<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Subsidi Energi Rp551 Triliun Jadi Penyangga Tingkat Kemiskinan RI</title><description>Keputusan pemerintah menaikkan subsidi energi menjadi Rp551 triliun menjadi faktor utama menjaga angka kemiskinan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/01/17/320/2747914/subsidi-energi-rp551-triliun-jadi-penyangga-tingkat-kemiskinan-ri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/01/17/320/2747914/subsidi-energi-rp551-triliun-jadi-penyangga-tingkat-kemiskinan-ri"/><item><title>Subsidi Energi Rp551 Triliun Jadi Penyangga Tingkat Kemiskinan RI</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/01/17/320/2747914/subsidi-energi-rp551-triliun-jadi-penyangga-tingkat-kemiskinan-ri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/01/17/320/2747914/subsidi-energi-rp551-triliun-jadi-penyangga-tingkat-kemiskinan-ri</guid><pubDate>Selasa 17 Januari 2023 14:25 WIB</pubDate><dc:creator>Atikah Umiyani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/01/17/320/2747914/subsidi-energi-rp551-triliun-jadi-penyangga-tingkat-kemiskinan-ri-DKug3WG7Ei.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Subsidi energi jaga angka kemiskinan (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/01/17/320/2747914/subsidi-energi-rp551-triliun-jadi-penyangga-tingkat-kemiskinan-ri-DKug3WG7Ei.jpg</image><title>Subsidi energi jaga angka kemiskinan (Foto: Freepik)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Keputusan pemerintah menaikkan subsidi energi menjadi Rp551 triliun menjadi faktor utama menjaga angka kemiskinan. Seperti diketahui, tingkat kemiskinan September 2022 tercatat sebesar 9,57% atau sebanyak 26,36 juta orang berada di bawah garis kemiskinan. Tingkat kemiskinan ini naik tipis dari Maret 2022 (9,54%) tetapi lebih rendah dibanding tingkat kemiskinan pada September 2021 (9,71%).
BACA JUGA:Komisi VII Sarankan Pemerintah Ubah Metode Subsidi Energi

Ambang batas garis kemiskinan pada September 2022 meningkat sebesar 5,95% menjadi Rp535.547 dari sebelumnya Rp505.468 pada Maret 2022.
&quot;Secara spasial, tingkat kemiskinan per September 2022 naik tipis baik di perkotaan maupun di perdesaan. Tingkat kemiskinan di perkotaan naik menjadi sebesar 7,53% (Maret 2022: 7,5%),&quot; jelas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu dalam keterangan resminya, Selasa (17/1/2023).
BACA JUGA:Subsidi Energi Bengkak, PLN: Kompor Induksi Hemat Anggaran hingga Rp85 Triliun

Sementara itu, persentase penduduk miskin di perdesaan juga mengalami kenaikan menjadi 12,36% (Maret 2022: 12,29%). Fabrio menerangkan, tahun 2022, perekonomian Indonesia dihadapkan pada tekanan inflasi yang bersumber dari peningkatan harga komoditas global, khususnya energi dan pangan, akibat perang di Ukraina.
Namun dibandingkan dengan banyak negara lainnya, seperti di USA dan negara-negara di Eropa yang mencatatkan rekor tertinggi dalam empat dekade terakhir, kenaikan inflasi di Indonesia jauh lebih moderat. Hal ini terutama karena peran krusial APBN sebagai peredam gejolak (shock absorber) inflasi global melalui mekanisme subsidi energi dan alokasi belanja stabilisasi harga pangan.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8xNS8xLzE2MDc5MS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Kenaikan tipis angka kemiskinan pada September 2022 terkait erat  dengan kenaikan inflasi bahan pangan, pada periode Juni, Juli, Agustus,  dan September, yang sempat mencapai puncaknya di 11,5% pada bulan Juli  2022,&quot; sambungnya.
Sementara itu, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia  (Rasio Gini) pada September 2022 tercatat sebesar 0,381, menurun 0,003  poin dari Maret 2022 (0,384). Penurunan Rasio Gini dipengaruhi oleh  penurunan ketimpangan di perkotaan dan perdesaan, yang masing-masing  menurun tipis 0,001 dari posisi Maret 2022.
&amp;ldquo;Upaya Pemerintah untuk mendorong inklusivitas pertumbuhan ekonomi  terlihat dari penurunan ketimpangan baik di perkotaan maupun perdesaan.  Bahkan, ketimpangan di perdesaan juga terus menunjukkan perbaikan  dibandingkan level prapandemi,&amp;rdquo; lanjut Febrio.
Dengan inflasi bahan pangan (volatile food) yang menunjukkan tren  penurunan signifikan dari September 2022 (9,0%, yoy) hingga Desember  2022 (5,6%, yoy), ke depan tingkat kemiskinan juga diperkirakan dapat  kembali menurun. Hal ini didukung pula dengan perbaikan kondisi  ketenagakerjaan, di mana Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada  Agustus 2022 meningkat mencapai 68,63%, hal ini akan mendorong perbaikan  pendapatan masyarakat.
&quot;Ke depan, Pemerintah perlu menjaga momentum penurunan inflasi dan  mengakselerasi realisasi belanja pada Triwulan 1 2023 untuk memperkuat  pertumbuhan ekonomi dan menurunkan angka kemiskinan,&amp;rdquo; tutup Febrio.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Keputusan pemerintah menaikkan subsidi energi menjadi Rp551 triliun menjadi faktor utama menjaga angka kemiskinan. Seperti diketahui, tingkat kemiskinan September 2022 tercatat sebesar 9,57% atau sebanyak 26,36 juta orang berada di bawah garis kemiskinan. Tingkat kemiskinan ini naik tipis dari Maret 2022 (9,54%) tetapi lebih rendah dibanding tingkat kemiskinan pada September 2021 (9,71%).
BACA JUGA:Komisi VII Sarankan Pemerintah Ubah Metode Subsidi Energi

