<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>APBN Defisit Rp169,5 Triliun per Oktober 2022, Ini Penjelasan Sri Mulyani</title><description>APBN mencatat defisit sebesar Rp169,5 triliun atau 0,91% dari Produk Domestik Bruto (PDB) per Oktober 2022.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/11/24/320/2714155/apbn-defisit-rp169-5-triliun-per-oktober-2022-ini-penjelasan-sri-mulyani</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/11/24/320/2714155/apbn-defisit-rp169-5-triliun-per-oktober-2022-ini-penjelasan-sri-mulyani"/><item><title>APBN Defisit Rp169,5 Triliun per Oktober 2022, Ini Penjelasan Sri Mulyani</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/11/24/320/2714155/apbn-defisit-rp169-5-triliun-per-oktober-2022-ini-penjelasan-sri-mulyani</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/11/24/320/2714155/apbn-defisit-rp169-5-triliun-per-oktober-2022-ini-penjelasan-sri-mulyani</guid><pubDate>Kamis 24 November 2022 16:45 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/11/24/320/2714155/apbn-defisit-rp169-5-triliun-per-oktober-2022-ini-penjelasan-sri-mulyani-iRjwuNf2yQ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sri Mulyani soal Defisit APBN 2022 (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/11/24/320/2714155/apbn-defisit-rp169-5-triliun-per-oktober-2022-ini-penjelasan-sri-mulyani-iRjwuNf2yQ.jpg</image><title>Sri Mulyani soal Defisit APBN 2022 (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencatat defisit sebesar Rp169,5 triliun atau 0,91% dari Produk Domestik Bruto (PDB) per Oktober 2022. Menteri Keuangan Sri Mulyani pun buka suara.
&quot;Namun realisasi defisit ini masih jauh dari target Rp840,2 triliun atau 4,5% PDB pada akhir tahun ini,&quot; kata Sri Mulyani dalam Konferensi Pers: APBN KITA November 2022 yang dipantau secara daring seperti dilansir Antara, di Jakarta, Kamis (24/11/2022).
Defisit terjadi akibat realisasi belanja negara yang sedikit lebih besar, yakni Rp2.351,1 triliun dibanding pendapatan negara yang mencapai Rp2.181,6 triliun.
Dia mengungkapkan realisasi belanja negara tersebut tumbuh 14,2% dibanding periode sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy) dan meliputi belanja pemerintah pusat Rp1.671,9 triliun yang tumbuh 18% (yoy) dan transfer ke daerah Rp679,2 triliun atau meningkat 5,7% (yoy).
&amp;nbsp;BACA JUGA:Belanja Negara Tembus Rp2.351,1 Triliun di Oktober 2022, Ini Rinciannya
Belanja pemerintah pusat meliputi belanja kementerian/lembaga sebesar Rp754,1 triliun atau terkontraksi 9,5% (yoy), serta belanja non kementerian/lembaga Rp917,7 triliun atau tumbuh 57,4% (yoy).
Tingginya pertumbuhan belanja non kementerian/lembaga disebabkan realisasi belanja kompensasi dan subsidi yang masing-masing mencapai Rp268,1 triliun dan Rp184,5 triliun.
Sri Mulyani melanjutkan, pendapatan negara yang tumbuh 44,5% (yoy) terdiri dari penerimaan perpajakan Rp1.704,5 triliun atau tumbuh 47% (yoy) serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp476,5 triliun atau naik 36,4% (yoy).


Penerimaan perpajakan meliputi penerimaan pajak Rp1.448,2 triliun atau tumbuh 51,8% (yoy) serta kepabeanan dan cukai Rp256,3 triliun atau tumbuh 36,4% (yoy).
Dengan realisasi defisit kas negara, realisasi pembiayaan anggaran mencapai Rp439,9 triliun atau turun 27,7% (yoy). Sementara keseimbangan primer tercatat surplus Rp146,4 triliun.
&quot;Turunnya pembiayaan anggaran ini menggambarkan adanya pembalikan ke arah APBN yang lebih baik,&quot; ucap dia.
Selain itu, dia mengatakan masih terdapat sisa lebih pembiayaan anggaran (SiLPA) senilai Rp270,4 triliun sebagai strategi dalam mewaspadai tahun 2023 yang kemungkinan akan mengalami volatilitas cukup tinggi.</description><content:encoded>JAKARTA - Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencatat defisit sebesar Rp169,5 triliun atau 0,91% dari Produk Domestik Bruto (PDB) per Oktober 2022. Menteri Keuangan Sri Mulyani pun buka suara.
&quot;Namun realisasi defisit ini masih jauh dari target Rp840,2 triliun atau 4,5% PDB pada akhir tahun ini,&quot; kata Sri Mulyani dalam Konferensi Pers: APBN KITA November 2022 yang dipantau secara daring seperti dilansir Antara, di Jakarta, Kamis (24/11/2022).
Defisit terjadi akibat realisasi belanja negara yang sedikit lebih besar, yakni Rp2.351,1 triliun dibanding pendapatan negara yang mencapai Rp2.181,6 triliun.
Dia mengungkapkan realisasi belanja negara tersebut tumbuh 14,2% dibanding periode sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy) dan meliputi belanja pemerintah pusat Rp1.671,9 triliun yang tumbuh 18% (yoy) dan transfer ke daerah Rp679,2 triliun atau meningkat 5,7% (yoy).
&amp;nbsp;BACA JUGA:Belanja Negara Tembus Rp2.351,1 Triliun di Oktober 2022, Ini Rinciannya
Belanja pemerintah pusat meliputi belanja kementerian/lembaga sebesar Rp754,1 triliun atau terkontraksi 9,5% (yoy), serta belanja non kementerian/lembaga Rp917,7 triliun atau tumbuh 57,4% (yoy).
Tingginya pertumbuhan belanja non kementerian/lembaga disebabkan realisasi belanja kompensasi dan subsidi yang masing-masing mencapai Rp268,1 triliun dan Rp184,5 triliun.
Sri Mulyani melanjutkan, pendapatan negara yang tumbuh 44,5% (yoy) terdiri dari penerimaan perpajakan Rp1.704,5 triliun atau tumbuh 47% (yoy) serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp476,5 triliun atau naik 36,4% (yoy).


Penerimaan perpajakan meliputi penerimaan pajak Rp1.448,2 triliun atau tumbuh 51,8% (yoy) serta kepabeanan dan cukai Rp256,3 triliun atau tumbuh 36,4% (yoy).
Dengan realisasi defisit kas negara, realisasi pembiayaan anggaran mencapai Rp439,9 triliun atau turun 27,7% (yoy). Sementara keseimbangan primer tercatat surplus Rp146,4 triliun.
&quot;Turunnya pembiayaan anggaran ini menggambarkan adanya pembalikan ke arah APBN yang lebih baik,&quot; ucap dia.
Selain itu, dia mengatakan masih terdapat sisa lebih pembiayaan anggaran (SiLPA) senilai Rp270,4 triliun sebagai strategi dalam mewaspadai tahun 2023 yang kemungkinan akan mengalami volatilitas cukup tinggi.</content:encoded></item></channel></rss>
