<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ini Tantangan dan Peluang Investasi di 2023</title><description>Ini tantangan dan peluang investasi di 2023. Akhir tahun adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi portofolio investasi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/12/23/278/2732926/ini-tantangan-dan-peluang-investasi-di-2023</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/12/23/278/2732926/ini-tantangan-dan-peluang-investasi-di-2023"/><item><title>Ini Tantangan dan Peluang Investasi di 2023</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/12/23/278/2732926/ini-tantangan-dan-peluang-investasi-di-2023</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/12/23/278/2732926/ini-tantangan-dan-peluang-investasi-di-2023</guid><pubDate>Jum'at 23 Desember 2022 22:01 WIB</pubDate><dc:creator>Wahyudi Aulia Siregar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/12/23/278/2732926/ini-tantangan-dan-peluang-investasi-di-2023-KZZqDbAUO2.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ini tantangan dan peluang investasi 2023 (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/12/23/278/2732926/ini-tantangan-dan-peluang-investasi-di-2023-KZZqDbAUO2.jpg</image><title>Ini tantangan dan peluang investasi 2023 (Foto: Freepik)</title></images><description>MEDAN &amp;ndash; Ini tantangan dan peluang investasi di 2023. Akhir tahun adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi portofolio investasi. Termasuk hasil investasi dan strategi pengelolaan investasi di tahun depan.
Salah satu cara untuk membuat strategi investasi di tahun depan adalah dengan melihat peluang dan tantangan yang ada.
BACA JUGA:Tips MotionTrade, 3 Instrumen Investasi untuk Ibu Rumah Tangga

Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia Sumatera Utara M Pintor Nasution mengatakan, dengan mencermati analisis dari para pakar keuangan, investor bisa menetapkan tujuan investasi dengan menyesuaikan instrumen-instrumen investasi yang bisa dipilih.
BACA JUGA:Cara Kementan Tingkatkan Investasi Sektor Perkebunan hingga Rp237 Triliun 

Berbagai lembaga dunia seperti OECD, IMF, World Bank, ADB (Asian Development Bank), memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 4,7-5,1% pada 2023. Meskipun akan diwarnai gejolak ekonomi global, perekonomian Indonesia diyakini tetap tangguh, diikuti dengan prospek yang menjanjikan.
Prospek investasi di Indonesia salah satunya didorong dengan bertumbuhnya proyek-proyek strategis serta pengembangan IKN Nusantara yang akan mendorong pertumbuhan investasi.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMS8wNy80LzE1NjM4My8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Faktor positif lain di tahun 2023 adalah indikator ekonomi yang  solid, dilihat dari belanja rumah tangga masyarakat Indonesia yang  stabil serta indikator stabilitas konsumsi diikuti dengan peningkatan  tingkat upah pekerja,&quot; jelas Pintor, Jumat (23/12/2022).
Sementara untuk tantangan di tahun depan, sebut Pintor, juga harus menjadi katalis dalam memperhitungkan pengambilan keputusan.
Tantangan pertama menyangkut risiko resesi global. Situasi tersebut  membuat otoritas moneter di sejumlah negara mengambil kebijakan moneter  ketat. Bank sentral global memutuskan untuk memperketat kebijakan  melalui tapering off dan menaikkan suku bunga sebagai implikasi lonjakan  inflasi dari pemulihan ekonomi.
&quot;Tantangan lain yang perlu diperhatikan bagi para investor adalah  krisis energi yang disebabkan oleh pasokan energi yang langka, tingginya  permintaan bahan bakar akibat musim dingin, dan ketidakpastian global  juga berpotensi menyebabkan gangguan pada rantai pasok,&quot; pungkasnya.
&quot;Sementara di bidang kesehatan, masih ada ketakutan munculnya varian  baru COVID-19, diikuti dengan tensi geopolitik global yang masih  meningkat, dan perubahan iklim yang ekstrem,&quot; tambahnya.
