<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BRI Peduli Ubah Limbah Masker Jadi Pot Tanaman</title><description>Penggunaan masker sejak pandemi covid-19 menimbulkan masalah baru.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/01/11/320/2744492/bri-peduli-ubah-limbah-masker-jadi-pot-tanaman</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/01/11/320/2744492/bri-peduli-ubah-limbah-masker-jadi-pot-tanaman"/><item><title>BRI Peduli Ubah Limbah Masker Jadi Pot Tanaman</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/01/11/320/2744492/bri-peduli-ubah-limbah-masker-jadi-pot-tanaman</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/01/11/320/2744492/bri-peduli-ubah-limbah-masker-jadi-pot-tanaman</guid><pubDate>Rabu 11 Januari 2023 18:10 WIB</pubDate><dc:creator>Ramdani Bur</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/01/11/320/2744492/bri-peduli-ubah-limbah-masker-jadi-pot-tanaman-7sRgm37VNl.jpg" expression="full" type="image/jpeg">BRI ubah limbah masker jadi pot (Foto: BRI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/01/11/320/2744492/bri-peduli-ubah-limbah-masker-jadi-pot-tanaman-7sRgm37VNl.jpg</image><title>BRI ubah limbah masker jadi pot (Foto: BRI)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Penggunaan masker sejak pandemi covid-19 menimbulkan masalah baru. Terdapat penumpukan limbah dari masker yang sudah dipakai masyarakat selama pandemi covid-19.
Berawal dari menumpuknya limbah masker non-infeksius tersebut, BRI menginisiasi kegiatan &amp;ldquo;BRI Peduli Penanganan Limbah Masker Non Infeksius&amp;rdquo;. Kegiatan ini melibatkan setiap pekerja BRI di lingkungan kantor BRI seperti penyediaan fasilitas pengumpulan dan peralatan sterilisasi awal yang dapat memudahkan proses pengumpulan.
BACA JUGA:Wujudkan Pertumbuhan Berkelanjutan, BRI Perkuat Segmen Retail Banking

Tempat pengumpulan masker (Drop Box) diletakkan di area terbuka, dan untuk kegiatan monitoring ada petugas yang secara berkala mengecek drop box pengumpul masker. Lalu limbah masker tersebut dikirim ke tempat pengolahan bijih plastik yang menjadi lokasi pengolahan.
Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto mengungkapkan bahwa hal tersebut merupakan bentuk kepedulian BRI terhadap lingkungan.
BACA JUGA:BRI Buka Lowongan Kerja 2023, Cari Kandidat dengan Syarat Ini

&amp;ldquo;Sama seperti halnya sampah plastik lainnya, apabila tidak dikelola dengan benar, limbah masker juga dapat mencemari lingkungan. Kami mengajak pekerja BRI untuk peduli terhadap lingkungan dan menjaga keseimbangan alam&amp;rdquo;, ungkapnya, Rabu (11/1/2023).
Dalam pengolahan limbah masker, BRI menggandeng Yayasan Upakara Bhuvana Nusantara (UBN). Yayasan yang berdiri pada 2021 dan berlokasi di Kelurahan Baranangsiang, Kec Bogor Timur, Kota Bogor.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8wNi80LzE2MDI2OC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Sugeng Waluyo, pendiri Yayasan UBN mengungkapkan bahwa yayasan ini  pada awalnya bergerak di sektor pelestarian lingkungan. Namun, khusus  pada masa pandemi Covid-19 beralih haluan untuk mengolah limbah masker  non infeksius.
&amp;ldquo;Kalau limbah plastik lainnya kan orang sudah mulai mendaur ulang,  tapi khusus masker ini belum, tidak ada yang berani mengolahnya,  sedangkan masker itu terbuat dari plastik Polypropylene,&amp;rdquo; kata Sugeng.
Berdasarkan aturan Pemerintah, limbah masker terbagi menjadi dua.  Pertama, limbah masker yang infeksius yaitu yang berasal dari layanan  fasilitas kesehatan dari rumah sakit. Kelompok ini prosedurnya sudah  jelas dari Pemerintah bahwa limbah tersebut harus dimusnahkan karena  termasuk dalam limbah B3 (Bahan berbahaya dan beracun).
Kelompok kedua, yaitu limbah masker non infeksius yang berasal dari  masyarakat, itu dianggap sebagai limbah domestik prosedurnya boleh  dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Akibatnya, karena tidak ada pemulung yang berani mengambil limbah  masker non infeksius ini, dan mereka tidak tahu kalau masker berasal  dari plastik, sehingga limbah masker membludak dan tersebar kemana-mana,  bahkan ada yang ke laut. Padahal limbah masker memerlukan waktu yang  lama untuk hancur, sekitar 300 tahunan.
Seperti sampah plastik lainnya, apabila tidak dikelola dengan benar,  masker sekali pakai dapat mencemari lingkungan. Dalam proses mengurai  tersebut, limbah masker terlebih dahulu berubah menjadi  partikel-partikel kecil yang disebut sebagai nano plastik, dan ini  menjadi masalah sehingga dimakan ikan dan makhluk laut lainnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Penggunaan masker sejak pandemi covid-19 menimbulkan masalah baru. Terdapat penumpukan limbah dari masker yang sudah dipakai masyarakat selama pandemi covid-19.
Berawal dari menumpuknya limbah masker non-infeksius tersebut, BRI menginisiasi kegiatan &amp;ldquo;BRI Peduli Penanganan Limbah Masker Non Infeksius&amp;rdquo;. Kegiatan ini melibatkan setiap pekerja BRI di lingkungan kantor BRI seperti penyediaan fasilitas pengumpulan dan peralatan sterilisasi awal yang dapat memudahkan proses pengumpulan.
BACA JUGA:Wujudkan Pertumbuhan Berkelanjutan, BRI Perkuat Segmen Retail Banking

