<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BI Diproyeksi Naikkan Suku Bunga, Bagaimana Nasib Saham Properti dan Otomotif?</title><description>Bank Indonesia (BI) diprediksi menaikkan tingkat suku bunga acuan sebesar 0,25% atau 25 basis poin (bps).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/01/19/278/2749339/bi-diproyeksi-naikkan-suku-bunga-bagaimana-nasib-saham-properti-dan-otomotif</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/01/19/278/2749339/bi-diproyeksi-naikkan-suku-bunga-bagaimana-nasib-saham-properti-dan-otomotif"/><item><title>BI Diproyeksi Naikkan Suku Bunga, Bagaimana Nasib Saham Properti dan Otomotif?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/01/19/278/2749339/bi-diproyeksi-naikkan-suku-bunga-bagaimana-nasib-saham-properti-dan-otomotif</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/01/19/278/2749339/bi-diproyeksi-naikkan-suku-bunga-bagaimana-nasib-saham-properti-dan-otomotif</guid><pubDate>Kamis 19 Januari 2023 14:28 WIB</pubDate><dc:creator>Cahya Puteri Abdi Rabbi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/01/19/278/2749339/bi-diproyeksi-naikkan-suku-bunga-bagaimana-nasib-saham-properti-dan-otomotif-To27dxTIU7.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pergerakan saham properti dan otomotif (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/01/19/278/2749339/bi-diproyeksi-naikkan-suku-bunga-bagaimana-nasib-saham-properti-dan-otomotif-To27dxTIU7.jpg</image><title>Pergerakan saham properti dan otomotif (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) diprediksi menaikkan tingkat suku bunga acuan sebesar 0,25% atau 25 basis poin (bps). Analis PT Kanaka Hita Solvera, Andhika Cipta Labora mengatakan, BI masih akan mengikuti kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed yang terus menaikkan suku bunga untuk mencapai target inflasi AS sebesar 2%.
&amp;ldquo;Sehingga untuk beberapa bulan ini The Fed masih akan menaikkan suku bunga, namun tidak terlalu agresif, hanya sekitar 25 basis poin,&amp;rdquo; kata Andhika dalam Market Buzz IDX Channel, Kamis (19/1/2023).
BACA JUGA:Suku Bunga Bank Indonesia Diprediksi Naik ke 6% di 2023

Perihal kenaikan suku bunga, sektor properti dan otomotif disebut sebagai sektor yang paling terdampak. Andhika menyebut, masyarakat akan menahan keinginannya untuk membeli rumah karena bunga kredit perumahan rakyat (KPR) akan ikut terkerek.
Menurutnya, masyarakat lebih mementingkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya ketimbang harus mencicil rumah. Hal tersebut tentu akan berdampak pada tingkat penjualan atau marketing sales perusahaan properti.
BACA JUGA:Gubernur BI Lantik 26 Pejabat Bank Indonesia, Ini Nama-namanya

Meski demikian, Andhika masih merekomendasikan saham di sektor properti dan otomotif untuk investasi jangka panjang karena harga yang masih murah. Sementara untuk para trader ia merekomendasikan untuk wait and see terlebih dahulu.
&amp;ldquo;Bisa lebih selektif dan memilih emiten yang rajin membagikan dividen, serta memiliki dividen pay out ratio besar, sehingga dividen yield yang diterima investor juga besar,&amp;rdquo; kata dia.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8wMi80LzE1OTk3OC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Andhika menilai, harga saham sektor properti dan otomotif yang masih  murah, juga musim pembagian dividen yang akan datang menjadi faktor  menarik untuk mempertimbangkan investasi jangka panjang di dua sektor  tersebut.
&amp;ldquo;Saya rekomendasikan investasi terlebih dahulu, buy on weakness.  Untuk  jangka panjang tentunya akan mendapatkan profit dari kenaikan  harga,&amp;rdquo; pungkas dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) diprediksi menaikkan tingkat suku bunga acuan sebesar 0,25% atau 25 basis poin (bps). Analis PT Kanaka Hita Solvera, Andhika Cipta Labora mengatakan, BI masih akan mengikuti kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed yang terus menaikkan suku bunga untuk mencapai target inflasi AS sebesar 2%.
&amp;ldquo;Sehingga untuk beberapa bulan ini The Fed masih akan menaikkan suku bunga, namun tidak terlalu agresif, hanya sekitar 25 basis poin,&amp;rdquo; kata Andhika dalam Market Buzz IDX Channel, Kamis (19/1/2023).
BACA JUGA:Suku Bunga Bank Indonesia Diprediksi Naik ke 6% di 2023

Perihal kenaikan suku bunga, sektor properti dan otomotif disebut sebagai sektor yang paling terdampak. Andhika menyebut, masyarakat akan menahan keinginannya untuk membeli rumah karena bunga kredit perumahan rakyat (KPR) akan ikut terkerek.
Menurutnya, masyarakat lebih mementingkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya ketimbang harus mencicil rumah. Hal tersebut tentu akan berdampak pada tingkat penjualan atau marketing sales perusahaan properti.
BACA JUGA:Gubernur BI Lantik 26 Pejabat Bank Indonesia, Ini Nama-namanya

Meski demikian, Andhika masih merekomendasikan saham di sektor properti dan otomotif untuk investasi jangka panjang karena harga yang masih murah. Sementara untuk para trader ia merekomendasikan untuk wait and see terlebih dahulu.
&amp;ldquo;Bisa lebih selektif dan memilih emiten yang rajin membagikan dividen, serta memiliki dividen pay out ratio besar, sehingga dividen yield yang diterima investor juga besar,&amp;rdquo; kata dia.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8wMi80LzE1OTk3OC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Andhika menilai, harga saham sektor properti dan otomotif yang masih  murah, juga musim pembagian dividen yang akan datang menjadi faktor  menarik untuk mempertimbangkan investasi jangka panjang di dua sektor  tersebut.
&amp;ldquo;Saya rekomendasikan investasi terlebih dahulu, buy on weakness.  Untuk  jangka panjang tentunya akan mendapatkan profit dari kenaikan  harga,&amp;rdquo; pungkas dia.</content:encoded></item></channel></rss>