Sementara itu, sepanjang lima tahun terakhir, BEI telah mencatatkan  kinerja yang positif.  Seiring dengan isu resesi ekonomi global yang  dikemukakan berbagai lembaga keuangan dunia, kinerja Indeks Harga Saham  Gabungan (IHSG) justru mengalami penguatan secara tahun kalender (Year  To Date).Sejak awal tahun hingga 16 Desember 2022, IHSG tercatat mengalami   kenaikan sebesar 3,51% (YTD). Posisi ini lebih baik dibandingkan   mayoritas kinerja indeks di skala global. Lebih rinci, IHSG juga   berhasil mencapai level tertinggi atau all time high di level 7.318,02   pada 13 September 2022.  Sebelumnya, IHSG sempat mengalami kontraksi   hingga -5,09% (YOY) sepanjang tahun 2020.
Namun, pada tahun 2021, IHSG pulih dengan mencatatkan pertumbuhan   sebesar 10,08% (YOY). Hal ini dapat disimpulkan bahwa meskipun pasar   modal Indonesia sempat mengalami berbagai krisis, tidak membutuhkan   waktu yang lama bagi IHSG untuk kembali recover atau pulih mencatatkan   pertumbuhan.
Jika dilihat dari beberapa indikator lainnya, kinerja pasar modal   Indonesia masih mencerminkan kondisi yang kokoh dan positif. Hingga 16   Desember 2022, total kapitalisasi pasar mencapai Rp9.331 triliun,   meningkat dari kapitalisasi pasar tahun 2021 sebesar Rp8.256 triliun.   Sementara rata-rata nilai transaksi harian  tumbuh sebesar 11,3% (YTD)   menjadi Rp14,9 triliun.  Kemudian, rata-rata frekuensi harian pada   periode tersebut juga tumbuh 2,2% (YTD) menjadi 1,3 juta kali. Terakhir,   rata-rata volume harian juga tumbuh 17,0% (YTD) menjadi 24,1 miliar   saham.
BEI juga mencatat pertumbuhan perusahaan tercatat (listed companies)   atau emiten baru. Tercatat sebanyak 59 emiten baru sudah melantai di  BEI  sejak Januari sampai 16 Desember 2022.  Sejak 2018 hingga 2021,  jumlah  emiten baru secara konsisten berada di atas angka 50. Jika  dibandingkan  bursa-bursa di kawasan Asean, Indonesia mencatat  pertumbuhan jumlah  emiten terbesar dalam lima tahun terakhir. Jumlah  emiten tercatat di BEI  naik 44,9% dari 566 emiten pada tahun 2017,  menjadi 820 emiten hingga  akhir November 2022.
Indikator-indikator pertumbuhan yang baik ini akan memberikan   sentimen yang baik pula bagi para investor untuk menetapkan tujuan   investasi dan memperkirakan hasil di masa depan. Langkah yang baik dalam   memulai tahun yang baru akan memberikan hasil yang efektif pula   sepanjang tahun yang berjalan.</description><content:encoded>MEDAN &amp;ndash; Ini tantangan dan peluang investasi di 2023. Akhir tahun adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi portofolio investasi. Termasuk hasil investasi dan strategi pengelolaan investasi di tahun depan.
Salah satu cara untuk membuat strategi investasi di tahun depan adalah dengan melihat peluang dan tantangan yang ada.
BACA JUGA:Tips MotionTrade, 3 Instrumen Investasi untuk Ibu Rumah Tangga

Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia Sumatera Utara M Pintor Nasution mengatakan, dengan mencermati analisis dari para pakar keuangan, investor bisa menetapkan tujuan investasi dengan menyesuaikan instrumen-instrumen investasi yang bisa dipilih.
BACA JUGA:Cara Kementan Tingkatkan Investasi Sektor Perkebunan hingga Rp237 Triliun 

Berbagai lembaga dunia seperti OECD, IMF, World Bank, ADB (Asian Development Bank), memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 4,7-5,1% pada 2023. Meskipun akan diwarnai gejolak ekonomi global, perekonomian Indonesia diyakini tetap tangguh, diikuti dengan prospek yang menjanjikan.
Prospek investasi di Indonesia salah satunya didorong dengan bertumbuhnya proyek-proyek strategis serta pengembangan IKN Nusantara yang akan mendorong pertumbuhan investasi.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMS8wNy80LzE1NjM4My8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Faktor positif lain di tahun 2023 adalah indikator ekonomi yang  solid, dilihat dari belanja rumah tangga masyarakat Indonesia yang  stabil serta indikator stabilitas konsumsi diikuti dengan peningkatan  tingkat upah pekerja,&quot; jelas Pintor, Jumat (23/12/2022).
