<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ini Dia Biang Kerok PHK Massal Pabrik Tekstil</title><description>Banyaknya barang impor membuat produk milik produsen tidak lagi laku dipasaran.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/01/13/320/2745167/ini-dia-biang-kerok-phk-massal-pabrik-tekstil</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/01/13/320/2745167/ini-dia-biang-kerok-phk-massal-pabrik-tekstil"/><item><title>Ini Dia Biang Kerok PHK Massal Pabrik Tekstil</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/01/13/320/2745167/ini-dia-biang-kerok-phk-massal-pabrik-tekstil</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/01/13/320/2745167/ini-dia-biang-kerok-phk-massal-pabrik-tekstil</guid><pubDate>Jum'at 13 Januari 2023 04:16 WIB</pubDate><dc:creator>Fayha Afanin Ramadhanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/01/12/320/2745167/ini-dia-biang-kerok-phk-massal-pabrik-tekstil-TXH7wHWLYj.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Impor jadi penyebab phk massal (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/01/12/320/2745167/ini-dia-biang-kerok-phk-massal-pabrik-tekstil-TXH7wHWLYj.jpg</image><title>Impor jadi penyebab phk massal (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Banyaknya barang impor membuat produk milik produsen tidak lagi laku dipasaran. Hal ini menyebabkan terjadinya Pemutus Hubungan Kerja (PHK).
BACA JUGA:Curhat Pengusaha Tekstil: Ekspor Susah, Jualan Dalam Negeri Saingannya Produk Impor Ilegal

Tidak lakunya barang-barang di pasaran disebabkan karena barang impor yang sudah membanjiri pasar domestik. Hal ini dikatakan oleh Ketua Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSYFI) Redma Gita Wirawasta.
BACA JUGA:Tegas! Luhut Minta Goodie Bag Acara Kementerian Tak Pakai Produk Impor

&quot;Kalau industri belum sehat (tekstil), tahun lalu pada triwulan I dan II masih bertumbuh cukup bagus. Sedangkan masuk kuartal III dan IV tahun 2022 lalu ketika pandemi mulai membaik kondisi industri justru memburuk dan sampai sekarang juga belum naik,&quot; ujar Redma dalam Market Review IDX Channel, dikutip Okezone, Jumat (12/1/2023).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMi8xOS80LzE1OTA1Ny8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Redma menjelaskan, pada 2 kuartal penutup tahun lalu memang menjadi  beban industri yang cukup berat. Karena maraknya barangnya produk dari  luar yang membanjiri pasar domestik sehingga produsen membatasi produksi  dan terjadinya PHK.
&quot;Masalahnya China, Bangladesh, Vietnam, punya kesulitan ekspor yang  sama ke Amerika dan Eropa, jadi mencari market lain, dan market yang  terbuka adalah Indonesia, jadi buang barang disana,&quot; sambungnya.
Baca selengkapnya: Produk Impor Jadi Biang Kerok PHK Massal Industri Tekstil</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Banyaknya barang impor membuat produk milik produsen tidak lagi laku dipasaran. Hal ini menyebabkan terjadinya Pemutus Hubungan Kerja (PHK).
BACA JUGA:Curhat Pengusaha Tekstil: Ekspor Susah, Jualan Dalam Negeri Saingannya Produk Impor Ilegal

Tidak lakunya barang-barang di pasaran disebabkan karena barang impor yang sudah membanjiri pasar domestik. Hal ini dikatakan oleh Ketua Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSYFI) Redma Gita Wirawasta.
BACA JUGA:Tegas! Luhut Minta Goodie Bag Acara Kementerian Tak Pakai Produk Impor

&quot;Kalau industri belum sehat (tekstil), tahun lalu pada triwulan I dan II masih bertumbuh cukup bagus. Sedangkan masuk kuartal III dan IV tahun 2022 lalu ketika pandemi mulai membaik kondisi industri justru memburuk dan sampai sekarang juga belum naik,&quot; ujar Redma dalam Market Review IDX Channel, dikutip Okezone, Jumat (12/1/2023).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMi8xOS80LzE1OTA1Ny8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Redma menjelaskan, pada 2 kuartal penutup tahun lalu memang menjadi  beban industri yang cukup berat. Karena maraknya barangnya produk dari  luar yang membanjiri pasar domestik sehingga produsen membatasi produksi  dan terjadinya PHK.
&quot;Masalahnya China, Bangladesh, Vietnam, punya kesulitan ekspor yang  sama ke Amerika dan Eropa, jadi mencari market lain, dan market yang  terbuka adalah Indonesia, jadi buang barang disana,&quot; sambungnya.
Baca selengkapnya: Produk Impor Jadi Biang Kerok PHK Massal Industri Tekstil</content:encoded></item></channel></rss>
