<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Siapa Pemilik Tolak Angin? Ini Orangnya yang Punya Harta Rp21 Triliun</title><description>Tolak angin menjadi obat herbal andalan orang Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/01/02/455/2738751/siapa-pemilik-tolak-angin-ini-orangnya-yang-punya-harta-rp21-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/01/02/455/2738751/siapa-pemilik-tolak-angin-ini-orangnya-yang-punya-harta-rp21-triliun"/><item><title>Siapa Pemilik Tolak Angin? Ini Orangnya yang Punya Harta Rp21 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/01/02/455/2738751/siapa-pemilik-tolak-angin-ini-orangnya-yang-punya-harta-rp21-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/01/02/455/2738751/siapa-pemilik-tolak-angin-ini-orangnya-yang-punya-harta-rp21-triliun</guid><pubDate>Senin 02 Januari 2023 20:05 WIB</pubDate><dc:creator>Clara Amelia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/01/02/455/2738751/siapa-pemilik-tolak-angin-ini-orangnya-yang-punya-harta-rp21-triliun-0qJNZKvE1a.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pemilik Tolak Angin (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/01/02/455/2738751/siapa-pemilik-tolak-angin-ini-orangnya-yang-punya-harta-rp21-triliun-0qJNZKvE1a.jpg</image><title>Pemilik Tolak Angin (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Siapa pemilik tolak angin. Tolak angin menjadi obat herbal andalan orang Indonesia.
Tolak angin merupakan herbal yang berfungsi untuk mengatasi masuk angin dengan gejala seperti pusing, badan kedinginan, meriang, mual, kembung serta terbukti meningkatkan daya tahan tubuh.
Tolak Angin diformulasikan pertama kali pada tahun 1930 dalam bentuk jamu, kemudian dikembangkan menjadi bentuk serbuk, tablet hingga cair. Demikian dilansir dari web resmi Tolak Angin https://tolakangin.co.id/, Senin (2/1/2023).
BACA JUGA:Tarif KRL Orang Kaya Jadi Rp15.000? Kemenhub Bahas dengan KAI

Sebagai herbal yang banyak digunakan dari berbagai kalangan, Tolak Angin mempunyai banyak varian, seperti Tolak Angin Bebas Gula, Tolak Angin Flu dan Tolak Angin Anak.
Produk tersebut diawali oleh pasangan pengusaha bernama Siem Thiam Hie dan Rakhmat Sulistio yang merupakan pemilik dari pemerah susu terbesar di Ambarawa, Melkrey.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8wMi80LzE1OTk0My8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Pasangan tersebut mulai meracik jamu pada tahun 1930. Jamu ini kemudian dijual dalam bentuk godokan/rebusan di Yogyakarta pada 1940.
BACA JUGA:5 Daerah Penghasil Orang Kaya di Jawa Barat

Dikarenakan peminatnya yang cukup banyak, akhirnya didirikan sebuah perusahaan bernama Sido Muncul di Semarang pada 1951.Kini Sido Muncul telah berkembang menjadi sebuah perusahaan jamu tradisional dan farmasi modern dengan menggunakan teknologi terkini dalam pembuatan jamunya.
Perusahaan ini memproduksi berbagai herbal yang sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat Indonesia, antara lain Kuku Bima, Tolak Angin, Permen Tolak Angin, dan masih banyak lagi.
Adapun cucu dari Rakhmat Sulistio, yaitu Irwan Hidayat menjadi salah satu penerus pemilik Sido Muncul.
Perusahaan ini pun mampu meraup keuntungan yang banyak. Diketahui, Irwan Hidayat dan keluarga masuk ke dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes, yakni di peringkat 30 dengan kekayaan USD1,35 miliar atau setara Rp21,02 triliun (kurs Rp15.570/USD).</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Siapa pemilik tolak angin. Tolak angin menjadi obat herbal andalan orang Indonesia.
Tolak angin merupakan herbal yang berfungsi untuk mengatasi masuk angin dengan gejala seperti pusing, badan kedinginan, meriang, mual, kembung serta terbukti meningkatkan daya tahan tubuh.
Tolak Angin diformulasikan pertama kali pada tahun 1930 dalam bentuk jamu, kemudian dikembangkan menjadi bentuk serbuk, tablet hingga cair. Demikian dilansir dari web resmi Tolak Angin https://tolakangin.co.id/, Senin (2/1/2023).
BACA JUGA:Tarif KRL Orang Kaya Jadi Rp15.000? Kemenhub Bahas dengan KAI

Sebagai herbal yang banyak digunakan dari berbagai kalangan, Tolak Angin mempunyai banyak varian, seperti Tolak Angin Bebas Gula, Tolak Angin Flu dan Tolak Angin Anak.
Produk tersebut diawali oleh pasangan pengusaha bernama Siem Thiam Hie dan Rakhmat Sulistio yang merupakan pemilik dari pemerah susu terbesar di Ambarawa, Melkrey.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8wMi80LzE1OTk0My8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Pasangan tersebut mulai meracik jamu pada tahun 1930. Jamu ini kemudian dijual dalam bentuk godokan/rebusan di Yogyakarta pada 1940.
BACA JUGA:5 Daerah Penghasil Orang Kaya di Jawa Barat

Dikarenakan peminatnya yang cukup banyak, akhirnya didirikan sebuah perusahaan bernama Sido Muncul di Semarang pada 1951.Kini Sido Muncul telah berkembang menjadi sebuah perusahaan jamu tradisional dan farmasi modern dengan menggunakan teknologi terkini dalam pembuatan jamunya.
Perusahaan ini memproduksi berbagai herbal yang sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat Indonesia, antara lain Kuku Bima, Tolak Angin, Permen Tolak Angin, dan masih banyak lagi.
Adapun cucu dari Rakhmat Sulistio, yaitu Irwan Hidayat menjadi salah satu penerus pemilik Sido Muncul.
Perusahaan ini pun mampu meraup keuntungan yang banyak. Diketahui, Irwan Hidayat dan keluarga masuk ke dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes, yakni di peringkat 30 dengan kekayaan USD1,35 miliar atau setara Rp21,02 triliun (kurs Rp15.570/USD).</content:encoded></item></channel></rss>
