keuangan Perseroan akan lari kencang, cash flow juga akan semakin sehat, sehingga dapat digunakan untuk mendukung inovasi dan ekspansi bisnis MNC Group secara keseluruhan,&quot; imbuh Hary.
BACA JUGA:IATA Teken Perjanjian Jual Beli dengan Tiga Pihak, Bukti Industri Batu Bara Jadi Bisnis Utama MNC

Usai rights issue, kinerja IATA akan dikonsolidasikan ke dalam Perseroan, sekaligus mengukuhkan pilar bisnis keempat dari MNC Group, yang meliputi Media &amp;amp; Entertainment, Jasa Keuangan, Entertainment Hospitality, dan Energi. Ke depannya, MNC Group yakin kontribusi IATA akan menjadi salah satu pendorong pendapatan, EBITDA, dan laba bersih Perseroan.
&quot;Peluang akan selalu ada, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Walaupun dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi global, MNC Group sigap menemukan peluang untuk selalu tumbuh dalam segala situasi,&quot; tambah Hary.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wNy8yOS80LzE1MTIwNS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;MNC Group, lanjut Hary, terus mengejar pertumbuhan secara organik dan  non organik, berkomitmen untuk menjadi kelompok usaha terkemuka di  kawasan Asia Pasifik di bidang Media &amp;amp; Entertainment, Jasa Keuangan,  Entertainment Hospitality, dan Energi.
Wajah baru IATA, yang berhasil menajamkan fokus investasi di sektor  energi, telah mengantongi cadangan batu bara sebanyak 332 juta MT.  Adapun kegiatan pengeboran yang dilakukan IATA belum mencapai 20% dari  72.478 Ha keseluruhan area penambangan yang dimiliki, dengan kata lain,  seluas 59.035 Ha di antaranya masih dalam proses eksplorasi, sehingga  IATA yakin proven reserves akan terus meningkat, setidaknya mencapai 600  juta MT untuk semua IUP.
Menyongsong tahun 2023, produksi batu bara IATA ditargetkan untuk menembus 10 juta MT dan akan terus meningkat seiring bertambahnya cadangan terbukti hasil eksplorasi serta bertambahnya kontrak pembelian dengan para trader batu bara di masa depan.
Hal tersebut tentunya akan membawa angin segar bagi performa bisnis  Perseroan. Tahun depan, IATA diperkirakan dapat memberikan kontribusi  pendapatan sebesar Rp4,20 triliun atau mewakili 16,50% dari total  pendapatan BHIT, menduduki posisi kedua setelah kontribusi bisnis Media  &amp;amp; Entertainment MNC Group.</description><content:encoded>JAKARTA - PT MNC Asia Holding Tbk (BHIT) menguasai 11.127.666.666 lembar saham atau setara dengan 44,09% PT MNC Energy Investments Tbk (IATA). Hal ini berkaitan dengan berakhirnya periode Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD atau Rights Issue) IATA.
&amp;rdquo;Sektor energi resmi bergabung menjadi pilar keempat MNC Group. Komitmen tersebut diambil karena kami yakin industri ini akan membawa dampak signifikan bagi Perseroan,&quot; papar Executive Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo dalam keterangan tertulisnya, Jumat (18/11/2022).
BACA JUGA:Kerja Sama Baru IATA Jadi Torehan Penting

Aksi korporasi tersebut dilakukan untuk melunasi surat sanggup IATA yang diterbitkan kepada BHIT, dalam rangka pengambilalihan PT Bhakti Coal Resources (BCR), perusahaan induk dari delapan Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, yang sebelumnya dimiliki Perseroan.
&quot;IATA berhasil bangkit dan memanfaatkan momentum tersebut dengan cermat. Dengan mengkonsolidasikan IATA ke dalam BHIT, kinerja keuangan Perseroan akan lari kencang, cash flow juga akan semakin sehat, sehingga dapat digunakan untuk mendukung inovasi dan ekspansi bisnis MNC Group secara keseluruhan,&quot; imbuh Hary.
BACA JUGA:IATA Teken Perjanjian Jual Beli dengan Tiga Pihak, Bukti Industri Batu Bara Jadi Bisnis Utama MNC

Usai rights issue, kinerja IATA akan dikonsolidasikan ke dalam Perseroan, sekaligus mengukuhkan pilar bisnis keempat dari MNC Group, yang meliputi Media &amp;amp; Entertainment, Jasa Keuangan, Entertainment Hospitality, dan Energi. Ke depannya, MNC Group yakin kontribusi IATA akan menjadi salah satu pendorong pendapatan, EBITDA, dan laba bersih Perseroan.
&quot;Peluang akan selalu ada, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Walaupun dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi global, MNC Group sigap menemukan peluang untuk selalu tumbuh dalam segala situasi,&quot; tambah Hary.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wNy8yOS80LzE1MTIwNS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;MNC Group, lanjut Hary, terus mengejar pertumbuhan secara organik dan  non organik, berkomitmen untuk menjadi kelompok usaha terkemuka di  kawasan Asia Pasifik di bidang Media &amp;amp; Entertainment, Jasa Keuangan,  Entertainment Hospitality, dan Energi.
Wajah baru IATA, yang berhasil menajamkan fokus investasi di sektor  energi, telah mengantongi cadangan batu bara sebanyak 332 juta MT.  Adapun kegiatan pengeboran yang dilakukan IATA belum mencapai 20% dari  72.478 Ha keseluruhan area penambangan yang dimiliki, dengan kata lain,  seluas 59.035 Ha di antaranya masih dalam proses eksplorasi, sehingga  IATA yakin proven reserves akan terus meningkat, setidaknya mencapai 600  juta MT untuk semua IUP.
Menyongsong tahun 2023, produksi batu bara IATA ditargetkan untuk menembus 10 juta MT dan akan terus meningkat seiring bertambahnya cadangan terbukti hasil eksplorasi serta bertambahnya kontrak pembelian dengan para trader batu bara di masa depan.
Hal tersebut tentunya akan membawa angin segar bagi performa bisnis  Perseroan. Tahun depan, IATA diperkirakan dapat memberikan kontribusi  pendapatan sebesar Rp4,20 triliun atau mewakili 16,50% dari total  pendapatan BHIT, menduduki posisi kedua setelah kontribusi bisnis Media  &amp;amp; Entertainment MNC Group.</content:encoded></item></channel></rss>
