<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekspor Pangan Olahan Naik 20% Sepanjang 2022</title><description>Ekspor pangan olahan mengalami kenaikan sebesar 20% sepanjang 2022.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/01/05/320/2740637/ekspor-pangan-olahan-naik-20-sepanjang-2022</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/01/05/320/2740637/ekspor-pangan-olahan-naik-20-sepanjang-2022"/><item><title>Ekspor Pangan Olahan Naik 20% Sepanjang 2022</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/01/05/320/2740637/ekspor-pangan-olahan-naik-20-sepanjang-2022</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/01/05/320/2740637/ekspor-pangan-olahan-naik-20-sepanjang-2022</guid><pubDate>Kamis 05 Januari 2023 12:50 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/01/05/320/2740637/ekspor-pangan-olahan-naik-20-sepanjang-2022-O0AF87kDCX.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ekspor makanan olahana naik (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/01/05/320/2740637/ekspor-pangan-olahan-naik-20-sepanjang-2022-O0AF87kDCX.jpg</image><title>Ekspor makanan olahana naik (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Ekspor pangan olahan mengalami kenaikan sebesar 20% sepanjang 2022. Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman mengatakan sepanjang tahun 2022 industri makanan dan minuman (mamin) mengalami pertumbuhan.
Menurutnya hal tersebut juga bisa dilihat dari sisi kinerja ekspor produk pangan olahan di luar sawit yang tercatat pada periode Januari - November 2022 tumbuh 20% jika dibandingkan dengan tahun 2021.
BACA JUGA:India Bakal Jadi Tujuan Ekspor RI, Ini Alasannya

&quot;Ekspor juga cukup meningkat, sampai November data yang kami terima mengalami peningkatan 20% untuk pangan olahan itu di luar sawit, kalau termasuk sawit tentunya lebih tinggi,&quot; ujar Adhi dalam Market Review IDXChannel, Kamis (5/1/2024).
Adhi menjelaskan, peningkatan tersebut juga dipengaruhi oleh adanya konflik Geopolitik, yang mana pasokan mamin di beberapa negara mengalami hambatan, dan industri Mamin Indonesia bisa masuk ke negara-negara yang terhambat rantai pasoknya.
BACA JUGA:Mendag Buat Ketentuan Asal Barang, Ekspor Makin Lancar dan Cepat 

&quot;Ini karena memang banyak peluang dari negara tujuan ekspor di mana banyak negara yang sebetulnya memasok, tetapi ada beberapa negara yang mengalami gangguan, sehingga ini menjadi Peluang untuk memenuhi hal tersebut,&quot; sambungnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMi8zMC80LzE1OTgyMS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Peningkatan kinerja ekspor tersebut juga mengerek kontribusinya  terhadap PDB industri non migas. Hingga kuartal III 2022 lalu kontribusi  Industri mamin terhadap PDB tembus Rp209,6 triliun.
&quot;Di samping itu (tahun 2022) kita juga banyak mengembangkan pasar  seperti di Timur Tengah, Afrika dan lain sebagainya, ini mendorong  pertumbuhan industri semakin membaik,&quot; lanjutnya.
Namun demikian menurut pertumbuhan industri Mamin ini bukan tanpa  tantangannya. Di satu sisi ada demand yang meningkat, namun ada masalah  di bottom line mengalami gangguan.
&quot;Tetapi memang kalau dari bottom line ini menjadi tantangan  sendirian, ada biaya logistik, energi, bahan baku, semua terjadi  kenaikan yang luar biasa, bahkan sering terjadi disruption dari sisi  logistik karena masalah gangguan geopolitik,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Ekspor pangan olahan mengalami kenaikan sebesar 20% sepanjang 2022. Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman mengatakan sepanjang tahun 2022 industri makanan dan minuman (mamin) mengalami pertumbuhan.
Menurutnya hal tersebut juga bisa dilihat dari sisi kinerja ekspor produk pangan olahan di luar sawit yang tercatat pada periode Januari - November 2022 tumbuh 20% jika dibandingkan dengan tahun 2021.
BACA JUGA:India Bakal Jadi Tujuan Ekspor RI, Ini Alasannya

&quot;Ekspor juga cukup meningkat, sampai November data yang kami terima mengalami peningkatan 20% untuk pangan olahan itu di luar sawit, kalau termasuk sawit tentunya lebih tinggi,&quot; ujar Adhi dalam Market Review IDXChannel, Kamis (5/1/2024).
Adhi menjelaskan, peningkatan tersebut juga dipengaruhi oleh adanya konflik Geopolitik, yang mana pasokan mamin di beberapa negara mengalami hambatan, dan industri Mamin Indonesia bisa masuk ke negara-negara yang terhambat rantai pasoknya.
BACA JUGA:Mendag Buat Ketentuan Asal Barang, Ekspor Makin Lancar dan Cepat 

&quot;Ini karena memang banyak peluang dari negara tujuan ekspor di mana banyak negara yang sebetulnya memasok, tetapi ada beberapa negara yang mengalami gangguan, sehingga ini menjadi Peluang untuk memenuhi hal tersebut,&quot; sambungnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMi8zMC80LzE1OTgyMS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Peningkatan kinerja ekspor tersebut juga mengerek kontribusinya  terhadap PDB industri non migas. Hingga kuartal III 2022 lalu kontribusi  Industri mamin terhadap PDB tembus Rp209,6 triliun.
&quot;Di samping itu (tahun 2022) kita juga banyak mengembangkan pasar  seperti di Timur Tengah, Afrika dan lain sebagainya, ini mendorong  pertumbuhan industri semakin membaik,&quot; lanjutnya.
Namun demikian menurut pertumbuhan industri Mamin ini bukan tanpa  tantangannya. Di satu sisi ada demand yang meningkat, namun ada masalah  di bottom line mengalami gangguan.
&quot;Tetapi memang kalau dari bottom line ini menjadi tantangan  sendirian, ada biaya logistik, energi, bahan baku, semua terjadi  kenaikan yang luar biasa, bahkan sering terjadi disruption dari sisi  logistik karena masalah gangguan geopolitik,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
