<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perangi Perubahan Iklim, Sri Mulyani Wanti-Wanti Suhu Bumi Naik 1,5 Derajat Celcius</title><description>Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut, memerangi perubahan iklim membutuhkan tekad dan ambisi yang kuat.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/12/16/320/2728658/perangi-perubahan-iklim-sri-mulyani-wanti-wanti-suhu-bumi-naik-1-5-derajat-celcius</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/12/16/320/2728658/perangi-perubahan-iklim-sri-mulyani-wanti-wanti-suhu-bumi-naik-1-5-derajat-celcius"/><item><title>Perangi Perubahan Iklim, Sri Mulyani Wanti-Wanti Suhu Bumi Naik 1,5 Derajat Celcius</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/12/16/320/2728658/perangi-perubahan-iklim-sri-mulyani-wanti-wanti-suhu-bumi-naik-1-5-derajat-celcius</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/12/16/320/2728658/perangi-perubahan-iklim-sri-mulyani-wanti-wanti-suhu-bumi-naik-1-5-derajat-celcius</guid><pubDate>Jum'at 16 Desember 2022 17:01 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/12/16/320/2728658/perangi-perubahan-iklim-sri-mulyani-wanti-wanti-suhu-bumi-naik-1-5-derajat-celcius-Upf8pOJk0D.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Hadapi perubahan iklim butuh tekad kuat (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/12/16/320/2728658/perangi-perubahan-iklim-sri-mulyani-wanti-wanti-suhu-bumi-naik-1-5-derajat-celcius-Upf8pOJk0D.jpg</image><title>Hadapi perubahan iklim butuh tekad kuat (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut, memerangi perubahan iklim membutuhkan tekad dan ambisi yang kuat. Menurutnya, ketidakpastian berbagai indikator perekonomian, perubahan iklim juga menjadi tantangan pembangunan yang perlu diwaspadai.
Berbagai respons telah dilakukan pemerintah dalam rangka untuk mengatasi ancaman dari perubahan iklim, misalnya dengan berkontribusi dalam rangkaian kegiatan Conference Of The Parties (COP) United Nations Framework Convention On Climate Change (UNFCCC) yang dibentuk sejak tahun 1992. Dalam hal ini, melatarbelakangi terbentuknya beberapa kesepakatan seperti Paris Agreement dan Glasgow Pacts.
BACA JUGA:Sri Mulyani Akui Pasar Karbon Jadi Tantangan dan Jawaban Perubahan Iklim

&amp;ldquo;Di dalam rangka untuk terus berfokus kepada koalisi secara global dalam memerangi perubahan iklim, yaitu bagaimana dunia harus menghindari agar kenaikan suhu tidak melewati 1,5 derajat celcius dibandingkan pada masa revolusi industri. Dengan tekad yang lebih ambisius ini maka seluruh dunia harus berkontribusi,&amp;rdquo; ucap Sri di Jakarta, dikutip Jumat (16/12/2022).
BACA JUGA:Erick Thohir: Tahun Politik Rentan Perubahan Iklim, Sosial dan Ekonomi Masyarakat

Salah satu fokus yang dianggap memberikan kontribusi terhadap kenaikan CO2 terbesar terdapat pada sektor energi. Dalam hal ini, Indonesia berkomitmen menurunkan CO2 melalui Nationally Determined Contribution (NDC) yang sudah disampaikan dalam Paris agreement bahwa Indonesia akan menurunkan 29%% dengan menggunakan sumber daya sendiri, atau 41% dengan dukungan internasional.
Dari sisi pembiayaan secara keseluruhan, Sri mengatakan bahwa estimasi biaya yang dibutuhkan hingga tahun 2030 mencapai Rp4.002,43 triliun untuk bisa mencapai tingkat penurunan CO2 yang diharapkan.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMS8wMS8xLzE1NjA2Mi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;ldquo;Untuk bisa menjalankan program penurunan CO2 pasti kita membutuhkan  dana yang tidak hanya berasal dari APBN, melainkan bagaimana  mengkomparasikan antar negara policy-policy mana yang bisa kita gunakan  untuk menarik modal atau dana anggaran yang berasal dari sumber privat  dan juga filantropis untuk kita bisa blending di dalam rangka untuk  memenuhi kebutuhan biaya melakukan konversi energi, menjaga hutan serta  menangani limbah,&amp;rdquo; ujarnya.
Lebih lanjut, Sri menjelaskan peranan APBN dan instrumen fiskal dalam  penanganan perubahan iklim ini dapat muncul dalam berbagai hal, salah  satunya dalam melakukan pengembangan energi baru dan terbarukan, serta  teknologi bersih melalui berbagai kemungkinan pemberian insentif,  seperti insentif perpajakan baik di pemerintahan pusat maupun daerah.
&amp;ldquo;Kementerian Keuangan juga melakukan berbagai inovasi pembiayaan di  dalam rangka untuk mendukung pembangunan yang sustainable atau SDG. Kita  mengeluarkan Green Sukuk, SDG Bonds, sekarang ini kita bahkan membentuk  yang disebut Badan Layanan Umum untuk mengelola dana-dana untuk climate  change. BPDLH adalah salah satu badan untuk pengelolaan lingkungan  hidup, termasuk dana reboisasi. Berbagai dukungan internasional kita  juga masukkan disini,&amp;rdquo; terangnya.
Selain itu, Kementerian Keuangan juga memiliki Special Mission  Vehicle (SMV) seperti PT SMI sebagai platform kerjasama pendanaan  terintegrasi melalui skema blended finance dalam SDG Indonesia one,  serta Kementerian Keuangan juga ikut aktif di dalam Green Climate Fund  (GCF) di mana Indonesia akan mengajukan berbagai proyek dan program  penurunan CO2 untuk mendapatkan dukungan dari sisi pendanaan, teknikal  dan teknologi.
&amp;ldquo;Pembiayaan inovatif dalam bentuk issuance atau penerbitan surat  berharga yang Green juga merupakan salah satu ciri Indonesia. Indonesia  adalah emerging country pertama yang menerbitkan Green Sukuk. Ini juga  membangun reputasi Indonesia sebagai negara yang sangat inovatif di  dalam pembiayaan,&amp;rdquo; tandas Sri.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut, memerangi perubahan iklim membutuhkan tekad dan ambisi yang kuat. Menurutnya, ketidakpastian berbagai indikator perekonomian, perubahan iklim juga menjadi tantangan pembangunan yang perlu diwaspadai.
Berbagai respons telah dilakukan pemerintah dalam rangka untuk mengatasi ancaman dari perubahan iklim, misalnya dengan berkontribusi dalam rangkaian kegiatan Conference Of The Parties (COP) United Nations Framework Convention On Climate Change (UNFCCC) yang dibentuk sejak tahun 1992. Dalam hal ini, melatarbelakangi terbentuknya beberapa kesepakatan seperti Paris Agreement dan Glasgow Pacts.
BACA JUGA:Sri Mulyani Akui Pasar Karbon Jadi Tantangan dan Jawaban Perubahan Iklim