Tempat pengumpulan masker (Drop Box) diletakkan di area terbuka, dan untuk kegiatan monitoring ada petugas yang secara berkala mengecek drop box pengumpul masker. Lalu limbah masker tersebut dikirim ke tempat pengolahan bijih plastik yang menjadi lokasi pengolahan.
Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto mengungkapkan bahwa hal tersebut merupakan bentuk kepedulian BRI terhadap lingkungan.
BACA JUGA:BRI Buka Lowongan Kerja 2023, Cari Kandidat dengan Syarat Ini

&amp;ldquo;Sama seperti halnya sampah plastik lainnya, apabila tidak dikelola dengan benar, limbah masker juga dapat mencemari lingkungan. Kami mengajak pekerja BRI untuk peduli terhadap lingkungan dan menjaga keseimbangan alam&amp;rdquo;, ungkapnya, Rabu (11/1/2023).
Dalam pengolahan limbah masker, BRI menggandeng Yayasan Upakara Bhuvana Nusantara (UBN). Yayasan yang berdiri pada 2021 dan berlokasi di Kelurahan Baranangsiang, Kec Bogor Timur, Kota Bogor.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8wNi80LzE2MDI2OC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Sugeng Waluyo, pendiri Yayasan UBN mengungkapkan bahwa yayasan ini  pada awalnya bergerak di sektor pelestarian lingkungan. Namun, khusus  pada masa pandemi Covid-19 beralih haluan untuk mengolah limbah masker  non infeksius.
&amp;ldquo;Kalau limbah plastik lainnya kan orang sudah mulai mendaur ulang,  tapi khusus masker ini belum, tidak ada yang berani mengolahnya,  sedangkan masker itu terbuat dari plastik Polypropylene,&amp;rdquo; kata Sugeng.
Berdasarkan aturan Pemerintah, limbah masker terbagi menjadi dua.  Pertama, limbah masker yang infeksius yaitu yang berasal dari layanan  fasilitas kesehatan dari rumah sakit. Kelompok ini prosedurnya sudah  jelas dari Pemerintah bahwa limbah tersebut harus dimusnahkan karena  termasuk dalam limbah B3 (Bahan berbahaya dan beracun).
Kelompok kedua, yaitu limbah masker non infeksius yang berasal dari  masyarakat, itu dianggap sebagai limbah domestik prosedurnya boleh  dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Akibatnya, karena tidak ada pemulung yang berani mengambil limbah  masker non infeksius ini, dan mereka tidak tahu kalau masker berasal  dari plastik, sehingga limbah masker membludak dan tersebar kemana-mana,  bahkan ada yang ke laut. Padahal limbah masker memerlukan waktu yang  lama untuk hancur, sekitar 300 tahunan.
Seperti sampah plastik lainnya, apabila tidak dikelola dengan benar,  masker sekali pakai dapat mencemari lingkungan. Dalam proses mengurai  tersebut, limbah masker terlebih dahulu berubah menjadi  partikel-partikel kecil yang disebut sebagai nano plastik, dan ini  menjadi masalah sehingga dimakan ikan dan makhluk laut lainnya.</content:encoded></item></channel></rss>
