<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Buntut Kasus Bupati Meranti, DPR Minta Sri Mulyani Transparan dan Adil Kelola Migas</title><description>Buntut kasus Bupati Meranti Muhammad Adil dikhawatirkan menjadi pemicu daerah lainnya untuk menyampaikan hal serupa.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/12/14/320/2726774/buntut-kasus-bupati-meranti-dpr-minta-sri-mulyani-transparan-dan-adil-kelola-migas</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/12/14/320/2726774/buntut-kasus-bupati-meranti-dpr-minta-sri-mulyani-transparan-dan-adil-kelola-migas"/><item><title>Buntut Kasus Bupati Meranti, DPR Minta Sri Mulyani Transparan dan Adil Kelola Migas</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/12/14/320/2726774/buntut-kasus-bupati-meranti-dpr-minta-sri-mulyani-transparan-dan-adil-kelola-migas</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/12/14/320/2726774/buntut-kasus-bupati-meranti-dpr-minta-sri-mulyani-transparan-dan-adil-kelola-migas</guid><pubDate>Rabu 14 Desember 2022 11:11 WIB</pubDate><dc:creator>Atikah Umiyani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/12/14/320/2726774/buntut-kasus-bupati-meranti-dpr-minta-sri-mulyani-transparan-dan-adil-kelola-migas-iXfY1m3VBk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sri Mulyani diminta transparan soal kekayaan migas (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/12/14/320/2726774/buntut-kasus-bupati-meranti-dpr-minta-sri-mulyani-transparan-dan-adil-kelola-migas-iXfY1m3VBk.jpg</image><title>Sri Mulyani diminta transparan soal kekayaan migas (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Buntut kasus Bupati Meranti Muhammad Adil dikhawatirkan menjadi pemicu daerah lainnya untuk menyampaikan hal serupa. Untuk itu, DPR meminta Menteri Keuangan Sri Mulyani transparan dan adil dalam mengelola kekayaan alam.
Bupati Meranti beberapa waktu yang lalu terkait dana bagi hasil (DBH) produksi minyak dan gas (migas) yang ditujukan ke Kementerian Keuangan RI. Anggota Komisi VII DPR RI Abdul Wahid menilai, berbagai daerah mempunyai kekayaan sumber daya mineral, namun masyarakatnya tidak bisa menikmatinya, bahkan cenderung miskin.
BACA JUGA:Intip Harta Kekayaan Bupati Meranti Muhammad Adil yang Sebut Kemenkeu Isinya Setan

&amp;ldquo;Mereka tahu, mereka ini negeri (daerah) kaya, tetapi masyarakatnya masih miskin. Kesenjangan-kesenjangan ini kan terjadi sehingga membuat kekecewaan. Masyarakat hari ini mengapa mungkin tidak terlalu kencang dengan gerakan itu, tetapi kalau ini terus dibiarkan tidak baik. Tidak boleh begitu, harus ada pemerataan, ada keadilan,&amp;rdquo; jelasnya dikutip dari laman resmi dpr.go.id, Rabu (14/1/2022)
Wahid menilai, pemerintah pusat mesti berlaku adil dan transparan terkait DBH. Yakni dengan membuat satu mekanisme yang memungkinkan daerah bisa melakukan pengecekan langsung. Sehingga selain pemerintah pusat yang memegang data, daerah juga bisa mengecek keberadaan sumur migas berikut potensinya.
BACA JUGA:Heboh Kemenkeu Diisi Iblis, Kemendagri Bakal Pertemukan Bupati Meranti dengan Sri Mulyani dan Menteri ESDM

&amp;ldquo;Jadi masing-masing daerah bisa mengecek sehingga mereka juga bisa mengontrol. Apalagi kadang-kadang sumur di satu kabupaten, tapi reservoirnya ada di kabupaten lain,&amp;rdquo; tuturnya.
Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu juga menekankan, masyarakat membutuhkan keadilan dalam mendapatkan haknya. Namun keadilan itu tidak sempurna jika dalam pelaksanaannya tidak ada pemerataan.
