<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekspor RI Melambat, Bank Dunia Ungkap Alasannya</title><description>Bank Dunia mengungkapkan bahwa perlambatan dalam pertumbuhan ekspor Indonesia disebabkan karena adanya perlambatan permintaan global.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/12/15/320/2727743/ekspor-ri-melambat-bank-dunia-ungkap-alasannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/12/15/320/2727743/ekspor-ri-melambat-bank-dunia-ungkap-alasannya"/><item><title>Ekspor RI Melambat, Bank Dunia Ungkap Alasannya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/12/15/320/2727743/ekspor-ri-melambat-bank-dunia-ungkap-alasannya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/12/15/320/2727743/ekspor-ri-melambat-bank-dunia-ungkap-alasannya</guid><pubDate>Kamis 15 Desember 2022 14:55 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/12/15/320/2727743/ekspor-ri-melambat-bank-dunia-ungkap-alasannya-Bu8balFvon.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Ekspor RI Melambat (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/12/15/320/2727743/ekspor-ri-melambat-bank-dunia-ungkap-alasannya-Bu8balFvon.jpeg</image><title>Ekspor RI Melambat (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Bank Dunia mengungkapkan bahwa perlambatan dalam pertumbuhan ekspor Indonesia disebabkan karena adanya perlambatan permintaan global. Dalam situasi ini, Indonesia bukanlah pengecualian.
&quot;Permintaan manufaktur ekspor impor mengalami perlambatan. Normalisasi harga komoditas juga berdampak,&quot; ujar Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia dan or Leste Habib Rab dalam Indonesia Economic Prospects (IEP) Edisi Desember 2022 di Jakarta, Kamis (15/12/2022).
BACA JUGA:Sesuai IMF hingga Bank Dunia, Ekonomi RI 2023 Diprediksi Masih Berada di Level 5%

Dia menyebut ini karena harga minyak kelapa sawit sempat meningkat di tahun ini, tetapi secara perlahan mulai menurun. Ini kemudian diterjemahkan menjadi perlambanan nilai ekspor.
&quot;Meski harga batu bara diatas rata-rata harga historis, ini akan mengalami moderasi. Harganya saat ini diatas USD300 per ton, secara historis harganya hanya menyentuh USD100 dolar per ton,&quot; ungkap Habib.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMi8xNC80LzE1ODc4My8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Dia menilai bahwa situasi ini seharusnya bisa mendukung beberapa ekspor di masa yang akan datang.
BACA JUGA:PHK Massal di Indonesia, Begini Tanggapan Bank Dunia&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Kemudian yang terjadi dalam jangka menengah, Indonesia akan melihat permintaan impor tetap kuat karena ekonominya diprediksi akan tumbuh 4,8% di tahun depan.&quot;Permintaan ekspor akan tumbuh cepat terutama ketika investasi meningkat. Dari sisi ekspor meski harga batu bara menurun, harganya masih diatas rata-rata historis. Namun, sektor lain non komoditas akan terdampak secara negatif seiring perlambatan ekonomi global,&quot; pungkas Habib.</description><content:encoded>JAKARTA - Bank Dunia mengungkapkan bahwa perlambatan dalam pertumbuhan ekspor Indonesia disebabkan karena adanya perlambatan permintaan global. Dalam situasi ini, Indonesia bukanlah pengecualian.
&quot;Permintaan manufaktur ekspor impor mengalami perlambatan. Normalisasi harga komoditas juga berdampak,&quot; ujar Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia dan or Leste Habib Rab dalam Indonesia Economic Prospects (IEP) Edisi Desember 2022 di Jakarta, Kamis (15/12/2022).
BACA JUGA:Sesuai IMF hingga Bank Dunia, Ekonomi RI 2023 Diprediksi Masih Berada di Level 5%

Dia menyebut ini karena harga minyak kelapa sawit sempat meningkat di tahun ini, tetapi secara perlahan mulai menurun. Ini kemudian diterjemahkan menjadi perlambanan nilai ekspor.
&quot;Meski harga batu bara diatas rata-rata harga historis, ini akan mengalami moderasi. Harganya saat ini diatas USD300 per ton, secara historis harganya hanya menyentuh USD100 dolar per ton,&quot; ungkap Habib.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMi8xNC80LzE1ODc4My8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Dia menilai bahwa situasi ini seharusnya bisa mendukung beberapa ekspor di masa yang akan datang.
BACA JUGA:PHK Massal di Indonesia, Begini Tanggapan Bank Dunia&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Kemudian yang terjadi dalam jangka menengah, Indonesia akan melihat permintaan impor tetap kuat karena ekonominya diprediksi akan tumbuh 4,8% di tahun depan.&quot;Permintaan ekspor akan tumbuh cepat terutama ketika investasi meningkat. Dari sisi ekspor meski harga batu bara menurun, harganya masih diatas rata-rata historis. Namun, sektor lain non komoditas akan terdampak secara negatif seiring perlambatan ekonomi global,&quot; pungkas Habib.</content:encoded></item></channel></rss>