Ambang batas garis kemiskinan pada September 2022 meningkat sebesar 5,95% menjadi Rp535.547 dari sebelumnya Rp505.468 pada Maret 2022.
&quot;Secara spasial, tingkat kemiskinan per September 2022 naik tipis baik di perkotaan maupun di perdesaan. Tingkat kemiskinan di perkotaan naik menjadi sebesar 7,53% (Maret 2022: 7,5%),&quot; jelas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu dalam keterangan resminya, Selasa (17/1/2023).
BACA JUGA:Subsidi Energi Bengkak, PLN: Kompor Induksi Hemat Anggaran hingga Rp85 Triliun

Sementara itu, persentase penduduk miskin di perdesaan juga mengalami kenaikan menjadi 12,36% (Maret 2022: 12,29%). Fabrio menerangkan, tahun 2022, perekonomian Indonesia dihadapkan pada tekanan inflasi yang bersumber dari peningkatan harga komoditas global, khususnya energi dan pangan, akibat perang di Ukraina.
Namun dibandingkan dengan banyak negara lainnya, seperti di USA dan negara-negara di Eropa yang mencatatkan rekor tertinggi dalam empat dekade terakhir, kenaikan inflasi di Indonesia jauh lebih moderat. Hal ini terutama karena peran krusial APBN sebagai peredam gejolak (shock absorber) inflasi global melalui mekanisme subsidi energi dan alokasi belanja stabilisasi harga pangan.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8xNS8xLzE2MDc5MS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Kenaikan tipis angka kemiskinan pada September 2022 terkait erat  dengan kenaikan inflasi bahan pangan, pada periode Juni, Juli, Agustus,  dan September, yang sempat mencapai puncaknya di 11,5% pada bulan Juli  2022,&quot; sambungnya.
Sementara itu, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia  (Rasio Gini) pada September 2022 tercatat sebesar 0,381, menurun 0,003  poin dari Maret 2022 (0,384). Penurunan Rasio Gini dipengaruhi oleh  penurunan ketimpangan di perkotaan dan perdesaan, yang masing-masing  menurun tipis 0,001 dari posisi Maret 2022.
&amp;ldquo;Upaya Pemerintah untuk mendorong inklusivitas pertumbuhan ekonomi  terlihat dari penurunan ketimpangan baik di perkotaan maupun perdesaan.  Bahkan, ketimpangan di perdesaan juga terus menunjukkan perbaikan  dibandingkan level prapandemi,&amp;rdquo; lanjut Febrio.
Dengan inflasi bahan pangan (volatile food) yang menunjukkan tren  penurunan signifikan dari September 2022 (9,0%, yoy) hingga Desember  2022 (5,6%, yoy), ke depan tingkat kemiskinan juga diperkirakan dapat  kembali menurun. Hal ini didukung pula dengan perbaikan kondisi  ketenagakerjaan, di mana Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada  Agustus 2022 meningkat mencapai 68,63%, hal ini akan mendorong perbaikan  pendapatan masyarakat.
&quot;Ke depan, Pemerintah perlu menjaga momentum penurunan inflasi dan  mengakselerasi realisasi belanja pada Triwulan 1 2023 untuk memperkuat  pertumbuhan ekonomi dan menurunkan angka kemiskinan,&amp;rdquo; tutup Febrio.</content:encoded></item></channel></rss>