&amp;ldquo;Di dalam rangka untuk terus berfokus kepada koalisi secara global dalam memerangi perubahan iklim, yaitu bagaimana dunia harus menghindari agar kenaikan suhu tidak melewati 1,5 derajat celcius dibandingkan pada masa revolusi industri. Dengan tekad yang lebih ambisius ini maka seluruh dunia harus berkontribusi,&amp;rdquo; ucap Sri di Jakarta, dikutip Jumat (16/12/2022).
BACA JUGA:Erick Thohir: Tahun Politik Rentan Perubahan Iklim, Sosial dan Ekonomi Masyarakat

Salah satu fokus yang dianggap memberikan kontribusi terhadap kenaikan CO2 terbesar terdapat pada sektor energi. Dalam hal ini, Indonesia berkomitmen menurunkan CO2 melalui Nationally Determined Contribution (NDC) yang sudah disampaikan dalam Paris agreement bahwa Indonesia akan menurunkan 29%% dengan menggunakan sumber daya sendiri, atau 41% dengan dukungan internasional.
Dari sisi pembiayaan secara keseluruhan, Sri mengatakan bahwa estimasi biaya yang dibutuhkan hingga tahun 2030 mencapai Rp4.002,43 triliun untuk bisa mencapai tingkat penurunan CO2 yang diharapkan.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMS8wMS8xLzE1NjA2Mi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;ldquo;Untuk bisa menjalankan program penurunan CO2 pasti kita membutuhkan  dana yang tidak hanya berasal dari APBN, melainkan bagaimana  mengkomparasikan antar negara policy-policy mana yang bisa kita gunakan  untuk menarik modal atau dana anggaran yang berasal dari sumber privat  dan juga filantropis untuk kita bisa blending di dalam rangka untuk  memenuhi kebutuhan biaya melakukan konversi energi, menjaga hutan serta  menangani limbah,&amp;rdquo; ujarnya.
Lebih lanjut, Sri menjelaskan peranan APBN dan instrumen fiskal dalam  penanganan perubahan iklim ini dapat muncul dalam berbagai hal, salah  satunya dalam melakukan pengembangan energi baru dan terbarukan, serta  teknologi bersih melalui berbagai kemungkinan pemberian insentif,  seperti insentif perpajakan baik di pemerintahan pusat maupun daerah.
&amp;ldquo;Kementerian Keuangan juga melakukan berbagai inovasi pembiayaan di  dalam rangka untuk mendukung pembangunan yang sustainable atau SDG. Kita  mengeluarkan Green Sukuk, SDG Bonds, sekarang ini kita bahkan membentuk  yang disebut Badan Layanan Umum untuk mengelola dana-dana untuk climate  change. BPDLH adalah salah satu badan untuk pengelolaan lingkungan  hidup, termasuk dana reboisasi. Berbagai dukungan internasional kita  juga masukkan disini,&amp;rdquo; terangnya.
Selain itu, Kementerian Keuangan juga memiliki Special Mission  Vehicle (SMV) seperti PT SMI sebagai platform kerjasama pendanaan  terintegrasi melalui skema blended finance dalam SDG Indonesia one,  serta Kementerian Keuangan juga ikut aktif di dalam Green Climate Fund  (GCF) di mana Indonesia akan mengajukan berbagai proyek dan program  penurunan CO2 untuk mendapatkan dukungan dari sisi pendanaan, teknikal  dan teknologi.
&amp;ldquo;Pembiayaan inovatif dalam bentuk issuance atau penerbitan surat  berharga yang Green juga merupakan salah satu ciri Indonesia. Indonesia  adalah emerging country pertama yang menerbitkan Green Sukuk. Ini juga  membangun reputasi Indonesia sebagai negara yang sangat inovatif di  dalam pembiayaan,&amp;rdquo; tandas Sri.</content:encoded></item></channel></rss>