Lebih lanjut, Wahid menegaskan, pemerataan ini sepatutnya sejalan dengan potensi kekayaan yang ada di daerah tersebut. &amp;ldquo;Di Riau itu menyumbang minyak dan gas gede banget, tapi jalan-jalan di Riau banyak yang pada hancur,&amp;rdquo; kritik Legislator Dapil Riau II itu.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMi8xMi8xLzE1ODU5OS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Wahid mencontohkan, besarnya potensi lain di Riau salah satunya  kelapa sawit. Disebutkan anggaran di Badan Pengelola Dana Perkebunan  Kelapa Sawit (BPDPKS) mencapai Rp71-72 triliun. Akan tetapi, dana yang  kembali ke masyarakat hanya Rp2 triliun.
&quot;Pertanyaannya, yang Rp70 triliun untuk apa? Sementara sumbangan  (truk pengangkut sawit) terhadap kerusakan (jalan) sangat tinggi. Dari  mana daerah membangunnya untuk jalan hancur, untuk infrastruktur hancur,  semuanya. Inilah kadang-kadang kebijakan begini yang tidak sinkron,&amp;rdquo;  tegasnya.
Terakhir, Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI tersebut  menyatakan pernyataan Bupati Kepulauan Meranti Muhammad Adil menjadi  pembelajaran bagi pemerintah. Khususnya dalam melihat kembali bahwa DBH  yang dialokasikan dalam undang-undang masih kecil untuk daerah penghasil  minyak dan gas.
Sebelumnya diketahui Bupati Kepulauan Meranti Muhammad Adil  'mengamuk' dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengelolaan  Pendapatan dan Belanja Daerah se-Indonesia. Dalam tayangan yang dilansir  Diskominfotik Provinsi Riau, Bupati Adil mengarahkan kemarahannya saat  bertemu dengan Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Kemenkeu Lucky  Alfirman. Kata Adil, harga minyak Meranti terus meninggi di tengah  terkereknya harga minyak dunia dan naiknya nilai tukar dolar AS.
Di sisi lain, potensi minyak di Meranti juga terus bertambah bahkan  menyentuh hampir 8.000 barel per day. Besaran ini sudah hampir menyamai  target yang diberikan SKK Migas, 9.000 barel per hari. Untuk  mengejarnya, di Meranti juga gencar melakukan penggalian sumur dari  tahun ini 15 sumur, hingga 2023 sebanyak 19 sumur minyak mentah.  Sayangnya, dengan besaran produksi ini DBH disebutnya tidak diberikan  secara berkeadilan. Disebutkan DBH tahun 2022 sebesar Rp114 miliar dan  tahun depan nilainya hanya naik sekitar Rp700 juta.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Buntut kasus Bupati Meranti Muhammad Adil dikhawatirkan menjadi pemicu daerah lainnya untuk menyampaikan hal serupa. Untuk itu, DPR meminta Menteri Keuangan Sri Mulyani transparan dan adil dalam mengelola kekayaan alam.
Bupati Meranti beberapa waktu yang lalu terkait dana bagi hasil (DBH) produksi minyak dan gas (migas) yang ditujukan ke Kementerian Keuangan RI. Anggota Komisi VII DPR RI Abdul Wahid menilai, berbagai daerah mempunyai kekayaan sumber daya mineral, namun masyarakatnya tidak bisa menikmatinya, bahkan cenderung miskin.
