<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Produk Impor Jadi Biang Kerok PHK Massal Industri Tekstil</title><description>Banjir barang impor jadi biang kerok Pemutus Hubungan Kerja (PHK) massal industri tekstil.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/01/12/320/2744918/produk-impor-jadi-biang-kerok-phk-massal-industri-tekstil</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/01/12/320/2744918/produk-impor-jadi-biang-kerok-phk-massal-industri-tekstil"/><item><title>Produk Impor Jadi Biang Kerok PHK Massal Industri Tekstil</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/01/12/320/2744918/produk-impor-jadi-biang-kerok-phk-massal-industri-tekstil</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/01/12/320/2744918/produk-impor-jadi-biang-kerok-phk-massal-industri-tekstil</guid><pubDate>Kamis 12 Januari 2023 13:27 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/01/12/320/2744918/produk-impor-jadi-biang-kerok-phk-massal-industri-tekstil-LzWgkU7Yb1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Impor jadi penyebab phk massal (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/01/12/320/2744918/produk-impor-jadi-biang-kerok-phk-massal-industri-tekstil-LzWgkU7Yb1.jpg</image><title>Impor jadi penyebab phk massal (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Banjir produk impor jadi biang kerok Pemutus Hubungan Kerja (PHK) massal industri tekstil. Banyaknya barang impor membuat barang produsen tidak laku dipasaran.
Ketua Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSYFI) Redma Gita Wirawasta tidak lakunya barang yang dijual di pasar disebabkan karena barang impor sudah membanjiri pasar domestik.
BACA JUGA:Begini Nasib Pekerja PHK di Perppu Cipta Kerja

&quot;Kalau industri belum sehat (tekstil), tahun lalu pada triwulan I dan Ii masih bertumbuh cukup bagus. Sedangkan masuk kuartal III dan IV tahun 2022 lalu ketika pandemi mulai membaik kondisi industri justru memburuk dan sampai sekarang juga belum naik,&quot; ujar Redma dalam Market Review IDX Channel, Kamis (12/1/2022).
BACA JUGA:6 Fakta Skema Pesangon, Aturan PHK hingga Uang Lembur di Perppu Cipta Kerja

Redma menjelaskan, pada 2 kuartal penutup tahun lalu memang menjadi beban industri yang cukup berat. Karena maraknya barangnya produk dari luar yang membanjiri pasar domestik sehingga produsen membatasi produksi dan terjadinya PHK.
&quot;Masalahnya China, Bangladesh, Vietnam, punya kesulitan ekspor yang sama ke Amerika dan Eropa, jadi mencari market lain, dan market yang terbuka adalah Indonesia, jadi buang barang disana,&quot; sambungnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMi8xMy8xLzE1ODcxNS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Lebih lanjut, Redma mengungkapkan bahwa saat masih terjadi pandemi  Covid 19 pertumbuhan industri Serat dan Benang Filament Indonesia  (APSYFI) pada kuartal I dan II 2022 masih tumbuh sekitar 8-13%.
Menurutnya pertumbuhan itu dan sebabkan karena saat itu terjadi  kelangkaan kontainer dan terganggunya rantai pasok akibat pandemi covid  19. Hasilnya saat itu produk Indonesia sempat menguasai pangsa pasar  domestik.
&quot;Pasar domestik yang menentukan, karena kalau barang impor masih  banyak jadi utilitas kita turun, yang akhirnya ada perubahan karyawan  dan PHK,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Banjir produk impor jadi biang kerok Pemutus Hubungan Kerja (PHK) massal industri tekstil. Banyaknya barang impor membuat barang produsen tidak laku dipasaran.
Ketua Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSYFI) Redma Gita Wirawasta tidak lakunya barang yang dijual di pasar disebabkan karena barang impor sudah membanjiri pasar domestik.
BACA JUGA:Begini Nasib Pekerja PHK di Perppu Cipta Kerja

&quot;Kalau industri belum sehat (tekstil), tahun lalu pada triwulan I dan Ii masih bertumbuh cukup bagus. Sedangkan masuk kuartal III dan IV tahun 2022 lalu ketika pandemi mulai membaik kondisi industri justru memburuk dan sampai sekarang juga belum naik,&quot; ujar Redma dalam Market Review IDX Channel, Kamis (12/1/2022).
BACA JUGA:6 Fakta Skema Pesangon, Aturan PHK hingga Uang Lembur di Perppu Cipta Kerja

Redma menjelaskan, pada 2 kuartal penutup tahun lalu memang menjadi beban industri yang cukup berat. Karena maraknya barangnya produk dari luar yang membanjiri pasar domestik sehingga produsen membatasi produksi dan terjadinya PHK.
&quot;Masalahnya China, Bangladesh, Vietnam, punya kesulitan ekspor yang sama ke Amerika dan Eropa, jadi mencari market lain, dan market yang terbuka adalah Indonesia, jadi buang barang disana,&quot; sambungnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMi8xMy8xLzE1ODcxNS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Lebih lanjut, Redma mengungkapkan bahwa saat masih terjadi pandemi  Covid 19 pertumbuhan industri Serat dan Benang Filament Indonesia  (APSYFI) pada kuartal I dan II 2022 masih tumbuh sekitar 8-13%.
Menurutnya pertumbuhan itu dan sebabkan karena saat itu terjadi  kelangkaan kontainer dan terganggunya rantai pasok akibat pandemi covid  19. Hasilnya saat itu produk Indonesia sempat menguasai pangsa pasar  domestik.
&quot;Pasar domestik yang menentukan, karena kalau barang impor masih  banyak jadi utilitas kita turun, yang akhirnya ada perubahan karyawan  dan PHK,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