Sementara untuk tantangan di tahun depan, sebut Pintor, juga harus menjadi katalis dalam memperhitungkan pengambilan keputusan.
Tantangan pertama menyangkut risiko resesi global. Situasi tersebut  membuat otoritas moneter di sejumlah negara mengambil kebijakan moneter  ketat. Bank sentral global memutuskan untuk memperketat kebijakan  melalui tapering off dan menaikkan suku bunga sebagai implikasi lonjakan  inflasi dari pemulihan ekonomi.
&quot;Tantangan lain yang perlu diperhatikan bagi para investor adalah  krisis energi yang disebabkan oleh pasokan energi yang langka, tingginya  permintaan bahan bakar akibat musim dingin, dan ketidakpastian global  juga berpotensi menyebabkan gangguan pada rantai pasok,&quot; pungkasnya.
&quot;Sementara di bidang kesehatan, masih ada ketakutan munculnya varian  baru COVID-19, diikuti dengan tensi geopolitik global yang masih  meningkat, dan perubahan iklim yang ekstrem,&quot; tambahnya.
Sementara itu, sepanjang lima tahun terakhir, BEI telah mencatatkan  kinerja yang positif.  Seiring dengan isu resesi ekonomi global yang  dikemukakan berbagai lembaga keuangan dunia, kinerja Indeks Harga Saham  Gabungan (IHSG) justru mengalami penguatan secara tahun kalender (Year  To Date).Sejak awal tahun hingga 16 Desember 2022, IHSG tercatat mengalami   kenaikan sebesar 3,51% (YTD). Posisi ini lebih baik dibandingkan   mayoritas kinerja indeks di skala global. Lebih rinci, IHSG juga   berhasil mencapai level tertinggi atau all time high di level 7.318,02   pada 13 September 2022.  Sebelumnya, IHSG sempat mengalami kontraksi   hingga -5,09% (YOY) sepanjang tahun 2020.
Namun, pada tahun 2021, IHSG pulih dengan mencatatkan pertumbuhan   sebesar 10,08% (YOY). Hal ini dapat disimpulkan bahwa meskipun pasar   modal Indonesia sempat mengalami berbagai krisis, tidak membutuhkan   waktu yang lama bagi IHSG untuk kembali recover atau pulih mencatatkan   pertumbuhan.
Jika dilihat dari beberapa indikator lainnya, kinerja pasar modal   Indonesia masih mencerminkan kondisi yang kokoh dan positif. Hingga 16   Desember 2022, total kapitalisasi pasar mencapai Rp9.331 triliun,   meningkat dari kapitalisasi pasar tahun 2021 sebesar Rp8.256 triliun.   Sementara rata-rata nilai transaksi harian  tumbuh sebesar 11,3% (YTD)   menjadi Rp14,9 triliun.  Kemudian, rata-rata frekuensi harian pada   periode tersebut juga tumbuh 2,2% (YTD) menjadi 1,3 juta kali. Terakhir,   rata-rata volume harian juga tumbuh 17,0% (YTD) menjadi 24,1 miliar   saham.
BEI juga mencatat pertumbuhan perusahaan tercatat (listed companies)   atau emiten baru. Tercatat sebanyak 59 emiten baru sudah melantai di  BEI  sejak Januari sampai 16 Desember 2022.  Sejak 2018 hingga 2021,  jumlah  emiten baru secara konsisten berada di atas angka 50. Jika  dibandingkan  bursa-bursa di kawasan Asean, Indonesia mencatat  pertumbuhan jumlah  emiten terbesar dalam lima tahun terakhir. Jumlah  emiten tercatat di BEI  naik 44,9% dari 566 emiten pada tahun 2017,  menjadi 820 emiten hingga  akhir November 2022.
Indikator-indikator pertumbuhan yang baik ini akan memberikan   sentimen yang baik pula bagi para investor untuk menetapkan tujuan   investasi dan memperkirakan hasil di masa depan. Langkah yang baik dalam   memulai tahun yang baru akan memberikan hasil yang efektif pula   sepanjang tahun yang berjalan.</content:encoded></item></channel></rss>