BACA JUGA:Intip Harta Kekayaan Bupati Meranti Muhammad Adil yang Sebut Kemenkeu Isinya Setan

&amp;ldquo;Mereka tahu, mereka ini negeri (daerah) kaya, tetapi masyarakatnya masih miskin. Kesenjangan-kesenjangan ini kan terjadi sehingga membuat kekecewaan. Masyarakat hari ini mengapa mungkin tidak terlalu kencang dengan gerakan itu, tetapi kalau ini terus dibiarkan tidak baik. Tidak boleh begitu, harus ada pemerataan, ada keadilan,&amp;rdquo; jelasnya dikutip dari laman resmi dpr.go.id, Rabu (14/1/2022)
Wahid menilai, pemerintah pusat mesti berlaku adil dan transparan terkait DBH. Yakni dengan membuat satu mekanisme yang memungkinkan daerah bisa melakukan pengecekan langsung. Sehingga selain pemerintah pusat yang memegang data, daerah juga bisa mengecek keberadaan sumur migas berikut potensinya.
BACA JUGA:Heboh Kemenkeu Diisi Iblis, Kemendagri Bakal Pertemukan Bupati Meranti dengan Sri Mulyani dan Menteri ESDM

&amp;ldquo;Jadi masing-masing daerah bisa mengecek sehingga mereka juga bisa mengontrol. Apalagi kadang-kadang sumur di satu kabupaten, tapi reservoirnya ada di kabupaten lain,&amp;rdquo; tuturnya.
Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu juga menekankan, masyarakat membutuhkan keadilan dalam mendapatkan haknya. Namun keadilan itu tidak sempurna jika dalam pelaksanaannya tidak ada pemerataan.
Lebih lanjut, Wahid menegaskan, pemerataan ini sepatutnya sejalan dengan potensi kekayaan yang ada di daerah tersebut. &amp;ldquo;Di Riau itu menyumbang minyak dan gas gede banget, tapi jalan-jalan di Riau banyak yang pada hancur,&amp;rdquo; kritik Legislator Dapil Riau II itu.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMi8xMi8xLzE1ODU5OS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Wahid mencontohkan, besarnya potensi lain di Riau salah satunya  kelapa sawit. Disebutkan anggaran di Badan Pengelola Dana Perkebunan  Kelapa Sawit (BPDPKS) mencapai Rp71-72 triliun. Akan tetapi, dana yang  kembali ke masyarakat hanya Rp2 triliun.
&quot;Pertanyaannya, yang Rp70 triliun untuk apa? Sementara sumbangan  (truk pengangkut sawit) terhadap kerusakan (jalan) sangat tinggi. Dari  mana daerah membangunnya untuk jalan hancur, untuk infrastruktur hancur,  semuanya. Inilah kadang-kadang kebijakan begini yang tidak sinkron,&amp;rdquo;  tegasnya.
Terakhir, Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI tersebut  menyatakan pernyataan Bupati Kepulauan Meranti Muhammad Adil menjadi  pembelajaran bagi pemerintah. Khususnya dalam melihat kembali bahwa DBH  yang dialokasikan dalam undang-undang masih kecil untuk daerah penghasil  minyak dan gas.
Sebelumnya diketahui Bupati Kepulauan Meranti Muhammad Adil  'mengamuk' dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengelolaan  Pendapatan dan Belanja Daerah se-Indonesia. Dalam tayangan yang dilansir  Diskominfotik Provinsi Riau, Bupati Adil mengarahkan kemarahannya saat  bertemu dengan Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Kemenkeu Lucky  Alfirman. Kata Adil, harga minyak Meranti terus meninggi di tengah  terkereknya harga minyak dunia dan naiknya nilai tukar dolar AS.
Di sisi lain, potensi minyak di Meranti juga terus bertambah bahkan  menyentuh hampir 8.000 barel per day. Besaran ini sudah hampir menyamai  target yang diberikan SKK Migas, 9.000 barel per hari. Untuk  mengejarnya, di Meranti juga gencar melakukan penggalian sumur dari  tahun ini 15 sumur, hingga 2023 sebanyak 19 sumur minyak mentah.  Sayangnya, dengan besaran produksi ini DBH disebutnya tidak diberikan  secara berkeadilan. Disebutkan DBH tahun 2022 sebesar Rp114 miliar dan  tahun depan nilainya hanya naik sekitar Rp700 juta.</content:encoded></item></channel></rss>
